Mulasara, Abizar Machmud Perkuat Narasi Budaya lewat Media Digital
Pelestarian budaya tak lagi cukup mengandalkan ruang-ruang konvensional. Di tengah derasnya arus digital, tradisi membutuhkan cara baru agar tetap dikenal.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pelestarian budaya tak lagi cukup mengandalkan ruang-ruang konvensional. Di tengah derasnya arus digital, tradisi membutuhkan cara baru agar tetap dikenal, dipahami, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Hal itu menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam pameran seni kontemporer Mulasara di Puri Agung Pemecutan, Bali. Ketua Asosiasi Kreator Konten Jawa Barat Abizar Machmud turut hadir dalam agenda yang diinisiasi gerakan kemBALIkeSENI tersebut.
Bagi Abizar, pertemuan antara seniman, komunitas budaya, dan kreator konten menjadi penting karena media digital memiliki daya jangkau yang jauh lebih luas. Konten kreatif dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal kembali sejarah, tradisi, dan identitas budaya Nusantara.
Kehadiran Abizar dalam pameran tersebut juga merupakan bagian dari undangan yang digagas Founder kemBALIkeSENI, Victoria Titisari Kosasieputri, yang merupakan Puteri Indonesia Lingkungan 2026. Victoria dijadwalkan mewakili Indonesia dalam ajang Miss International 2026 pada Oktober mendatang.
Mulasara membawa gagasan tentang pentingnya kembali kepada akar budaya di tengah perubahan zaman. Secara etimologis, Mulasara merupakan perpaduan kata mula yang berarti asal dan sāra yang bermakna inti atau esensi.
Konsep tersebut diterjemahkan melalui karya seni kontemporer yang mengajak publik melihat kembali hubungan antara tradisi dan modernitas. Seni ditempatkan bukan sekadar sebagai karya visual, tetapi sebagai medium untuk membaca kembali identitas dan nilai yang menjadi akar kehidupan masyarakat.
"Mulasara lahir dari pertanyaan mendesak mengenai bagaimana tradisi dapat terus hidup berdampingan di tengah pesatnya modernisasi," ujar Abizar dalam keterangannya, Jumat (18/9/2026).
Pemilihan Puri Agung Pemecutan sebagai lokasi pameran turut mempertegas pesan tersebut. Pameran Mulasara digelar bertepatan dengan rangkaian peringatan 120 tahun Puputan Badung, sehingga seni kontemporer dipertemukan dengan ruang yang memiliki jejak sejarah kuat.
Puri kemudian tidak hanya diposisikan sebagai situs bersejarah, tetapi juga dihidupkan sebagai ruang publik bagi pertukaran gagasan seni dan budaya.
Perhelatan ini melibatkan kemBALIkeSENI, Kultura yang turut diwakili Ariz Maulanasyah, RupaBali, serta Puri Agung Pemecutan.
Abizar menilai, kolaborasi lintas komunitas tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya membutuhkan ekosistem yang lebih luas. Kreator konten memiliki peran untuk mengubah nilai dan cerita budaya menjadi narasi yang dapat diterima masyarakat digital, tanpa kehilangan substansinya.
"Melalui publikasi dan penguatan narasi di media digital, semangat pelestarian tradisi ini diharapkan dapat menjangkau audiens yang lebih luas, inklusif, dan lintas generasi," ucapnya.
Menurutnya, ruang digital dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk mengejar perhatian publik, tetapi juga memperkuat dokumentasi dan penyebaran pengetahuan mengenai kebudayaan.
Dengan pendekatan kreatif, tradisi memiliki peluang untuk hadir dalam keseharian generasi muda melalui berbagai format konten.
Sementara itu, Victoria menempatkan Mulasara sebagai bagian dari misi kebudayaan melalui program Beauties for SDGs. Agenda tersebut sekaligus menjadi bagian dari persiapan diplomasi budaya yang akan dibawanya menjelang keberangkatan ke Miss International 2026.
Pesan yang dibawa Mulsara pun menjadi semakin relevan, modernisasi tidak harus memutus hubungan masyarakat dengan akar budayanya. Justru melalui seni dan teknologi digital, nilai-nilai tradisi dapat dikemas kembali agar tetap memiliki ruang di tengah perubahan zaman.
Editor : Doni Ramdhani

