Investasi Jabar Tertinggi Nasional, Tapi Lulusan SMK Masih Dominasi Pengangguran

Pemerintahan Provinsi Jawa Barat menyoroti ketimpangan antara derasnya realisasi investasi dengan kesiapan tenaga kerja lokal.

Investasi Jabar Tertinggi Nasional, Tapi Lulusan SMK Masih Dominasi Pengangguran
Meski investasi Jabar kembali menjadi yang tertinggi di Indonesia, kualitas dan kesesuaian kompetensi sumber daya manusia (SDM) dinilai belum mampu mengimbangi kebutuhan industri yang semakin padat teknologi. (dok)

INILAHKORAN.ID - Pemerintahan Provinsi Jawa Barat menyoroti ketimpangan antara derasnya realisasi investasi dengan kesiapan tenaga kerja lokal.

Meski investasi Jabar kembali menjadi yang tertinggi di Indonesia, kualitas dan kesesuaian kompetensi sumber daya manusia (SDM) dinilai belum mampu mengimbangi kebutuhan industri yang semakin padat teknologi.

Sekda Jabar Herman Suryatman mengatakan, karakter investasi kini mengalami pergeseran. Sektor-sektor yang masuk ke Jabar tidak hanya padat modal, tetapi juga membutuhkan tenaga kerja dengan keahlian khusus.

“Investasi di Jabar besar, tertinggi di Indonesia, tapi tentu ada yang harus diwaspadai dan diantisipasi karena karakteristik investasi mulai banyak yang padat modal dan padat teknologi sehingga harus diimbangi dengan kesiapan SDM,” kata Herman, Jumat 12 Desember 2025.

Herman menjelaskan, pada kuartal III 2025 realisasi investasi mencapai Rp77,1 triliun, sementara sejak Januari hingga September investasi telah menembus Rp218 triliun, tertinggi secara nasional. Namun ia menegaskan, capaian tersebut tidak otomatis menurunkan angka pengangguran.

“Investasi kita kuartal 3, teman-teman sudah paham Rp77,1 triliun. Overall-nya dari Januari sampai September itu menembus 218 triliun. Meskipun tentu harus ada yang diwaspadai, karena kalau tidak, tidak akan berdampak signifikan terhadap penurunan pengangguran,” ujarnya.

Data Laporan Eksekutif Keadaan Angkatan Kerja Jawa Barat 2025 menunjukkan kesenjangan kompetensi semakin nyata. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan SMK masih menjadi yang tertinggi, mencapai 12,81 persen pada Agustus 2025. Kondisi ini disebabkan keahlian lulusan yang belum sepenuhnya sesuai kebutuhan pasar kerja.

Sebaliknya, TPT terendah berasal dari lulusan Diploma I/II/III yang berada di angka 2,94 persen. Meski mengalami fluktuasi dalam tiga tahun terakhir, struktur pengangguran di Jabar masih didominasi mereka yang menempuh pendidikan tinggi. TPT lulusan Diploma IV/S1/S2/S3 bahkan meningkat 0,14 persen poin, sementara jenjang SD ke bawah naik 0,10 persen poin dibanding Agustus 2024.

Untuk menutup kesenjangan tersebut, Pemprov Jabar kini memusatkan perhatian pada peningkatan keterampilan tenaga kerja melalui program vokasi dan penyelarasan standar kompetensi.

“Ini yang menjadi PR kami sehingga kami konsen ke standarisasi SDM, peningkatan kemampuan melalui vokasi ya dan yang tidak kalah penting sistem informasi yang mempertautkan pencaker dengan lowongan kerja,” kata Herman.

Ia menambahkan, selain memperkuat kualitas SDM menghadapi investasi padat teknologi, Pemprov juga tetap mempertahankan komitmen pada investasi padat karya untuk menjaga penyerapan tenaga kerja.

“Itu untuk investasi ya yang posisinya alhamdulillah luar biasa walaupun tetap harus diantisipasi dari sisi kesiapan SDM dan tentu kami pun tetap konsen terhadap investasi yang sifatnya padat karya,” tandasnya.


Editor : Doni Ramdhani