Jelang HUT ke-19 KBB, Jembatan Swadaya Cilangari Masih Rapuh dan Tak Terurus
Menjelang HUT KBB, jembatan swadaya warga CIlangari masih rapuh, tak terurus hingga tak diperhatikan pemerintah
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-19 Kabupaten Bandung Barat (KBB), perhatian terhadap kualitas infrastruktur di daerah pelosok justru menjadi catatan penting.
Di Kampung Hegarmanah, Desa Cilangari, terdapat satu jembatan yang dibangun secara swadaya warga sejak tahun 2018, namun hingga kini belum mendapatkan perbaikan atau bantuan resmi dari pemerintah daerah meski kondisinya semakin memprihatinkan dan membahayakan keselamatan pengguna.
jembatan ini bukan sekadar penghubung antarwilayah, melainkan urat nadi kehidupan bagi warga tiga RW di wilayah ini. Mulai dari anak-anak menuju PAUD, Madrasah Ibtidaiyah, dan MTs, warga pergi bekerja, hingga menuju tempat ibadah dan kegiatan majelis taklim harus menggunakan jembatan ini.
Namun setelah tujuh tahun beroperasi dan hanya mengandalkan perawatan swadaya. Kini, struktur jembatan sudah lapuk dimakan usia, rapuh diterjang hujan dan panas, sehingga setiap langkah terasa seperti mempertaruhkan nyawa.
Kondisi yang memicu kekhawatiran ini justru terjadi saat Kabupaten Bandung Barat bersiap merayakan hari jadinya yang ke-19. Bahkan, viral di media sosial.
Kondisi ini pun menuai pertanyaan dari berbagai pihak terkait seberapa merata pembangunan infrastruktur yang digaungkan pemerintah daerah, jika akses vital yang sudah ada sejak pasca bencana longsor tahun 2018 ini belum juga tersentuh perbaikan yang layak.
“jembatan ini dibangun warga secara gotong-royong setelah longsor tahun 2018 menutup jalan utama," kata Kepala Desa Cilangari, Sabana saat dihubungi, Rabu (17/6/2026).
Hingga hari ini, ungkap Sabana, belum ada bantuan penuh dari desa, kabupaten, maupun provinsi. Warga harus memperbaikinya sendiri setiap tiga bulan sekali dengan biaya swadaya.
"Kami khawatir sewaktu-waktu terjadi kecelakaan, apalagi dilewati anak sekolah dan kendaraan roda dua setiap hari," jelasnya.
Sabana menyebut, sebagai akses satu-satunya yang menghubungkan RW 02 dan RW 17, jembatan ini sangat vital. Sudah banyak laporan warga.
"Kami mendesak dinas terkait dan pemerintah daerah untuk segera merespons, terutama menjelang momen HUT KBB agar pembangunan benar-benar terasa hingga ke pelosok desa," sambungnya.
Sabana menyebut, warga tidak meminta fasilitas yang mewah, melainkan hanya jembatan yang aman dan layak pakai.
"Harapan mereka sederhana, agar peringatan hari jadi daerah juga diiringi perhatian nyata terhadap keselamatan dan masa depan warganya," sebutnya.
Oleh karena itu, pihaknya menyampaikan aspirasi warga kepada pemerintah daerah dan berbagai instansi terkait agar segera memberikan bantuan pembangunan jembatan yang lebih aman dan permanen.
“Kami memohon perhatian dari pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, serta instansi terkait lainnya, termasuk TNI dan Polri. Kondisi jembatan saat ini sudah tidak layak digunakan," ujarnya.
Sabana mengungkapkan, permohonan tersebut merupakan aspirasi masyarakat dari tiga RW di Kampung Hegarmanah yang selama ini terus berupaya mempertahankan akses tersebut melalui kerja bakti dan gotong royong.
“Kami berharap pembangunan jembatan ini dapat segera direalisasikan demi keselamatan dan kenyamanan masyarakat. jembatan yang layak akan sangat membantu aktivitas pendidikan, sosial, dan keagamaan warga,” katanya.
Editor : Ahmad Sayuti


