INILAH, Bandung - Salah satu pentolan Viking Persib Club (VPC) Agus Rahmat, menilai poin ke-empat dikabulkannya banding Persib oleh Komite Banding (Komding) PSSI sangat membingungkan.
Sebelumnya, Komite Banding (Komding) PSSI mengabulkan permohonan banding Persib. Itu terhadap keputusan Komite Disiplin (Komdis) soal sanksi pertandingan dan penonton yang tertuang dalam surat bernomor 132/L1/KD-PSSI/IX/2018.
Di mana tim asuhan Mario Gomez harus melanjutkan Liga 1 2018 tanpa penonton di daerah netral hingga akhir kompetisi musim 2018. Begitu pula di laga kandang hingga setengah musim kompetisi 2019.
Bunyi poin ke-empat adalah menghukum Persib Bandung untuk kompetisi berupa pertandingan kandang (home) dengan penonton tanpa memakai atribut Persib Bandung. Namun tidak terbatas pada kaos, bendera, yel-yel, nyanyian, konfigurasi, pamflet, spanduk yang menunjukan identitas PERSIB Bandung sampai dengan setengah musim kompetisi 2019. Sebagaimana diatur dalam Kode Disiplin PSSI Pasal 70, Lampiran 1 jo. Pasal 141 ayat (1) Kode Disiplin PSSI 2018.
Hanya saja, bilamana melanggar maka Maung Bandung tak boleh didampingi bobotoh hingga hingga akhir kompetisi 2019 nanti. Hal tersebut dipaparkan di poin ke-5.
Menurut dia, lazimnya suporter memberikan dukungan kepada tim kebangaan dengan berbagai cara, seperti bernyanyi dan juga mempersembahkan koreografi.
Dengan melarang atribut juga yel-yel di stadion, dia mempertanyakan hal apa yang harus dilakukan bobotoh tatkala mendampingi tim. Dia meminta kejelasan itu dari PSSI, sebab bukan tak mungkin akan kembali memberikan hukuman.
"Jadi bobotoh ke stadion itu harus bagaimana? Supaya tidak membingungkan bobotoh seharusnya di jelaskan dengan cermat," ujar Agus, kepada INILAH, kemarin malam.
Dia khawatir, bilamana sikap bobotoh yang sebenarnya murni mendukung malah kembali mendapatkan sanksi. Karena hasil banding yang terkesan ambigu.
"Jangan membuat bobotoh terjebak yang akhirnya akan menimbulkan kembali sanksi," pungkasnya.