Indutri Pulp dan Kertas Diselaraskan dengan Lingkungan
Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK) beserta Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian menyelenggarakan simposium internasional. Acara rutin dua tahunan ini menjadi
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK) beserta Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian menyelenggarakan simposium internasional. Acara rutin dua tahunan ini menjadi ajang membedah teknologi dan wawasan perihal pulp dan kertas.
Pada Simposium yang berlangsung pada Selasa-Rabu (6-8/11/2018) ini membeberkan 54 makalah, terdiri dari 41 dibawakan dalam presentasi, dan 13 lainnya disajikan sebagai poster. Presentasi disampaikan oleh 13 pembicara yang berasal dari Jepang, Korea, Australia, Malaysia, dan Indonesia, dengan berbagai latar belakang pembicara mulai dari pelaku industri, lembaga riset, perguruan tinggi dan politeknik.
"Jadi sebenarnya ini ajang para ilmuan saling berdiskusi hasil penelitian, sehingga hasil penelitian ini bermanfaat untuk beberapa pihak memberi pengetahuan. Untuk pelaku industri juga hasil penelitian ini," ujar Kepala BPPK Andoyo Sugiharto di Hotel El Royale, Selasa (6/11/2018).
Andoyo mengatakan, sesuai amanat Undang-undang Nomor 3 tahun 2014 tentang Perindustrian, pembangunan industri diarahkan ke pengembangan industri hijau. Industri yang dalam proses produksinya mengutamakan upaya efisiensi dan efektivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan.
Menurut Andoyo, keberlangsungan industri pulp dan kertas bukan hanya berbicara soal capaian produksi dan keunggulan produk. Namun mampu menyelaraskan dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup, serta dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Andoyo menyatakan, tujuan simposium ini juga sebagai misi agar bisa melakukan pertukaran informasi terbaru tentang perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di bidang pulp dan kertas, serta memperluas jejaring kerjasama Penelitian dan Pengembangan (Litbang).
"Sebenarnya industri pulp dan kertas Indonesia boleh dikatakan kita tidak low tapi tidak juga terlalu high. Karena mesin yang dimiliki pabrik besar sudah canggih, jadi kita dari low sampai high kita ada," jelasnya.
Menurut Andoyo, sekarang ini pihaknya sedang menunggu mesin baru dari Jepang yang akan diteliti dan dikembangkan di Indonesia. Mesin tersebut sebagai alat untuk mengolah tandan kosong sawit atau ampas proses pembuatan minyak kelapa sawit menjadi bahan baku kertas.
Andoyo berharap bisa secepatnya dilakukan penelitian karena dari percobaan awal kualitas bahan baku kertas yang dihasilkan dari tandan kosong sawit cukup memenuhi standar. Sehingga diharapkan segera diproduksi, karena bakal diandalkan membantu bahan baku dari kertas bekas.
"Sekarang tetap berlangsung sebentar lagi merealisasikan kerja sama dengan Jepang, ada mesin untuk proses tandan kosong sawit. Maret udah mulai, nanti penelitian tiga sampai empat bulan kita lihat prosesnya seperti apa. Kita sedang pelajari ekonomisnya seperti apa, nanti setelah tuntas kita penelitian teknis secepatnya bisa segera digunakan karena terus terang sudah ada yang meminta dari Korea," pungkasnya.
Editor : inilahkoran

