Nobar Persib Kini Jadi Gaya Hidup Bobotoh, Tak Sekadar Pengganti Tribun Stadion
Nobar Persib berkembang menjadi ruang berkumpul dan gaya hidup Bobotoh. Antusiasme terlihat saat Persib menghadapi Persija di SUGBK.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Riuh sorak-sorai, tepuk tangan bersahutan, hingga teriakan penuh emosi mengiringi setiap pergerakan pemain Bandung'>Persib Bandung. Layar lebar menjadi pusat perhatian. Puluhan pasang mata tertuju ke satu arah, sementara jersey biru dan atribut Maung Bandung mendominasi ruangan.
Tak ada Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) di hadapan mereka. Tak ada pula tribun stadion yang bergemuruh. Namun, atmosfer pertandingan tetap terasa membara.
Inilah wajah baru kultur Bobotoh. Nonton bareng (nobar) Persib bukan lagi sekadar pilihan bagi mereka yang tak kebagian tiket atau tak bisa hadir langsung ke stadion.
Lebih dari itu, nobar telah berkembang menjadi ruang berkumpul, sarana merawat kebersamaan, sekaligus bagian dari gaya hidup pecinta Bandung'>Persib Bandung.
Bagi Bobotoh, menyaksikan Persib berjuang bersama-sama menghadirkan sensasi tersendiri. Setiap peluang mencetak gol disambut teriakan. Setiap tekel keras memancing reaksi. Ketika bola bersarang di gawang lawan, luapan kegembiraan seolah tak mengenal batas.
Semangat tersebut terlihat ketika Bandung'>Persib Bandung menghadapi Persija Jakarta pada pekan kedua BRI Super League 2026/2027, Sabtu (12/9/2026).
Pertandingan yang berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, memang digelar jauh dari Kota Bandung. Namun, jarak tak menjadi penghalang bagi Bobotoh untuk memberikan dukungan kepada tim kebanggaannya.
Di berbagai sudut Kota Bandung, layar pertandingan menyala. Warna biru memenuhi tempat-tempat nongkrong. Di tengah panasnya persaingan dua rival abadi, Bobotoh menunjukkan bahwa dukungan kepada Persib bisa hadir dalam banyak bentuk.
Ludo Sports Kitchen Jadi Titik Kumpul Bobotoh
Salah satu lokasi yang merasakan gelombang antusiasme tersebut adalah Ludo Sports Kitchen di kawasan Kiaracondong, Bandung.
Tempat yang mengusung konsep sports bar and kitchen itu menjadi salah satu titik berkumpulnya para pendukung Persib untuk menyaksikan duel panas melawan Persija.
Bagi Ludo Sports Kitchen, menggelar nobar bukan sekadar kegiatan tambahan. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari konsep yang ditawarkan kepada pengunjung.
Head of Marketing Ludo Sports Kitchen, Rivan Mandala Putera, mengatakan Sepak Bola, khususnya Persib, memiliki daya tarik besar bagi masyarakat Bandung.
Tak hanya pertandingan Persib, Ludo juga rutin menggelar nobar berbagai kompetisi Sepak Bola internasional hingga cabang olahraga lainnya.
“Kalau dilihat antusiasmenya sangat tinggi. Kita bisa lihat setelah kita buka reservasi di H-5, di H-3 sudah sold out. Sudah tidak ada tempat lagi,” ujar Rivan, Senin (14/9/2026).
Menurut Rivan, pengalaman nobar tidak cukup hanya dengan menayangkan pertandingan melalui layar televisi. Kenyamanan dan atmosfer pertandingan juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan.
Ludo berupaya menghadirkan pengalaman tersebut melalui fasilitas TV wall, pilihan makanan dan minuman yang beragam, serta konsep ruang yang mendukung aktivitas menonton bersama.
“Yang jelas kita punya gaya tersendiri, style tersendiri, kita punya TV wall. Dan juga tentunya makanan-makanan yang beraneka ragam serta berkualitas. Rasanya bisa terjamin baik dan enak,” katanya.
Nobar Jadi Ruang Merawat Kebersamaan
Fenomena nobar menunjukkan bahwa kultur Sepak Bola di Bandung tidak selalu harus diwujudkan dengan hadir langsung di tribun stadion.
Bagi sebagian Bobotoh, berkumpul bersama sesama pendukung, mengenakan atribut Persib, bernyanyi, dan memberikan dukungan dari tempat nobar menjadi pengalaman tersendiri.
Nobar juga menciptakan ruang sosial yang mempertemukan para pendukung dalam suasana pertandingan. Ketegangan di lapangan ikut berpindah ke ruang-ruang publik, tetapi tetap dalam semangat kebersamaan dan sportivitas.
Rivan berharap semakin banyak ruang nobar yang hadir dapat memberikan dampak positif, termasuk ikut menggerakkan perekonomian pelaku UMKM.
Ia juga mengingatkan agar atmosfer nobar yang terkadang memanas akibat tensi pertandingan tetap berlangsung kondusif dan menjunjung tinggi sportivitas.
“Harapannya antusiasmenya tetap tinggi dan juga bisa memajukan UMKM. Biarpun nobar tensinya tinggi, panas, tetap harus kondusif dan kembali lagi, sportif,” harapnya.
Bagi Bobotoh, pertandingan Persib pada akhirnya bukan hanya soal 90 menit di atas lapangan. Ketika stadion berada jauh, dukungan tetap menemukan jalannya—melalui layar lebar, jersey biru, nyanyian, dan kebersamaan di ruang-ruang nobar.***
Editor : JakaPermana

