Jawa Barat Melawan Virus Corona
Tujuh warga Jawa Barat positif corona. Gubernur Ridwan Kamil liburkan sekolah. Kasus Cianjur menunjukkan kegagapan pemerintah.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung- Tujuh warga Jawa Barat positif corona. Gubernur Ridwan Kamil liburkan sekolah. Kasus Cianjur menunjukkan kegagapan pemerintah.
Di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Ridwan Kamil memberi pernyataan. Apalagi kalau bukan soal corona. Tak mengejutkan ketika dia sampaikan tujuh warga Jawa Barat positif terinfeksi virus yang bermula dari Wuhan, China itu. Yang mengejutkan adalah pegawai Telkom asal Bekasi yang meninggal di Cianjur, ternyata positif mengidap penyakit Covid-19.
“Satu warga Bekasi di Cianjur yang meninggal dunia (positif corona),” sebutnya, Minggu (15/3). Virus itu bahkan juga menular kepada istri dan anak karyawan PT Telkom itu.
Pasien itu meninggal di Rumah Sakit Dr Hafidz, Cianjur, Selasa (3/2). Kementerian Kesehatan sempat membantah meninggalnya pasien lantaran positif terinfeksi corona. Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto, saat itu, mengatakan hasil pemantauan pemerintah, pasien yang meninggal tak terindikasi corona.
Karena itu pula, Menko Polhukam Mahfud MD sempat mengkritik sejumlah kepala daerah yang dia nilai menyebar kabar yang belum pasti ke publik. Dia istilahkan sebagai mencari panggung.
Saat itu, tak sedikit yang menilai sasaran Mahfud tak lain salah satu di antara Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang lebih terbuka soal corona, atau Plt Bupati Cianjur Herman Suherman yang mengumumkan hal tersebut.
Belakangan, pasien tersebut ternyata positif corona. Kok bisa berubah lagi? Kementerian Kesehatan pun memberikan penjelasan.
“Pemeriksaan menjadi positif nggak bisa sekali periksa langsung positif. Beberapa kasus PDP (pasien dalam pengawasan), kita memeriksa 2 hingga 3 kali baru ketahuan dan positif Covid-19,” kata juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto, kepada wartawan, Minggu (15/3).
Dia menyebutkan pemeriksaan butuh proses. “Tidak kemudian sekali datang langsung positif,” kata Yuri berkilah.
Warga Bekasi yang meninggal di Cianjur itu termasuk di antara tujuh warga Jawa Barat yang positif Covid-19. Gubernur Ridwan Kamil menyebutkan ketujuh pasien tersebut tersebar di antara delapan rumah sakit di Jawa Barat yang telah siap menangani pasien corona.
“Total ada dua (di) Depok, dua di Kabupaten Bekasi, satu di Cianjur, satu di Bandung, satu di Cirebon,” katanya. Dua kasus di Kabupaten Bekasi, sebutnya, adalah anak dan istri pasien yang meninggal di Cianjur.
Sampai saat ini, Pemprov Jabar terus memantau perkembangan pasien terinfeksi corona di delapan RS itu. Dua di antaranya terletak di Kota Bandung, yakni RS Hasan Sadikin dan RS Paru Rotinsulu.
Akan halnya seorang pasien di Cirebon, saat ini dirawat di RSD Gunung Jati, Kota Cirebon. Kondisinya, sebut Dirut RSD Gunung Jati, Ismail Jamaludin, mulai membaik dan masih menunggu pemeriksaan swab kedua kalinya.
“Kalau pasien saat ini sudah mulai ke arah membaik dibandingkan dengan hari-hari kemarin,” kata Ismail di Cirebon, Minggu.
Ismail mengatakan pihaknya sudah mengajukan untuk pemeriksaan swab pasien yang dinyatakan positif ke Litbangkes Jakarta, untuk mengetahui kondisi terkini. Karena setelah pasien dinyatakan positif beberapa hari yang lalu, saat ini sudah menunjukkan ke arah membaik. Untuk itu perlu ada pengujian lagi, apakah masih terinfeksi virus corona atau sudah tidak lagi.
“Kita sudah mengajukan untuk pengujian swab ke Litbangkes Jakarta, tapi sampai saat ini belum mendapatkan jawaban,” tuturnya.
Ismail mengatakan RSD Gunung Jati saat ini masih mengisolasi lima pasien nomor 10, 11, 12, 13 dan 14. Di mana dari lima pasien tersebut satu sudah dinyatakan positif.
Sedangkan empat lainnya lanjut Ismail, masih menunggu hasil swab dari Litbangkes Jakarta dan dia berharap semua hasilnya negatif.
Emil menyebutkan, hingga saat ini, status pasien dalam pengawasan (PDP) di Jabar ada 28 orang. Sebelumnya, 54 PDP lainnya sudah dinyatakan negatif.
Emil mengatakan hingga Minggu pukul 09.30 WIB, Orang Dalam Pemantauan (ODP) terkait Covid-19 di Jabar berjumlah 706 orang. Sejumlah 448 orang di antaranya masih dalam tahap pemantauan dan 258 orang telah selesai melakukan isolasi pribadi.
Dia mengatakan Pemprov Jabar sedang mengembangkan aplikasi khusus berbasis android dan ios penanganan dan pencegahan penyebaran COVID-19. Nantinya, masyarakat bisa melapor apabila mengalami atau menemukan orang terdekat dengan gejala COVID-19.
“Salah satu yang sedang kami kembangkan adalah membuat aplikasi terkait Covid-19 di Jawa Barat,” kata Emil.
“Jadi, nanti kalau sudah selesai aplikasinya bisa di-download. Warga yang menemukan informasi tinggal sampaikan via HP-nya tanpa harus menelepon atau ngecek website. Kemudian juga blasting informasi dari kami harian, update, sebaran, itu akan ada di aplikasi COVID-19 Jawa Barat ini,” katanya.
Untuk mencegah penularan Covid-19, Emil mendorong masyarakat melakukan tes proaktif bagi warga yang memiliki riwayat kontak dengan pasien positif atau telah bepergian dari negara terjangkit Covid-19.
Untuk tes proaktif ini, UPTD Laboratorium Kesehatan (Labkes) Jabar berkoordinasi dengan Laboratorium Mikrobiologi dan Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Pusat Penelitian Nanosains dan Nanoteknologi Institut Teknologi Bandung (ITB).
Hasil tes pun, kata Emil, bisa diketahui dalam waktu empat sampai lima jam melalui dua tahapan teknis pemeriksaan per orang. “Mulai kemarin kita sudah melakukan tes proaktif. Jadi, tidak menunggu dulu orang bergejala, masuk rumah sakit baru dicek. Hasilnya positif atau negatif (diserahkan) ke pemerintah pusat. Tapi kita melakukan tes proaktif melalui labkesnya Jawa Barat berkoordinasi dengan Fakultas Kedokteran Unpad dan Pusat Penelitian Nanosains dan Nanoteknologi ITB,” katanya.
Untuk mencegah penularan yang lebih luas lagi, Pemerintah Provinsi Jabar melakukan penelusuran. “Saya juga mengeluarkan surat edaran peningkatan kewaspadaan terhadap risiko penularan Covid-19 kepada seluruh OPD. Penyelenggaraan yang berdampak pada pengumpulan massa juga studi banding ke dalam maupun ke luar negeri, seminar dan kegiatan sejenis lainnya supaya ditunda,” kata Kang Emil.
Yang juga ditunda adalah proses kegiatan belajar-mengajar di kelas. Kegiatan ini diliburkan selama dua pekan.
Dia mengapresiasi langkah para kepala daerah di Jabar yang telah mengumumkan kegiatan belajar-mengajar di sekolah dipindahkan ke rumah selama dua pekan sebagai pencegahan dan penanggulangan Covid-19.
“Hari ini dipertegas dengan diumumkan oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat, sekolah dari mulai PAUD, TK, SD, SMP, SLB, SMA/SMK atau yang dalam kewenangan kami. Kami imbau perguruan tinggi juga untuk melakukan hal yang sama. Tapi khusus anak-anak yang level sekolah akan jadi agen edukasi,” katanya.
Sementara itu, PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (PT BIJB) memastikan bandara di Kertajati, Kabupaten Majalengka, aman bagi penumpang karena menerapkan standar kesehatan dan pengamanan yang memadai terkait pencegahan wabah virus corona.
Direktur Utama PT BIJB Salahudin Rafi, Minggu, mengatakan sebelum bandara tersebut menjadi lokasi pendaratan awak kapal pesiar Diamond Princess dari Jepang pada 3 Maret 2020, bandara sudah menerapkan prosedur terkait kebersihan dan kesehatan bandara.
“Bandara Kertajati kami pastikan aman bagi penumpang yang akan berangkat dari dan ke Bandara Kertajati,” katanya.
Rafi memastikan pihak pengelola bandara rutin melakukan disinfektan seluruh fasilitas dan ruang yang berada di bandara. Dia mengatakan prosedur pemeriksaan suhu penumpang yang berangkat dan tiba di bandara tersebut pun sudah dijalankan.
Menurutnya, seluruh standar ini sesuai dengan imbauan dan surat keputusan Gubernur Jabar Ridwan Kamil.
“Tim KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan) Bandara KJT, sudah melakukan dan rutin menggelar sejumlah upaya agar bandara ini bebas dari penyebaran virus, seluruh fasilitas dari mulai bagasi, eskalator, kursi tunggu penumpang, tangga kita lakukan disinfektan,” ujar Rafi.
Selain itu pihak PT BIJB meminta calon penumpang tidak khawatir dan tidak mempercayai beredarnya rumor dan hoaks yang memberitakan bahwa Menteri Perhubungan Budi Karya Soemadi tertular virus corona pada 3 Maret 2020 di Bandara Kertajati.
“Insya Allah Bandara Kertajati aman. Proses pendaratan ABK Diamond Princess beberapa waktu lalu prosedur keamanan dan kesehatan bandara sudah dilakukan, bahkan setelah pendaratan ABK bandara saat itu langsung disterilkan,” kata Rafi.
Selain itu pihaknya juga sudah meminta para pegawai di bandara untuk tetap waspada dan menjaga kesehatan dan mengikuti seluruh prosedur pencegahan yang diterapkan pihak bandara. (ing)
Editor : Bsafaat

