Imbas Gempa dengan Magnitudo 1,8 pada 14 Agustus 2025, Potensi Bencana Sesar Lembang Ancam Bandung Raya
Kamis, 14 Agustus 2025 sekitar pukul 16.13 WIB, potensi bencana Sesar atau Patahan Lembang mengancam wilayah Bandung Raya akibat adanya aktivitas kegempaan dengan magnitudo 1,8.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Kamis, 14 Agustus 2025 sekitar pukul 16.13 WIB, potensi bencana Sesar atau Patahan Lembang mengancam wilayah Bandung Raya akibat adanya aktivitas kegempaan dengan magnitudo 1,8.
Kepala Pusat gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengatakan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya.
"gempa yang terjadi merupakan jenis gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake) yang dipicu aktivitas Sesar Lembang Segmen Cimeta," kata Daryono.
Sementara itu, BPBD Kabupaten Bandung Barat (KBB) menerima laporan bahwa gempa tersebut dirasakan di sejumlah tempat, yakni Desa Pasirlangu, Tugumukti, dan Pasirhalang yang semuanya ada di wilayah Kecamatan Cisarua.
Berdasarkan sejarahnya, pada tahun 2011 aktivitas gempa Sesar Lembang dengan magnitudo 3,3 sempat menimbulkan kerusakan di Kampung Muril, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua.
Menanggapi hal itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat memanggil Pemkab Bandung Barat untuk membahas soal potensi bencana yang ditimbulkan. Pasalnya, gempa Sesar Lembang bisa terjadi kapanpun tanpa ada pemberitahuan.
Sementara di media sosial ramai narasi yang menyebutkan pemerintah sedang mendata masyarakat di garis Sesar Lembang yang membentang sepanjang 29 kilometer dari Cilengkrang, Kabupaten Bandung ke Padalarang, KBB.
"Minggu kemarin, ada rapat di Pemprov Jabar kaitan dengan Sesar Lembang. Jadi soal itu (pendataan warga) memang kaitannya dengan penyusunan peta tematik dampak gempa," kata Sekretaris Daerah (Sekda) KBB, Ade Zakir Hasyim, Selasa 19 Agustus 2025.
Ade menjelaskan, dengan mengacu pada data yang dikumpulkan petugas tersebut, nantinya bisa disusun manajemen kebencanaan, pra-kebencanaan, hingga pasca-kebencanaan sebagai langkah mitigasi potensi Sesar Lembang.
"Sebenarnya bagian dari mitigasi bencana Sesar Lembang ini, bukan cuma daerah tapi juga provinsi sudah mengambil inisiatif," jelasnya.
Sebetulnya, ungkap Ade, BPBD KBB sudah menyusun rencana kontijensi yang juga menitikberatkan pada langkah mitigasi Sesar Lembang. Di dalam dokumen tersebut, sudah diskenariokan kemana dan bagaimana evakuasi warga ketika Sesar Lembang terjadi.
"Tentunya ada penyesuaian untuk dokumen renkon karena gempa ini, ketika bicara Sesar Lembang, dampaknya tidak hanya di KBB, tapi meliputi Kota Bandung, Cimahi, Kabupaten Bandung atau yang disebut Cekungan Bandung," ungkapnya.
Kendati begitu, dirinya menyayangkan di tengah ancaman bencana Sesar Lembang, Bandung Barat belum punya Early Warning System (EWS).
Namun, pihaknya tak kehabisan akal, yakni dengan memperbanyak sosialisasi dan mitigasi.
"Sampai saat ini KBB belum ada, tapi memang kita selalu mengingatkan sosialisasi, ke anak anak sekolah, jalur jalur ke luar ruangan, tiap tahun kita sosialisasi," ujarnya.
Dikatakan Ade, kewaspadaan terhadap potensi Sesar Lembang mesti ditingkatkan. Namun, bukan berarti pemerintah menakut-takuti masyarakat, sosialisasi dan edukasi terkait bencana tersebut mesti dilakukan terus menerus.
"Ini selalu kita waspadai, bahwa gempa itu nyata ada. Daripada kita khawatir atau menganggap menakut-takuti, lebih baik kita bersiap ada gempa dan masyarakat sudah paham manakala terjadi gempa," bebernya.
Terpisah, Kepala Pelaksana BPBD KBB, Meidi menyebut, titik nol Sesar Lembang sendiri setelah dikaji berada di kawasan Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, hingga Padalarang dengan panjang 29,5 kilometer.
"Atas dasar data yang ada, itu (Sesar Lembang) tetap bergerak ke kiri dan ke kanan serta ke dalam. Dari data itu juga, Sesar Lembang bisa terjadi kapan saja," kata Meidi.
Oleh karena itu, pihaknya meminta masyarakat untuk waspada namun bukan berarti terlalu ketakutan. Menurutnya, masyarakat mesti memahami potensi bencana agar bisa menindaklanjuti dengan mitigasi.
"Masyarakat boleh takut, tapi mohon dengan sangat, jangan ketakutan. Kita bekerjasama meminimalisir dampak kegempaan yang ditimbulkan," ujarnya.***
Editor : JakaPermana


