Jangan Paksakan Anak Usia Dini Belajar Calistung

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengimbau agar pelaksana satuan pendidikan setingkat PAUD atau TK tetap menggunakan pendekatan pra-literasi dan pra-membaca kepada para peserta didiknya. 

Jangan Paksakan Anak Usia Dini Belajar Calistung
Ilustrasi/Antara Foto

INILAH, Jakarta – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengimbau agar pelaksana satuan pendidikan setingkat PAUD atau TK tetap menggunakan pendekatan pra-literasi dan pra-membaca kepada para peserta didiknya. 

Direktur Jenderal PAUD dan Dikmas Kemendikbud Harris Iskandar mengatakan, anak yang berusia 6 sampai dengan 8 tahun masih berbasis main.

Makanya, sangat disayangkan jika anak akan masuk SD diwajibkan untuk melalui tahapan tes membaca, menulis, dan menghitung terlebih dahulu. Sebab hal ini akan berdampak pada metode pembelajaran mereka saat masih di TK dan kelompok belajar yang terkesan dipaksakan agar si anak siap masuk SD.

“Ini yang menyebabkan PAUD menjadi persekolahan. Makanya saya selalu membuat surat edaran kepada lembaga PAUD di seluruh Indonesia dan demikian juga dengan Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah yang mengedarkan ke SD agar tidak melakukan hal itu,” kata Harris kepada wartawan di Jakarta, Selasa (19/07/2019).

Harris melanjutkan, pada dasarnya anak memiliki delapan kecerdasan yakni linguistik, logika dan matematika, intrapersonal, interpersonal, musik, spasial, kinetik, dan naturalis. Untuk itu sudah menjadi tugas orang tua untuk mengamati semua kecerdasan tersebut dan tidak terpaku dengan salah satu kecerdasan saja.

Orang tua tidak perlu terlalu khawatir jika anaknya belum bisa membaca dan menulis saat mereka masih menjalani masa bermain. Apalagi jika sampai memaksakan mereka dapat mengejar tuntutan sekolah yang meminat agar si anak sudah dapat calistung sebagai syarat diterima sebagai siswa.

“Kecerdasan anak bukan logika dan matematika saja. Kita amati kecerdasan dalam spasial dan musik itu kan kodratnya luar biasa. Kasihan kalau anak dipaksakan, tertutup nanti kecerdasannya yang lain,” ujar Harris.

Menurut Harris, jika anak dipaksakan untuk bisa calistung pada saat mereka masih berusia dini maka akan menimbulkan efek buruk. Salah satunya yaitu kemampuan kognitif mereka akan menurun drastis saat duduk di kelas tiga atau kelas empat SD karena terlalu dipaksakan bisa calistung sejak usia dini. Terhadap mata pelajaran pun anak akan menjadi jenuh.

Selain itu, memaksakan anak agar bisa calistung saat mereka masih usia dini juga hanya akan menghambur-hamburkan uang dan dapat merusak mental mereka. “Buat apa bikin PAUD kalau kemudian (anak) dirusak. Lebih baik tidak usah ke PAUD saja, ini saya anjurkan daripada memaksakan calistung di PAUD,” ujar Harris.(Daulat Fajar)


Editor : DeryFG