Umuh: Tidak Ada Saling Membalas

DUKA yang menyelimuti keluarga Arief Rahman Kusuma turut dirasakan Manajer Persib Bandung, Umuh Muchtar.

Umuh: Tidak Ada Saling Membalas
INILAH/ADAM HUSEIN

Bobotoh yang menjadi korban pembacokan usai menyaksikan pertandingan Maung Bandung kontra Garudayaksa di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Minggu (25/10) malam itu, meninggalkan luka mendalam bagi semua pihak.

Bagi Umuh, kepergian Arief bukan sekadar kabar tentang seorang suporter yang kehilangan nyawa. Ia melihatnya sebagai tragedi kemanusiaan yang menyakitkan, terlebih bagi keluarga yang harus menerima kenyataan bahwa orang tercinta mereka tak akan kembali.

Karena itu, Umuh menyambut baik keberhasilan pihak kepolisian menangkap pelaku dalam waktu kurang dari 24 jam setelah jasad korban pertama kali ditemukan di wilayah Kaum Pandak, Karadenan, Kabupaten Bogor.

“Alhamdulillah tertangkap ya. Terima kasih kepada pihak Kepolisian, luar biasa menurut saya. Sudah penjagaan ketat dan di lapangan pun juga aman,” ungkap Umuh, Selasa (27/10).

Arief Rahman Kusuma ditemukan meninggal dunia dengan luka bacokan di Jalan Raya Jakarta-Bogor KM 50, Desa Cimandala, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor.

Peristiwa tersebut menyisakan duka sekaligus pertanyaan tentang siapa yang tega mengakhiri hidup seorang Bobotoh.

Umuh berharap kepolisian dapat segera mengungkap identitas tersangka secara lengkap, termasuk kemungkinan keterlibatan pihak lain dan kelompok yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.

“Saya mau cepat tahu dari mana orang itu dan kelompok mana, gitu. Mudahmudahan cepat terungkap, jadi akan tahu khalayak pun juga akan tahu,” tuturnya.

Di tengah keinginannya agar kasus ini terungkap hingga tuntas, Umuh juga menyampaikan pesan penting kepada Bobotoh. Ia meminta para pendukung Persib tidak larut dalam amarah hingga muncul keinginan untuk membalas perbuatan pelaku.

Menurutnya, rasa sakit dan kemarahan merupakan hal yang bisa dipahami. Namun, jangan sampai kehilangan satu nyawa justru memicu jatuhnya korban lain.

“Tidak ada saling balas-membalas, semua mungkin ya sakit hatilah, semua juga Bobotoh. Ini sangat memilukan, sangat menyayat hati para Bobotoh juga.

Apalagi keluarganya ya, yang disakiti,” katanya.

Pesan itu disampaikan Umuh dengan memahami betul ikatan emosional yang dimiliki seorang suporter terhadap Persib. Ia sendiri mengaku pernah berada di posisi sebagai Bobotoh sebelum akhirnya menjadi bagian dari manajemen klub kebanggaan masyarakat Jawa Barat tersebut.

Kedekatan itulah yang membuat tragedi ini terasa begitu personal baginya.

Umuh mengaku ikut terpukul dan berusaha memberikan perhatian kepada keluarga Arief, termasuk dengan menyalurkan bantuan berupa uang untuk sedikit meringankan beban mereka.

“Saya juga kan berangkat dari Bobotoh dan sekarang saya jadi pengurus Persib, jadi saya merasa terpukul juga.

Gimana kalau keluarga kita mendapat perlakuan seperti itu, pasti sakit. Jadi segala cara saya harus memberikan perhatian,” ucapnya.

Bagi Umuh, bantuan tersebut menjadi salah satu bentuk kepedulian yang bisa ia berikan di tengah musibah yang menimpa keluarga korban. Ia juga telah menyampaikan pesan agar keluarga Arief berusaha bersabar, bertawakal, dan terus berdoa.

Ia berharap almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT, sementara keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan untuk menghadapi masa sulit ini.

Kini, penangkapan pelaku menjadi satu langkah awal menuju terungkapnya kasus tersebut. Namun, bagi keluarga Arief, proses menghadapi kehilangan tentu tidak selesai hanya dengan tertangkapnya orang yang diduga bertanggung jawab.

Umuh berharap penyelidikan terus berlanjut hingga seluruh fakta terungkap, sehingga masyarakat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan siapa saja yang terlibat.

(muhammad ginanjar)


Editor : Inilahkoran