Ferdiansyah Dorong Generasi Muda Tasikmalaya Ubah Kekayaan Budaya Jadi Konten Digital
Kekayaan budaya daerah dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif berbasis digital, mulai dari film, lagu, hingga animasi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kekayaan budaya daerah dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi berbagai produk kreatif berbasis digital, mulai dari film, lagu, hingga animasi.
Pengembangan tersebut diharapkan dapat memperluas upaya pelestarian budaya sekaligus membuka peluang promosi pariwisata daerah.
Hal itu disampaikan Anggota Komisi X DPR Ferdiansyah saat menghadiri Workshop Pengembangan Kreativitas generasi muda melalui Budaya Digital di Hotel Horison Tasikmalaya, Minggu (25/10/2026).
Menurut Ferdiansyah, masyarakat saat ini sudah terbiasa menggunakan teknologi digital dalam kehidupan sehari-hari. Namun, pemanfaatan teknologi untuk mengolah dan memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui berbagai produk kreatif masih perlu didorong.
"Ini menarik, tentang namanya budaya digital. Kita sebenarnya sudah berbudaya digital. Cuma masalahnya bukan budaya digital yang diharapkan, yaitu mendigitalisasi budaya," kata Ferdiansyah.
Dia menjelaskan, berbagai gagasan yang bersumber dari kebudayaan Tasikmalaya maupun daerah lain di Indonesia dapat dikembangkan menjadi karya dengan beragam bentuk. Proses tersebut memungkinkan nilai dan identitas budaya lokal diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas melalui media digital.
"Lewat ide-ide budaya yang ada di Tasikmalaya maupun yang ada di seluruh Indonesia untuk dijadikan bermacam-macam hilirisasinya. Bisa film, bisa lagu, bisa mungkin animasi, dan seterusnya," ujarnya.
Ferdiansyah menambahkan, generasi muda perlu mendapatkan inspirasi sekaligus pemahaman mengenai tahapan pembuatan konten, termasuk penyusunan naskah atau skrip. Dengan demikian, digitalisasi budaya tidak berhenti pada penyebaran informasi, tetapi berlanjut menjadi karya kreatif yang dapat dimanfaatkan untuk pelestarian dan perlindungan kebudayaan.
"Jadi, yang harus ditekankan adalah kita sudah berbudaya digital, tapi belum melakukan digitalisasi budaya untuk konsumsi dalam rangka pelestarian, perlindungan budaya," tuturnya.
Narasi Wisata Lokal Perlu Dikemas Lebih Menarik
Selain mendorong pelestarian budaya, Ferdiansyah melihat digitalisasi sebagai peluang untuk memperkenalkan potensi pariwisata Tasikmalaya. Menurutnya, kekayaan lokal dapat menjadi materi konten yang menarik apabila dikemas melalui narasi yang tepat.
Dia menilai, pengembangan promosi wisata tidak cukup hanya mengandalkan keberadaan destinasi. Penyusunan cerita mengenai keunikan suatu tempat juga perlu mendapat perhatian agar informasi yang disampaikan mampu menarik minat masyarakat.
"Kalau potensi dalam konteks yang arahnya, misalnya di antaranya wisata ya tinggal pengemasannya. Kelemahan kita, termasuk saya juga. Kita kurang melakukan kurasi terhadap narasi-narasi daerah tujuan wisata," ungkapnya.
Ferdiansyah juga mengingatkan bahwa potensi wisata tidak terbatas pada tempat atau destinasi tertentu. Kuliner khas daerah juga merupakan bagian dari kekayaan lokal yang dapat diangkat sebagai materi promosi melalui platform digital.
"Dalam tujuan wisata, jangan diartikan harus daerah, tapi juga kuliner," katanya.
Untuk itu, dia menekankan pentingnya proses kurasi untuk menghasilkan narasi promosi yang lebih terarah dan menarik. Melalui pengemasan cerita yang baik, budaya, kuliner, dan potensi wisata lokal diharapkan dapat menjangkau khalayak lebih luas.
"Kita harus membuat narasi-narasi tentu melalui kurasi, supaya juga melakukan promosi," pungkasnya.
Workshop tersebut turut dihadiri Direktur Pengembangan Budaya Digital Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Insan Abdirrohman. Kegiatan ini mengangkat pengembangan kreativitas generasi muda melalui pemanfaatan budaya digital.
Editor : Doni Ramdhani
