Aktivitas Kegempaan Gunung Tangkubanparahu Melonjak, Begini Penjelasan Badan Geologi 

Aktivitas kegempaan Gunung Tangkubanparahu mengalami lonjakan secara signifikan.

Aktivitas Kegempaan Gunung Tangkubanparahu Melonjak, Begini Penjelasan Badan Geologi 
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat kegempaan Gunung Tangkubanparahu itu sebanyak 13 kali gempa hembusan dan gempa low frekuensi hingga sebanyak 134 kali dalam 24 jam terakhir.

INILAHKORAN, Ngamprah - Aktivitas kegempaan Gunung Tangkubanparahu mengalami lonjakan secara signifikan.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat kegempaan Gunung Tangkubanparahu itu sebanyak 13 kali gempa hembusan dan gempa low frekuensi hingga sebanyak 134 kali dalam 24 jam terakhir.

Bahkan, berdasarkan data terbaru kegempaan Gunung Tangkubanparahu tercatat 37 kali gempa hembusan dan gempa low frekuensi hingga sebanyak 270 kali.

"Untuk aktivitas kegempaan Gunung Tangkubanparahu memang sedang meningkat khususnya gempa low frekuensi (LF) atau frekuensi rendah," kata Ketua Tim Kerja Gunungapi pada Badan Geologi Heruningtyas di Pos Pengamatan Gunungapi Tangkuban Parahu Cikole Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

"Biasanya kisaran di bawah 10, namun untuk frekuensi gempa sendiri itu kemarin 134 kali dan hari ini 270 kali, jadi meningkat sejak dua hari kemarin," sambungnya.

Kendati demikian, ungkap Heruningtyas, status Gunung Tangkubanparahu masih berada di Level I (Normal). Namun, pihaknya mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi letusan freatik Tangkuban Parahu lantaran gejalanya persis seperti kejadian 2019 lalu.

"Dari 2019 sampai saat ini, paling signifikan low frekuensi dan gempa hembusan, gejalanya sama. Peningkatan gempa LF dan hembusan," ungkapnya.

Heruningtyas menyebut, tim dari Badan Geologi bakal melakukan pengukuran gas vulkanik di Kawah Ratu dan menyampaikan data aktual aktivitas Gunung Tangkubanparahu

Menurutnya, evaluasi aktivitas gunung akan terus dilakukan secara berkala oleh PVMBG. 

"Untuk rekomendasi kita, karena yang paling aktif di Kawah Ratu dan itu juga bekas erupsi di tahun 2019 itu dari informasi pengamat memang belum ada peningkatan kolom ketinggian asap," sebutnya. 

"Tapi untuk sekarang imbauannya jangan terlalu lama beraktivitas di dekat kawah," ucapnya.

Sementara itu, Direktur Operasional TWA Gunung Tangkubanparahu Ruslan Kaban menyebut situasi di kawasan wisata masih dalam kondisi aman dan terkendali.

"Kondisinya masih normal, aktivitas hembusan masih dalam dalam batas aman. Walaupun ada peningkatan, kita lihat langsung di lapangan situasinya masih terkendali," kata Ruslan.

Ruslan menilai, aktivitas vulkanik yang naik turun adalah hal wajar gunung api aktif seperti Gunung Tangkubanparahu

Namun, untuk perasional di kawasan wisata tetap berjalan mengikuti prosedur standar keselamatan.

“Standar operasional tetap kami jalankan. Contohnya, kendaraan wisatawan wajib parkir menghadap keluar dari arah kawah agar memudahkan evakuasi bila diperlukan," ujarnya.

"Bahkan, kami juga terus berkoordinasi dengan pihak vulkanologi,” sambungnya.


Editor : Doni Ramdhani