Guru Honorer Ini Digaji Rp500 Ribu per Bulan, Minta Perhatian Mendikbud

Menjadi seorang guru bukan hanya soal urusan perut belaka, melainkan panggilan jiwa untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Guru Honorer Ini Digaji Rp500 Ribu per Bulan, Minta Perhatian Mendikbud

INILAH, Bandung- Menjadi seorang guru bukan hanya soal urusan perut belaka, melainkan panggilan jiwa untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Meski hanya diupah antara Rp 300 hinga Rp 500 ribu perbulan, masih ada ribuan orang guru honorer di Kabupaten Bandung yang setia pada profesinya sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Amar Irmawan (55) salah satunya, pria yang sehari hari mengajar di kelas 4 SDN Cisalak Desa Jatisari Kecamatan Cangkuang Kabupaten Bandung ini telah mengabdi sebagai pendidik selama kurang lebih 17 tahun. Setiap bulan ia hanya menerima upah sebesar Rp 500 ribu.

Meski nilainya tak seberapa, ia tetap menjalani profesinya itu dengan setia.  Karena upahnya dari mengajar tak besar, maka ia harus pintar pintar mencari peluang usaha untuk tambahan biaya hidup ia dan keluarganya.

"Alhamdulilah meskipun upah dari ngajar bisa dibilang kecil tapi saya dan kawan kawan yang masih honorer tetap semangat dan mengajar dengan ikhlas. Nah untuk memenuhi kebutuhan sehari hari, yah cari usaha tambahan, kalau saya di rumah istri buka warung. Kalau yang lain ada juga yang ngojek atau kerja sampingan lainnya," kata Amar melalui sambungan telepon usai melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPRRI di Jakarta, Senin (25/11/2019).

Menurut Amar, saat ini jumlah guru honorer di Kabupaten Bandung kurang lebih sebanyak 15 ribuan orang. Mereka tersebar di sekolah negeri baik tingkat SD maupun SMP. Kata dia, meski tenaga mereka sebagai pengajar sangat dibutuhkan, namun upah yang mereka terima masih jauh dari layak.  Upah guru honorer ini dibayar 15 persen dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). 

"Kalau besaran dana BOS kan sesuai dengan jumlah siswa. Kalau siswanya banyak, dana BOS nya besar. Kalau siswanya sedikit yah dana BOS yang diterima sekolah tersebut juga kecil dan itu 15 persennya untuk upah semua guru honorer yang ada di sekolah tersebut," ujarnya. 

Saat ini, lanjut Amar ia bersama rekan rekan sesama tenaga honorer yang masuk dalam Katagori 2 (K2) tengah memperjuangkan revisi Undang Undang tahun 2014 tentang ASN kepada DPRRI.

Harapannya Pemerintah dan DPRRI merevisi beberapa pasal di dalamnya dan mengakomodir mereka para pegawai pemerintah non PNS yang tidak masuk dalam P3K. Paling tidak para tenaga honorer ini bisa mendapatkan hak kesejahteraan yang layak.

"Selama ini kami mengabdi pada negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Walaupun dengan kondisi seadanya tetap melaksanakan kewajiban. Sekarang kami menuntut negara untuk memerhatikan juga nasib para guru honorer sesuai dengam UU Ketenaga Kerjaan, UU HAM untuk mendapatkan hak atau penghidupan yang layak," ujarnya.

Disinggung mengyanai sosok Mendikbud Nadim Anwar Makarim yang mencuri banyak perhatian publik, khususnya dunia pendidikan nasional. Sebagai guru honorer tentu berharap banyak pada mantan bos perusahaan ojek daring tersebut. Ia berharap Mendikbud baru tak hanya membawa perubahan pada sistem pengajarannya saja. Akan tetapi memperbaiki juga upah para guru honorer seperti dirinya.

"Kami sangat antusias dengan pidato pak Mendikbud pada Hari Guru Nasional ini. Karena memang benar kami sebagai guru lebih banyak disibukan dengan masalah administratif, penilaian yang kaku. Saya setuju harus dirubah, tapi selain itu perhatikan juga dong nasib kami sebagai guru yang upahnya masih jauh dari layak," katanya. (rd dani r nugraha).


Editor : Bsafaat