Jamin Ketersediaan Kebutuhan Pokok, Pemprov Jabar Siapkan OPADI di Desember 2025, Amankan Nataru
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar Nining Yuliastiani menuturkan, pihaknya juga telah menyiapkan Operasi Pasar Bersubsidi (OPADI) di 27 kabupaten/kota di pekan ketiga Desember 2025, guna memastikan tidak adanya kelangkaan komoditas pokok yang dapat menyebabkan kenaikan harga, jelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Pemerintah Provinsi jawa barat menjamin ketersediaan komoditas kebutuhan pokok di penghujung 2025.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar Nining Yuliastiani menuturkan, pihaknya juga telah menyiapkan Operasi Pasar Bersubsidi (opadi) di 27 kabupaten/kota di pekan ketiga Desember 2025, guna memastikan tidak adanya kelangkaan komoditas pokok yang dapat menyebabkan kenaikan harga, jelang libur Natal dan Tahun Baru (nataru).
"OPADI tetap dilakukan dan itu langsung ke 27 kabupaten/kota. Kami akan jalankan pekan ketiga Desember 2025," ujar Nining, dikutip Minggu 16 November 2025.
Mengingat, saat ini terjadi kenaikan harga beberapa komoditas pokok di sejumlah pasar, salah satunya akibat adanya lonjakan permintaan barang untuk memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Walaupun ada beberapa komoditas pokok lainnya, terbilang aman seperti terigu, gula dan beras yang masih sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET).
"Beras sampai tepung terigu harganya sesuai HET, bahkan ada yang di bawah HET. Apalagi beras, itu memang ada punishment-nya kalau kemudian mereka enggak sesuai dengan HET," terangnya.
Komoditas pokok yang mengalami kenaikan harga saat ini yakni cabai, bawang merah, kedelai, daging, ayam dan telur. Untuk ayam dan telur, kenaikan terjadi karena 'kaget' suplai kurang dari permintaan lantaran ada program MBG.
Padahal sejatinya kata dia, ketersediaan di peternak masih aman dalam memenuhi kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program MBG.
"Ini adalah kaitannya dengan masih adanya shock terhadap penggunaan oleh MBG, sehingga distribusinya itu agak terganggu nih. Tapi secara stok oke. Kita sudah pastikan," klaim Nining.
Guna menyiasati supaya kenaikan tak berlanjut, pihaknya akan memantau rantai pasok supaya distribusi komoditas pokok berjalan lancar.
Hanya cabai yang diakuinya sulit untuk diamankan, karena adanya kesalahan dari petani dalam memilih jenis cabai yang akan ditanam dan juga akibat faktor cuaca. Harga cabai merah besar saat ini berkisar di Rp61.833 per kilogram, mengalami kenaikan 9,82 persen. Sementara, cabai merah keriting mengalami penurunan menjadi Rp33.700 per kilogram.
"Adanya salah pemilihan oleh petani. Jadi pada awal tahun sebelumnya, petani itu melihat bahwa posisi cabe merah besar itu waktu itu enggak terlalu laku, kemudian (sekarang) nanam cabai keriting. Jadi bukan karena tidak ada cabai, tapi karena posisi, seasonal iklim memang agak mengganggu sekarang, kemudian preferensi dari petani yang kemudian membaca situasi ternyata agak berubah," terangnya.
Meski demikian, Nining optimistis dalam waktu dekat harga komoditas pokok akan kembali normal sebelum Nataru. Walaupun dirinya tak dapat memungkiri, sedikit kenaikan pasti terjadi karena adanya kebiasaan dari masyarakat untuk berbelanja lebih banyak di hari besar.
"Sebenarnya kalau Nataru tetap ada kenaikan, tapi kita akan lakukan upaya-upaya di tahun ini bisa me-reach out lebih banyak lagi, kemudian bisa targeting terhadap masyarakat yang membutuhkan. Jadi kalau ada hari besar itu biasanya kan ada pengeluaran yang lebih banyak lagi," tutupnya. (Yuliantono)
Editor : Ahmad Sayuti

