Inilah Produksi Listrik PLTA Cirata
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata yang tertelak di Purwakarta punya kapasitas mencapai 1.008 megawatt (MW). PLTA ini punya fasilitas Automatic Generation Control dan Black Start untuk line charging.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Cirata- Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata yang tertelak di Purwakarta punya kapasitas mencapai 1.008 megawatt (MW). PLTA ini punya fasilitas Automatic Generation Control dan Black Start untuk line charging.
Manager Keuangan UP Cirata, Priyono mengatakan, fasilitas ini membuat Cirata bisa segera masuk ke sistem interkoneksi Jawa-Bali. Jadi, apabila sistem Jawa-Bali terganggu, PLTA Cirata langsung masuk dengan waktu cepat.
"Pada saat sistem Jawa Bali ada trip maka Cirata bisa suplai listrik cepat sekitar 5-6 menit karena punya line charging," kata Priyoni dikutip Selasa (8/7/2019).
Adapun PLTA Cirata memanfaatkan aliran sungai Citarum melalui bendungan. Air yang masuk dan memutar turbin sampai kecepatan 187,5 rpm.
Nah, Turbin terhubung dengan generator yang memproduksi listrik bertegangan 16,5 kilo volt (kV). Listrik itu lalu disalurkan ke main transformer untuk menaikkan tegangan dari 16,5 kV menjadi 500 kV. Selanjutnya listrik ditransmisikan ke sistem interkoneksi Jawa-Bali.
"Rata-rata energi yang dibangkitkan 1.428 giga watt per tahun atau setara 428 ribu ton minyak. Ini membantu pengurangan bbm," ujar dia.
PLTA Cirata beroperasi dari pukul 17.00-22.00 WIB. Pasalnya pembangkit ini menunjang pasokan listrik saat beban puncak terjadi di Jawa-Bali. Dia menjelaskan Cirata memiliki 8 unit pembangkitan dengan kemampuan masing-masing 126 mw.
"Pengoperasian masing-masing unit tergantung dari pengatur beban di Gandul (Depok)," kata dia.
Pembangkit yang beroperasi sejak 1988 ini, lanjut Priyono memiliki waduk dengan luas genangan mencapai 6200 hektar. Luasan genangan itu berada di 3 kabupaten yakni Bandung Barat38%, Purwakarta 21%, dan Cianjur 41%.
Aliran Sungai Citarum bukan hanya untuk pembangkit listrik. Namun juga memasok air bersih untuk konsumsi Jakarta, irigasi Karawang, Subang, Indramayu, dan Purwakarta mencapai 420 hektar.
Sayangnya, Sungai Citarum saat ini dalam kondisi memprihatikan akibat sampah, maupun kotoran ternak. Kotoran tersebut ditambah dengan maraknya keramba jaring apung membuat sedimentasi di area waduk.
"Kami bersama pihak terkait terus berupaya mengembalikan kondisi Sungai Citarum," kata dia.[jat]
Editor : Bsafaat

