Indahnya, Tarian Ribuan Penari Dalam BIDC 2019
Bandung Internasional Dance Competition (BIDC) 2019 telah menyelesaikan tahap akhir pada Minggu (3/11/2019) di Gedung Administrasi Pusat lantai 8, Universitas Kristen Maranatha, Jalan Surya Sumantri, Kota Bandung. Ribuan penari tersebut berkompetisi selama tiga hari, mulai 31 oktober hingga 3 november 2019.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Bandung Internasional Dance Competition (BIDC) 2019 telah menyelesaikan tahap akhir pada Minggu (3/11/2019) di Gedung Administrasi Pusat lantai 8, Universitas Kristen Maranatha, Jalan Surya Sumantri, Kota Bandung. Ribuan penari tersebut berkompetisi selama tiga hari, mulai 31 oktober hingga 3 november 2019.
Kontes menari tahunan tersebut diperuntukkan bagi kalangan non profesional dari berbagai usia, mulai dari 1,5 tahun hingga dewasa.
Chairman of Bandung Internasional Dance Competition, Herman Susilo Haslim mengatakan, kegiatan tersebut merupakan wadah bertanding bagi generasi muda di dunia tari saat ini. Para penari muda tersbeut diharapkan dapat memiliki pengalaman serta wawasan baru tentang dunia tari.
"Kegiatan ini kita buat pertama tahun lalu, jadi sudah yang kedua kalinya di Kota Bandung. Kita buat untuk menjadikan sebuah standar, istilahnya barometer bagi teman-teman yang bergerak di bidang tari supaya bisa sama-sama berkreasi untuk menuangkan bakatnya, khususnya bagi mereka yang selama ini senang tari," ucap Herman.
Herman menyebutkan, dalam BIDC tahun ini terdapat berbagai macam kategori perlombaan, di antaranya hip hop, contemporrary, jazz music, classical balet, sampai dengan musical theatre, dance with me, hingga wushu.
"Nah uniknya kali ini kita multigenre. Jadi ada beberapa genre untuk tarian yang dipertandingkan. Ada tradisional, hip hop, ballet, jazz kontemporer," ujar Herman.
Herman menjelaskan, yang menjadi pembeda antara BIDC tahun 2019 dengan kompetisi tahun sebelumnnya, terletak pada usia peserta. Pihaknya mempersilahkan talenta yang masih sangat muda untuk bertanding, bahkan hingga usia 5 tahun.
"Jadi memang ini khusus untuk yang amatir bukan profesional, dan memang usianya kali ini tahun kedua kita buat dari mulai usia kecil," tutur Herman.
Herman juga memaparkan, di tengah arus globalisasi saat ini, tidak sedikit anak-anak terpengaruh dan kecanduan akan bermain gadget atau gawai. Maka dari itu, diharapkan dengan adanya kompetisi BIDC dapat sedikit meningkatkan minat anak dalam aktifitas yang baik, daripada menghabiskan waktunya untuk sebuah gawai.
"Ya jadi ini salah satu kita mau mengajak bahwa anak zaman sekarang itu bukan hanya menggunakan gadget, tapi marilah kita kembali lagi istilahnya untuk berkreasi dengan fisik dengan menuangkan bakat tarinya kreatifitasnya dengan menari, sehingga tetap terjaga apalagi budaya kita juga tarian. Kita itu semakin bagus untuk melatih mereka dari sisi motorik," ungkap Herman.
Ditemui di tempat yang sama, satu di antara juri pada gelaran BIDC 2019, Wied Sendjayani mengatakan, penilaian dalam kompetensi ini dilihat melalui berbagai aspek, di antaranya khusus untuk tarian kontemporer terdapat aspek gerakan, serta body language seberapa baik para peserta dalam berekspresi untuk menyampaikan pesan dalam tarian yang dibawakannya.
"Tapi kontemporer itu bukan sekedar gerak bukan hafalan satu dua tidak, itu mengekspresikan sesuatu apa yang bisa diceritakan kita gerakkan disitu, jadi sebetulnya membutuhkan perasaan. Itu untuk anak memang butuh waktu lama untuk melatih," ujarnya.
Ke depan Wied berpesan agar para anak-anak yang berbakat ini untuk selalu tidak berpuas diri dan terus berlatih. Hal itu lantaran, sejatinya seorang pemenang tidak akan pernah berpuas diri dalam kemenangannya, melainkan terus mengasah kemampuannya dan tetap rendah hati.
"Mereka berbakat tapi mereka masih harus terus berlatih. Menang kalah tidak penting yang penting mereja harus berlatih, karena kalau mereka merasa sudah top, turunnya meluncur kebawah, top itukan diatas sendiri, nah anak jangan pernah merasa top, para guru harus bilang kamu harus terus karena diatas langit ada langit, begitu berhenti merasa sudah super ya sudah finish," tandas Wied.
Sementara itu, satu di antara ribuan peserta, Nadina Ayesha Hadien (10) mengatakan, dirinya sudah sejak lama menggeluti dunia tari. Ia pun menyambut baik kompetisi tersebut guna menunjukan kemampuannya dalam dunia tari.
"Sejak tiga tahun belajar balet, kontemporer sama jazz, iya senang dapat bertanding dan ketemu teman baru," pungkasnya.
Perlu diketahui dalam kegiatan tersebut, total terdapat sekitar 1000 peserta yang turut berkompetisi dalam Bandung International Dance Competition, pesertanya berasal dari berbagai daerah di Sekitar Indonesia, dan beberapa negara tetangga seperti Philippina, Malaysia,
Adapun para juri yang terlibat merupakan para ahli di bidang tari dengan spesifikasinya masing-masing, seperti Wied Sebdjyani , P.J Rebullida, Keiji Tomiyama, Karen Malek, dan Hamdi Fabas. (Ridwan Abdul Malik)
Editor : DeryFG

