Himpun 190 UMKM, IKA ISMEI Dorong Pelaku Usaha Jabar Naik Kelas

Sebanyak 190 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Jawa Barat dihimpun IKA ISMEI untuk didorong mengakses pembiayaan KUR sekaligus pendampingan.

Himpun 190 UMKM, IKA ISMEI Dorong Pelaku Usaha Jabar Naik Kelas
(kiri-kanan) Utusan Khusus Presiden Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif, dan Digital Ahmad Ridha Sabana dan Ketua Umum IKA ISMEI, Bahtiar Sebayang usai Talkshow Grow Up UMKM Indonesia bertajuk Melalui Inovasi dan Transformasi Digital untuk Mewujudkan Ekonomi Berkelanjutan, di Aula Rektorat Universitas Pasundan, Tamansari, Kota Bandung, Jumat (9/10/2026). (yuliantono)

INILAHKORAN.ID - Sebanyak 190 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Jawa Barat dihimpun Ikatan Keluarga Alumni Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi Indonesia (IKA ISMEI), untuk didorong mengakses pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR), sekaligus mendapatkan pendampingan usaha.

Upaya tersebut ditindaklanjuti melalui penandatanganan kerja sama IKA ISMEI dengan Kementerian UMKM, dalam rangkaian talkshow Grow Up UMKM Indonesia bertajuk Melalui Inovasi dan Transformasi Digital untuk Mewujudkan Ekonomi Berkelanjutan, di Aula Rektorat Universitas Pasundan, Tamansari, Kota Bandung, Jumat (9/10/2026).

Ketua Umum IKA ISMEI, Bahtiar Sebayang mengatakan, kolaborasi tersebut mencakup penghimpunan calon penerima KUR, proses verifikasi sesuai ketentuan, hingga pendampingan agar usaha penerima pembiayaan dapat berkembang.

“Yang pasti menghimpun, kemudian melakukan verifikasi. Tentu verifikatornya nanti ada di Kementerian UMKM, tapi kami akan bekerja sama dari mulai rekrutmen, kemudian filter, sampai dia memang layak sesuai dengan regulasi yang sudah ditetapkan untuk bisa mendapatkan bantuan KUR dari Himbara,” kata Bahtiar.

Ia menegaskan, proses penghimpunan 190 UMKM tersebut masih berlangsung. Dengan demikian, jumlah itu belum mencerminkan pelaku usaha yang seluruhnya telah lolos verifikasi maupun dipastikan menerima KUR.

“Sekarang ini yang sudah terhimpun di kita itu ada sekitar 190 UMKM itu di daerah seputar wilayah Jawa Barat saja. Nah, itulah makanya kita buat kegiatan ini di Universitas Pasundan,” ujarnya.

Menurut Bahtiar, pendampingan diperlukan agar pembiayaan yang diterima pelaku usaha tidak hanya menambah modal, tetapi juga berdampak terhadap keberlanjutan bisnis dan kemampuan memenuhi kewajiban pembayaran.

“Dan bukan cuma di situ saja, kerja sama kami ini juga terhadap para pelaku UMKM yang terhimpun itu juga soal pendampingan. Nah, bagaimana harapannya para pihak yang mendapatkan bantuan KUR ini bisa bayar lancar, usahanya juga tentu kita harapkan semakin berkembang dan maju,” tuturnya.

Bahtiar menilai, tantangan UMKM untuk naik kelas masih berkaitan dengan keterbatasan akses pasar, pembiayaan, dan pemenuhan legalitas usaha. Persoalan perizinan dan sertifikasi juga perlu ditangani agar pelaku usaha memiliki kapasitas lebih kuat untuk memperluas pasar.

“Ya, saya kira kendalanya ya yang paling umum adalah tentu akses, akses kemudian pasar, pembiayaan, kemudian tentu mungkin soal-soal legalitas, ya, karena urusan izin, apakah sertifikasi, macam-macam. Nah, inilah yang harus kita carikan jalan keluarnya,” katanya.

Ia menekankan, dukungan terhadap UMKM, terutama usaha mikro, tidak cukup hanya melalui penyaluran modal. Penguatan pengetahuan, penguasaan teknologi, dan akses pasar juga diperlukan agar produk lokal mampu bersaing di tengah kompetisi global.

Bahtiar turut mengapresiasi perhatian pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terhadap sektor UMKM. Ia berharap, sinergi dengan Kementerian UMKM dan Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dapat memperluas kesempatan pelaku usaha memperoleh pembiayaan sekaligus meningkatkan kapasitas bisnis.

Selain mendorong UMKM naik kelas, IKA ISMEI mengusulkan pembentukan pusat inkubasi bisnis di kampus. Program tersebut diarahkan untuk memberi ruang bagi mahasiswa mengembangkan jiwa kewirausahaan sembari menjalani pendidikan.

“Alhamdulillah kemarin kami juga sudah ketemu melalui satu buah audiensi. Kami juga mendorong sama-sama bagaimana ada hub atau pusat inkubasi bisnis di kampus. Nah itu, ini kami dedikasikan buat teman-teman mahasiswa yang bisa mengikuti civitas akademika, kuliah sambil juga belajar menjadi pengusaha muda atau pengusaha pemula. Saya kira itu concern kami ke depan, mudah-mudahan ini bisa terealisasi,” ungkapnya.

Bahtiar juga berharap Utusan Khusus Presiden Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif, dan Digital Ahmad Ridha Sabana turut mengawal penyelesaian persoalan yang menghambat perkembangan UMKM.

Melalui kolaborasi pemerintah, organisasi alumni, dan perguruan tinggi, IKA ISMEI berharap dukungan bagi pelaku usaha dapat menjangkau lebih dari aspek pembiayaan, sehingga UMKM mampu tumbuh, berkembang, dan meningkatkan daya saing secara berkelanjutan.


Editor : Doni Ramdhani