Jangan Lalai, Bencana Mengintai
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Langit Jawa Barat masih menyimpan potensi kejutan di tengah fenomena El Nino yang berada pada kategori kuat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap hujan lebat, petir, dan angin kencang yang berpeluang terjadi selama sepekan, 26 Oktober hingga 1 November 2026.
Kondisi ini menjadi perhatian karena El Nino tidak serta-merta meniadakan peluang hujan.
Suhu muka laut yang relatif hangat di sebagian perairan Indonesia justru berpotensi menyuplai uap air ke wilayah Jawa Barat dan mendukung pertumbuhan awan hujan.
Kepala Subbagian Tata Usaha BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Edi Wibowo, mengatalan, indeks Nino 3.4 saat ini berada pada angka +2,76.
Indeks tersebut digunakan untuk memantau anomali suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah khatulistiwa dalam mendeteksi fenomena El Nino dan La Niña.
"Kelembapan relatif pada lapisan 850-700 mb berada pada rentang 40- 90 persen dan kondisi atmosfer lokal yang berada pada kategori labil ringan hingga kuat juga memicu terjadinya hujan sedang hingga lebat di beberapa wilayah Jawa Barat," ujar Edi, Selasa (27/10).Potensi hujan tersebut tidak berdiri sendiri.
Sejumlah fenomena atmosfer turut mendukung pertumbuhan awan konvektif dan meningkatkan peluang terjadinya hujan dalam sepekan ke depan.
Fenomena itu meliputi suhu muka laut yang relatif hangat, gelombang atmosfer Rossby Ekuator, serta Madden-Julian Oscillation (MJO) yang diprakirakan aktif di wilayah Jawa Barat.
Kondisi atmosfer yang labil sedang hingga kuat juga memungkinkan awan konvektif tumbuh secara lokal. Akibatnya, hujan berintensitas tinggi dapat turun dalam waktu relatif singkat, meski secara umum hujan ringan masih diprakirakan terjadi di sebagian wilayah Jawa Barat.
Perubahan cuaca semacam ini perlu diantisipasi karena dampaknya tidak hanya berupa gangguan aktivitas harian.
Hujan lebat yang disertai angin kencang berpotensi memicu banjir, tanah longsor, hingga pohon tumbang.
"Masyarakat dan instansi terkait diimbau untuk tetap waspada terhadap kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktuwaktu dan berpotensi menimbulkan bencana hidrometeorologis seperti hujan lebat hingga sangat lebat, angin kencang, banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang," ucap Edi.
Di tengah potensi cuaca ekstrem, masyarakat diminta mengenali risiko bencana di lingkungan masingmasing.
Warga yang tinggal di kawasan rawan banjir dan longsor perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika hujan deras berlangsung.
Pemantauan informasi cuaca juga menjadi bagian penting dari upaya mengantisipasi risiko. Informasi resmi diperlukan agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi cuaca yang bisa berubah sewaktu- waktu.
Edi mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan arahan pemerintah daerah apabila terjadi bencana, termasuk mengikuti prosedur evakuasi yang telah ditetapkan.
"Dan tidak lupa mengikuti arahan serta protokol evakuasi dari pemerintah daerah apabila terjadi bencana, masyarakat diimbau untuk lebih berhatihati dalam merencanakan aktivitas, khususnya perjalanan darat, laut, dan udara, dengan memantau informasi cuaca terkini yang dapat diakses melalui aplikasi InfoBMKG," katanya.
Bekasi Berbenah Ancaman banjir kembali menjadi pekerjaan rumah Kabupaten Bekasi menjelang musim hujan.
Persoalannya bukan sekadar sungai yang dangkal, tetapi juga tata ruang, saluran air yang tertutup bangunan, hingga permukiman yang tumbuh di kawasan resapan.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyoroti berbagai persoalan tersebut saat meninjau sejumlah titik rawan banjir bersama Bupati Bekasi Asep Surya Atmaja, Senin (26/10).
Pemerintah daerah diminta bergerak lebih cepat agar pembenahan dapat dilakukan sebelum hujan berintensitas tinggi kembali mengguyur wilayah tersebut.
“Jangan sampai ketika banjir, baru turun alat.
Mumpung belum hujan, kita kerjakan sekarang,” ujar Dedi.
Bagi Dedi, mengurangi risiko banjir tidak cukup hanya dengan mengeruk sungai. Hambatan aliran air, kondisi jembatan, saluran yang tertutup beton, serta perubahan fungsi lahan perlu ditangani secara bersamaan.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah pembangunan perumahan di kawasan rendah yang sebelumnya merupakan sawah atau daerah resapan air. Ketika lahan berubah fungsi dan saluran air menyempit, limpasan hujan berpotensi lebih sulit mengalir sehingga meningkatkan risiko genangan.
Dedi meminta Pemerintah Kabupaten Bekasi memperketat pengawasan tata ruang dan perizinan pembangunan perumahan. Keberadaan sungai, saluran pembuangan, serta ruang penampungan air harus menjadi pertimbangan dalam pengembangan kawasan permukiman.
Saluran yang tertutup bangunan maupun beton juga perlu dievaluasi.
Apabila memungkinkan, saluran tersebut harus dibuka kembali agar air dapat mengalir tanpa hambatan.
Tanpa pembenahan tata ruang, normalisasi sungai berisiko tidak memberikan hasil optimal.
Air yang mengalir dari kawasan permukiman tetap dapat membebani sungai, terutama ketika hujan turun dengan intensitas tinggi.
Karena itu, kawasan persawahan dan ruang terbuka perlu dipertahankan sesuai peruntukannya untuk mendukung fungsi lingkungan.
Selain membenahi tata ruang, pemerintah daerah diminta mempercepat normalisasi sungai yang masih menyisakan pekerjaan sekitar satu kilometer.
Proyek yang menggunakan APBD Kabupaten Bekasi dengan anggaran sekitar Rp16 miliar tersebut membutuhkan tambahan dana sekitar Rp1 miliar hingga Rp2 miliar untuk menyelesaikan pekerjaan tersisa, berdasarkan penjelasan saat peninjauan.
Penyelesaian normalisasi diharapkan meningkatkan kapasitas sungai dalam mengalirkan air dari wilayah hulu dan mengurangi ancaman genangan di kawasan permukiman.
Dedi juga meminta alat berat kembali dikerahkan untuk mengangkat sampah dan material yang menghambat aliran.
Sejumlah wilayah, termasuk Cibitung, Tambun Utara, Sukawangi, dan Cikarang, masuk dalam pembahasan penanganan banjir.
(yuliantono/gin)
Editor : Inilahkoran
