Bandung Raya Mulai Masuki Peralihan Musim, BMKG Prediksi Hujan hingga Akhir Oktober

Cuaca di Bandung Raya mulai menunjukkan tanda-tanda peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan, seiring hujan yang terjadi pada beberapa hari terakhir. 

Bandung Raya Mulai Masuki Peralihan Musim, BMKG Prediksi Hujan hingga Akhir Oktober
BMKG Stasiun Bandung memprakirakan, hujan masih berpotensi mengguyur sejumlah wilayah hingga akhir Oktober 2026. (ilustrasi)

INILAHKORAN.ID - Cuaca di Bandung Raya mulai menunjukkan tanda-tanda peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan, seiring hujan yang terjadi pada beberapa hari terakhir. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Bandung memprakirakan, hujan masih berpotensi mengguyur sejumlah wilayah hingga akhir Oktober 2026.

Prakirawan Cuaca dan Iklim BMKG Stasiun Bandung Muhamad Iid Mujtahiddin mengatakan, kondisi atmosfer saat ini mulai mendukung pertumbuhan awan hujan, meskipun intensitas dan sebarannya belum merata di seluruh Jawa Barat. 

Kondisi tersebut menjelaskan fenomena hujan yang mengguyur Bandung Raya dalam beberapa hari terakhir, terutama pada sore hari, meski suhu udara masih terasa panas pada siang hari.

"Ya, bisa dibilang kurang lebih peralihan," kata Iid saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Minggu (25/10/2026).

Menurut dia, potensi pertumbuhan awan hujan terpantau di sejumlah wilayah, antara lain Sukabumi, Cianjur, Garut, Bandung, hingga Priangan Timur.

Kelembapan udara yang cukup mendukung pada lapisan atmosfer sekitar 700 milibar, disertai kondisi atmosfer yang labil, turut meningkatkan peluang terbentuknya awan hujan.

"Memang cukup konvektif ya, kondisi labilitas atmosfernya. Sehingga ini juga menambah pada pertumbuhan awan hujannya cukup di situ," ujarnya.

Meski demikian, hujan belum tentu turun setiap hari. Pola angin yang masih didominasi pergerakan dari timur dan tenggara menuju barat hingga barat daya membuat kondisi cuaca di Jawa Barat masih berfluktuasi.

BMKG memperkirakan, potensi hujan di Bandung Raya masih bertahan hingga penghujung Oktober. Namun, masyarakat perlu memahami bahwa meningkatnya peluang hujan belum berarti seluruh wilayah telah resmi memasuki musim hujan.

Awal Musim Hujan Bandung Raya Diprediksi November

Iid menjelaskan, awal musim hujan di Jawa Barat diprakirakan berlangsung secara bertahap. Sebagian besar wilayah diprediksi mulai memasuki musim hujan pada November 2026, termasuk Bandung Raya.

Khusus Bandung Raya, awal musim hujan diperkirakan terjadi pada dasarian II November atau periode 11-20 November 2026.

Namun, sejumlah wilayah Kabupaten Bandung diprediksi lebih dahulu memasuki musim hujan. Kawasan yang berbatasan dengan Cianjur diprakirakan mulai mengalami awal musim hujan pada Oktober 2026.

Begitu pula Kabupaten Bandung bagian selatan dan sebagian wilayah timur, yang berbatasan dengan Garut. Wilayah tersebut diprediksi memasuki awal musim hujan pada dasarian III Oktober atau periode 21-31 Oktober 2026.

Perbedaan waktu tersebut menunjukkan bahwa kondisi cuaca di Jawa Barat tidak dapat disamaratakan. Karakteristik geografis dan dinamika atmosfer turut memengaruhi waktu dimulainya musim hujan di setiap wilayah.

Iid menegaskan, peralihan musim juga tidak ditentukan hanya berdasarkan satu atau dua kejadian hujan. BMKG menggunakan kriteria curah hujan dalam periode pengamatan untuk mengidentifikasi awal musim hujan.

"Nilai jumlah curah hujannya di atas 150 dalam tiga dasarian. Itu mendekati di peralihan," tuturnya.

Suhu Bandung Sempat Mencapai 36,8 Derajat Celsius

Di tengah meningkatnya potensi hujan, suhu udara di Bandung justru sempat mencapai 36,8 derajat Celsius pada 21 Oktober 2026.

Iid menyebut tingginya suhu tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari karakteristik iklim pada Oktober, posisi semu Matahari yang berada di sekitar Pulau Jawa, hingga minimnya curah hujan pada awal bulan.

Fenomena El Nino juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi curah hujan dan berpotensi mengurangi hujan di sejumlah wilayah.

Minimnya curah hujan, membuat kelembapan udara relatif kering sehingga suhu udara dapat meningkat. Kondisi ini menyebabkan cuaca panas masih dapat terjadi, meskipun hujan mulai turun di beberapa kawasan.

Selain faktor musiman, Iid mengingatkan adanya tren kenaikan suhu udara dalam jangka panjang akibat perubahan iklim.

"Menandakan bahwa kita mengalami tren perubahan atau kenaikan suhu jangka panjang dan memang dari tahun-tahun itu selalu naik. Suhu udara itu baik suhu udara rata-rata, minimum maupun maksimum selalu naik akibat perubahan iklim," katanya.

Warga Diminta Bersiap Hadapi Musim Hujan

Menghadapi peralihan musim, BMKG mengimbau masyarakat mulai melakukan langkah antisipasi untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.

Salah satunya dengan membersihkan saluran air agar tidak tersumbat sampah ketika hujan mulai meningkat. Langkah ini penting untuk mengurangi risiko genangan di lingkungan permukiman.

Masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan juga diminta mewaspadai potensi pergerakan tanah setelah melewati periode kemarau. Warga perlu segera melaporkan apabila menemukan retakan pada tebing atau tanda-tanda lain yang mengindikasikan pergerakan tanah.

Di sisi lain, ancaman kebakaran lahan masih perlu diantisipasi, terutama di wilayah utara Jawa Barat yang diprediksi lebih lambat memasuki musim hujan.

Menurut Iid, wilayah selatan dan tengah Jawa Barat umumnya memasuki musim hujan lebih dahulu dibandingkan wilayah utara. Karena itu, kawasan yang masih mengalami kondisi kering harus tetap waspada terhadap potensi kebakaran lahan.

Masyarakat diimbau tidak terkecoh oleh hujan yang mulai turun di sejumlah daerah. Selama masa peralihan, cuaca dapat berubah-ubah sehingga kesiapsiagaan menghadapi hujan maupun kondisi kering tetap diperlukan.


Editor : Doni Ramdhani