Industri Padat Karya Belum Mati, Manufaktur di Jabar Masih Buka Lowongan Massal

Di tengah tantangan pergeseran tren industri ke arah padat modal dan otomatisasi, fakta di lapangan menunjukkan industri padat karya di Jawa Barat belum sepenuhnya ditinggalkan. Sejumlah perusahaan justru masih aktif membuka lowongan kerja dalam jumlah besar.

Industri Padat Karya Belum Mati, Manufaktur di Jabar Masih Buka Lowongan Massal
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID – Di tengah tantangan pergeseran tren industri ke arah padat modal dan otomatisasi, fakta di lapangan menunjukkan industri padat karya di Jawa Barat belum sepenuhnya ditinggalkan. Sejumlah perusahaan justru masih aktif membuka lowongan kerja dalam jumlah besar.

Kepala Bidang Penempatan, Perluasan Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Pentatrans) Disnakertrans Jawa Barat, Hendra Kusuma Sumantri mengungkapkan, bahwa berdasarkan data pada platform Nyari Gawe, kebutuhan tenaga kerja di sektor industri masih cukup tinggi.

Menurut Hendra, mayoritas perusahaan yang membuka lowongan kerja membutuhkan tenaga terampil, khususnya untuk posisi operator mesin.

“Trennya banyaknya sebetulnya ke operator sih. Jadi, ada beberapa perusahaan yang melakukan mass hiring itu banyak operator yang dibutuhkan,” ungkap Hendra saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Minggu 18 Januari 2026.

Ia menjelaskan, kebutuhan operator tersebut banyak berasal dari industri manufaktur, termasuk industri kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) yang saat ini terus berkembang di Jawa Barat.

“Memang semi skilled operatornya, terutama di industri-industri manufaktur seperti industri manufaktur EV ya, electric vehicle,” ucapnya.

Perusahaan-perusahaan tersebut, lanjut Hendra, membuka beragam jenis lowongan kerja, mulai dari perakitan bodi kendaraan hingga operator di lini produksi. Bahkan, kebutuhannya dinilai cukup tinggi.

“Itu contohnya yang dibutuhkan teman-teman di EV, seperti body assembling, kemudian untuk manufacturing, perakitan, itu mereka sangat dibutuhkan,” katanya.

Hendra menegaskan, meskipun industri saat ini cenderung beralih ke sistem padat modal dengan pemanfaatan robot dan teknologi otomatisasi, peran tenaga kerja manusia belum sepenuhnya tergantikan.

“Masih ada, masih ada. Tidak akhirnya hilang, tidak. Karena memang kan posisinya manufacturing gitu,” tandasnya.***


Editor : JakaPermana