Jawab Harapan Anggota di Rakerda Apnatel Jabar
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Pengurus baru DPD Asosiasi Perusahaan Nasional Telekomunikasi (Apnatel) Jawa Barat menggelar rapat kerja daerah (rakerda) untuk yang pertama kalinya di awal tahun 2020 ini di Hotel Papandayan, Jalan Gatot Subroto, Kota Bandung, Rabu (5/2/2020).
Rakerda yang mengusung tema Apnatel Penggerak Pelaku Usaha Telekomunikasi di Jawa Barat ini bertujuan ingin segera mewujudkan Lingkungan Industri Optik (LIO) yang akan mendorong kemajuan telekomunikasi di Jawa Barat.
“Goal yang ingin dicapai dengan mengadakan rakerda ini, pertama, evaluasi keanggotaan Apnatel Jabar sampai hari ini. Kedua, ingin menjawab apa sih keuntungan menjadi anggota Apnatel yang sering kali dipertanyakan para anggotanya,” ujar Ketua DPD Apnatel Jabar Boris Syaifullah saat memberikan sambutan.
DPD Apnatel Jabar yang periode sebelumnya dipimpin oleh Iwan Supriawan, setelah menyelenggarakan Musda Apnatel Jabar pada 8 Agustus 2019 lalu, tampuk kepemimpinan DPD Apnatel Jabar periode 2019-2024 dilanjutkan oleh Boris Syaifullah yang juga sebagai Presdir PT Borsya Cipta Communica.
“Ini adalah rakerda yang pertama, sejak saya dilantik menjadi Ketua DPD Apnatel Jabar pada 18 September 2019 lalu. Janji pertama saya memiliki kantor yang representatif sudah terlaksana, kami memiliki kantor baru di Graha Merah Putih Bandung, Jalan Terusan Buahbatu, Kota Bandung,” kata Boris Syaifullah kepada INILAH di sela acara.
Keanggotaan Apnatel Jabar tercatat lebih dari 100 perusahaan, tapi itu juga termasuk anggota yang masa keanggotaannya sudah habis. “Di momen rakerda inilah, Apnatel Jabar memberi kesempatan gratis kepada anggota baru yang ingin bergabung tanpa dipungut biaya selama setahun 2020 ini. Dan bagi anggota lama yang masa keanggotaannya sudah habis gratis selama tiga bulan,” tambahnya.
Artinya, perusahaan ataupun perorangan yang menjadi anggota Apnatel Jabar akan mendapatkan banyak keuntungan. Mereka bisa mengikuti tender atau proyek yang diselenggarakan oleh pemerintah atau swasta karena mereka dibekali kartu tanda anggota (KTA) dan sertifikat badan usaha (SBU).
“Kebijakan ini untuk memancing teman-teman menjadi anggota Apnatel Jabar serta mengurangi biaya yang harus dikeluarkan, khususnya bagi perusahaan-perusahaan baru dan belum pernah mendapatkan proyek. Bila tidak digratiskan mereka harus mengeluarkan biaya minimal Rp5 juta, itu juga tergantung grade-nya,” papar Boris Syaifullah.
Program selanjutnya yang dijanjikan oleh Pengurus Daerah Apnatel Jabar adalah finishing mewujudkan Lingkungan Industri Optik (LIO). “Ini sudah hampir selesai, kerja sama dengan Korea Selatan sudah mantap, tinggal penetapan lokasi, baru mulai kerja,” pungkasnya. (sur)
Editor : suroprapanca

