Guru Besar Unpad: Kearifan Lokal Sunda Jadi Fondasi Kuat Konservasi Satwa Indonesia
Guru Besar Universitas Padjadjaran (Unpad), Ganjar Kurnia menegaskan nilai-nilai budaya Sunda dapat menjadi fondasi kuat dalam memperkuat konservasi satwa di In
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Guru Besar Universitas Padjadjaran (Unpad), Ganjar Kurnia menegaskan nilai-nilai budaya Sunda dapat menjadi fondasi kuat dalam memperkuat konservasi satwa di Indonesia.
Pendekatan ini memadukan kearifan lokal, ilmu pengetahuan, dan partisipasi aktif masyarakat demi menjaga kelestarian habitat.
Dalam keterangannya di Sumedang, Jawa Barat, Jumat (31/7), Ganjar menjelaskan bahwa upaya konservasi tidak hanya berfokus pada perlindungan satwa semata. Lebih dari itu, konservasi mencakup pemulihan habitat, penguatan kelembagaan masyarakat, serta penyediaan sumber penghidupan yang ramah lingkungan.
"Budaya bekerja melalui bahasa, cerita, pantangan (pamali), ritual, teladan tokoh masyarakat, tata ruang, mekanisme musyawarah, hingga pengetahuan lokal mengenai musim, air, tanah, tumbuhan, dan perilaku satwa," ujar Ganjar.
Ia menegaskan bahwa keempat unsur tersebut harus berjalan beriringan agar konservasi memberikan manfaat ekologis sekaligus sosial secara berkelanjutan.
Pendekatan berbasis budaya ini dinilai semakin mendesak di tengah meningkatnya ancaman terhadap keanekaragaman hayati Indonesia. Berdasarkan data kajian konservasi, terdapat 2.432 spesies yang berstatus terancam punah—terdiri dari 1.381 spesies tumbuhan, 554 mamalia, dan 395 burung.
Bahkan, laju kepunahan saat ini diperkirakan 100 hingga 1.000 kali lebih cepat dibandingkan laju kepunahan alami.
Ganjar menjelaskan, edukasi konservasi idealnya membawa masyarakat melampaui tahapan sekadar tahu. Tahapan tersebut meliputi Nyaho (tahu), Ngarti (mengerti), Bisa (mampu), Tuman (terbiasa), hingga akhirnya mencapai tahapan Ngajadi (menjadi karakter). Dengan demikian, kepedulian lingkungan tidak berhenti pada wawasan, melainkan melekat dalam kehidupan sehari-hari.
"Negara kita masih surplus di tahap Nyaho, tetapi masih butuh metode yang tepat agar masyarakat sampai ke tahap Ngajadi—kondisi ketika konservasi benar-benar menjadi bagian dari jati diri," tegasnya.
Ia menambahkan, nilai-nilai budaya perlu diterjemahkan ke dalam aksi nyata. Langkah tersebut dapat dilakukan melalui pengamatan satwa dan habitat, pemetaan kawasan, perlindungan sumber mata air, penanaman vegetasi lokal, penghentian jerat liar, hingga pelaporan perdagangan satwa ilegal.
Pelibatan institusi pendidikan seperti sekolah dan pesantren serta tokoh masyarakat juga dinilai krusial dalam mewariskan pengetahuan konservasi ini.
"Falsafah seperti Leuweung Hirup (hutan hidup), Urang Hurip (kita hidup), serta Miara Cai (memelihara air), Miara Hirup (memelihara kehidupan), dan kesadaran bahwa Satwa Liar Lain Piaraan (satwa liar bukan hewan peliharaan) harus terus dihidupkan. Nilai-nilai ini penting agar konservasi menjadi gerakan bersama," pungkas Ganjar.
Sinergi antara budaya, ilmu pengetahuan, dan kebijakan pemerintah dinilai menjadi strategi krusial dalam menghadapi periode 2026–2051—fase yang diproyeksikan sebagai periode penentu bagi masa depan keanekaragaman hayati Indonesia.
Editor : Ahmad Sayuti

