Industri Kreatif Jabar Tumbuh 6,12%
Industri kreatif memegang peranan yang cukup penting bagi perekonomian Jabar. Pangsa pasar ekonomi kreatif terhitung sebesar 11,58% terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Jabar.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Industri kreatif memegang peranan yang cukup penting bagi perekonomian Jabar. Pangsa pasar ekonomi kreatif terhitung sebesar 11,58% terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Jabar.
“Dari tahun ke tahun, industri ekonomi kreatif ini pun trennya tumbuh positif. Selama periode 2010-2016, rata-rata pertumbuhan PRDB ekonomi kreatif Jabar mencapai 6,12% (yoy),” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jabar Doni P Joewono saat pembukaan Karya Kreatif Jabar (KKJ) di Bandung, Jumat (28/6/2019).
Secara umum, perekonomian Jabar pada triwulan I 2019 ini tumbuh sebesar 5,43% (yoy). Kendati melambat jika dibandingkan dengan triwulan IV 2018 (5,50%), pertumbuhan ekonomi Jabat tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata lima tahun sebesar sebesar 5,19%. Catatan triwulan I 2019 itu pun menunjukkan pertumbuhan ekonomi Jabar masih lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan nasional sebesar 5,07%.
Menurutnya, produk ekonomi kreatif Jabar juga menembus pasar ekspor ke beberapa negara. Pada 2016, daerah ini merupakan provinsi pengekspor ekonomi kreatif terbesar yakni mencapai 33,56% terhadap total ekspor ekonomi kreatif nasional dengan nilai ekspor mencapai US$6,5 miliar.
“Hal tersebut menunjukkan ekonomi kreatif memiliki potensi besar menjadi salah satu penopang neraca perdagangan Indonesia,” tambahnya.
Doni menegaskan, industri kreatif tersebut bisa menjadi sumber ekonomi baru di Jabar. Artinya, Jabar bisa tidak hanya bertumpu pada industri manufaktur yang sangat tergantung situasi pasar global. Selain itu, industri pariwisata pun bisa mendongkrak ekonomi secara signifikan.
Lebih jauh dia menjelaskan, persentase terbesar ekonomi kreatif yakni kuliner yang berkontribusi sebesar 40,97%. Kemudian, disusul produk fesyen sebesar 34,70% dan kriya sebesar 14,99%. Tingginya pertumbuhan ekonomi kreatif Jabar itu ditopang kinerja positif dari sejumlah subsektornya dengan rata-rata pertumbuhan yang juga tinggi. Yakni, televisi dan radio sebesar 9,92%, seni pertunjukan (7,20%), musik (6,98%), dan periklanan (6,35%).
Plus, adanya dukungan Pemprov Jabar dengan terbitnya Perda No. 15/2017 tentang Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Perda No. 10/2018 tentang Pengelolaan Kekayaan Intelektual serta pencanangan creative center di 26 daerah, 26 badan kreatif lokal, termasuk 26 Perda terkait ekonomi kreatif.
Khusus mengenai gelaran KKJ, pameran digelar pada Jumat-Minggu (28-30/6/2019) di Atrium 23 Paskal Hypersquare Bandung. Pameran tersebut diikuti sebanyak 27 pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) industri kreatif. Dari total 27 tenant itu di antaranya berasal dari Bandung sebanyak 19 unit, Tasikmalaya sebanyak 6 unit, dan Cirebon sebanyak 2 unit.
Pameran yang ditampilkan 27 unit itu terbagi atas produk fesyen, kerajinan/craft, kopi, dan alas kaki. Guna meningkatkan nilai tambah dan mempromosikan produk, pihaknya menggandeng sejumlah desainer untuk menghasilkan kreasi tata busana. Gelaran KKJ ini merupakan road to Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2019 yang rencananya digelar pada 12 Juli 2019 di Jakarta dengan menghadirkan produk-produk UMKM unggulan Nusantara.
“Selain pameran, di even ini akan digelar coaching clinic, pelatihan digital payment, dan kegiatan business matching untuk memperluas akses pasar. Kegiatan itu dilakukan bersama lembaga perbankan untuk meningkatkan kelayakan UMKM memperoleh akses pembiayaan kredit,” ucapnya.
Sementara itu, Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan kontribusi industri kreatif sebesar 33% terhadap ekspor Jabar itu merupakan catatan tertinggi dibandingkan provinsi lain.
“Saya yakin, kombinasi industri kreatif dan pariwisata bisa menggeser tumpuan ekonomi Jabar yang kini masih ada di industri manufaktur sebesar 44%,” ujarnya.
Untuk itu, pria yang akrab disapa Emil itu mengku pihaknya menyiapkan strategi khusus untuk mendorong industri kreatif dan pariwisata bisa berkembang pesat.
Editor : Doni Ramdhani

