Jabar Sumbang 10 Persen Transaksi Nontunai BCA

Bagi PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jabar merupakan pasar potensial untuk pertumbuhan transaksi nontunai. Untuk itu, pihaknya memberikan perhatian ekstra di provinsi penyangga ibu kota ini.

Jabar Sumbang 10 Persen Transaksi Nontunai BCA
Antara

INILAH, Bandung - Bagi PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Jabar merupakan pasar potensial untuk pertumbuhan transaksi nontunai. Untuk itu, pihaknya memberikan perhatian ekstra di provinsi penyangga ibu kota ini.

“Dari total transaksi nontunai BCA, kontribusi Jabar ini tercatat sebesar 10%,” kata Senior Vice President Transaction Banking Business Development BCA I Ketut AlamWangsawijaya di Bandung, Kamis (20/6/2019).

Menurutnya, sebagai lembaga perbankan pihaknya mendukung program cashless society yang didengungkan pemerintah melalui Gerakan Nasional Non-unai (GNNT). Untuk itu, BCA terus mengembangkan infrastruktur sistem pembayaran nontunai tersebut.

Dia menuturkan, transaksi nontunai BCA itu terbilang tumbuh lebih tinggi dari market. Khusus pertumbuhan kartu kredit, Ketut mengaku nilai transaksinya naik 13-15% (yoy). Sedangkan, nilai transaksi kartu debit dengan 17 juta customer itu tumbuh 13% (yoy). Angka tersebut naik dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar 10-12%.

“Untuk semua transaksi nontunai itu sejauh ini masih didominasi Jabodetabek. Angkanya sekitar 70%. Itu termasuk transaksi menggunakan uang elektronik Flazz,” sebutnya.

Untuk membangun infrastruktur sistem transaksi nontunai, Ketut mengaku salah satunya dikembangkan saat pasar buku ‘Big Bad Wolf’ di Bandung. Di acara yang akan digelar pada 28 Juni-8 Juli mendatang di Hotel Mason Pine, Kota Baru Parahyangan itu BC mendukung penuh untuk infrastruktur sistem pembayaran.

Tak hanya mendukung penyediaan mesin electronic data capture (EDC), pihaknya pun menurunkan tim marketing untuk menyukseskan acara yang digelar PT Jaya Ritel Indonesia itu.

“Dukungan kita di pasar buku ‘Big Bad Wolf’ itu untuk menggenjot transaksi nontunai. Kita terus mengajak masyarakat untuk bertransaksi nontunai. Kita menyadari shifting behavior itu membutuhkan investasi yang tidak sedikit,” ujarnya.

Dia menyebutkan, transaksi nontunai itu terbilang banyak benefit yang didapatkan. Bagi perbankan, transaksi tersebut  memangkas ongkos cash handling yang jumlahnya tidak sedikit. Bagi customer, mereka relatif tidak menemui kendala menyimpan uang tunai yang dimiliki. Selain itu, pembayaran nontunai tersebut memungkinkan semua transaksi tercatat. 

“Intinya, benefit transaksi nontunai baik untuk bank dan customer jadi lebih efisien. Banyak positifnya,” tambahnya. 

Dari sisi nilai, besarnya transaksi nontunai  itu terlihat dari gelaran ‘Big Bad Wolf’ di Jakarta beberapa waktu lalu. Di pasar buku yang dikunjungi 1.025.000 orang itu nilai transaksinya relatif tinggi. Di Jakarta, selama acara pada 1-11 Maret 2019 itu nilai transaksinya mencapai lebih dari Rp25 miliar. 

“Dari total transaksi itu, yang dilakukan secara tunai hanya sekitar 10-12% saja. Artinya, sekitar 90% transaksi sudah dilakukan secara nontunai,” sebutnya.

Terkait gelaran di Bandung, Ketut mengaku pihaknya tidak mematok target tertentu. Namun, dia mengikuti target pihak penyelenggara yang rencananya akan mendatangkan sekitar 350 ribu pengunjung.

“Di Bandung ini, karena pertama kali, yang penting bisa mengakomodir respons dan antusiasme poistifnya. Terkait nilai transaksinya, itu nanti juga akan tumbuh berkembang sendiri,” ucapnya. (Doni Ramdhani)


Editor : Doni Ramdhani