Kala Boca Juniors Mempermalukan AI
TAK ada yang cerdas soal sepak bola. Tidak juga Artificial Intelligence (AI). Kegagalan Boca Juniors mengalahkan Auckland City buktinya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
TAK ada yang cerdas soal sepak bola. Tidak juga Artificial Intelligence (AI). Kegagalan Boca Juniors mengalahkan Auckland City buktinya.
Boca Juniors hanya mampu bermain imbang 1-1 lawan Auckland City dalam laga terakhir penyisihan Grup C Piala Dunia Antarklub 2025. Mereka pulang ke Argentina tanpa pernah bisa menang sekalipun di grupnya.
Yang lolos dari Grup C adalah Benfica dan Bayern Munchen. Dalam waktu bersamaan, Benfica mengalahkan Bayern Munchen 1-0.
Siapa yang dipermalukan kekalahan memalukan Boca Juniors, klub yang pernah melahirkan legenda Diego Maradona, dari klub yang pemainnya berstatus penjaga toko hingga guru olahraga itu?
Ada tiga: pelatih Miguel Angel Russo, para pemain –termasuk sekelas Edinson Cavani, dan AI.
Kenapa AI? Temuan teknologi informasi yang membuat kagum Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sehingga mengusulkannya masuk sebagai kurikulum di sekolahan itu, sehari sebelum pertandingan Boca Juniors vs Auckland City ditanya wartawan sebuah media di Argentina: bagaimana peluang klub Argentina itu memenangkan pertandingan itu?
AI membuat gebrakan. Ia tak ingin ketinggalan, menyajikan pratinjau yang sangat pedas, memberikan prediksi menarik. Tak hanya soal hasil pertandingan, tapi juga klasemen akhir Grup C.
“Sepertinya pertandingan yang menarik. Boca Juniors, dengan sejarah gelar dan pengalaman internasional mereka, jelas difavoritkan di atas kertas, meskipun Auckland City adalah tim yang cenderung mengejutkan, mendominasi di Oseania dan memiliki beberapa pengalaman dalam jenis turnamen ini,” AI memulai.
“Namun, perbedaan klasemen sangat jelas terlihat saat Auckland menghadapi tim-tim elit. Boca Juniors adalah raksasa Amerika Selatan dan pasti akan berusaha keras dengan ambisi besar mencetak gol untuk mengejar tiket 16 Besar. Jika mereka tampil fokus, mereka dapat memanfaatkan kelemahan pertahanan lawan dan mencetak beberapa gol,” tambahnya.
“Kemenangan besar bagi Boca sama sekali tidak terdengar mengada-ada. Saya memprediksi kemenangan 5-0, yang akan sangat mungkin terjadi jika tim Argentina bermain agresif sejak awal,” tambahnya.
Bahkan, dengan angkuhnya, AI pun menuliskan siapa-siapa saja yang akan mencetak gol. “Saya melihat dua gol dari Miguel Merentiel, serta gol-gol dari Edinson Cavani, Kevin Zenon, dan Lucas Janson,” tambahnya.
Selain itu, AI juga memberikan prediksi yang hasilnya kemudian ternyata konyol, soal pertandingan Bayern Munchen vs Benfica.
“Secara paralel, Bayern Munchen akan mengalahkan Benfica 2-1. Hasil yang sangat ketat. Harry Kane dan Jamal Musiala dapat mencetak gol bagi tim Jerman, sementara Nicolas Otamendi memiliki peluang untuk menyundul bola ke gawang Portugal,” imbuh AI.
Jika kedua hasil yang diprediksi AI ini menjadi kenyataan, pasukan Miguel Angel Russo. tidak akan cukup untuk mencapai babak 16 besar Piala Dunia Antarklub. Mereka memiliki selisih gol +4, sementara Benfica +5.
“Boca memiliki probabilitas matematis sebesar 8,1 persen untuk melaju ke babak 16 besar,” demikian pernyataan AI.
“Model ini didasarkan pada tiga kejadian independen yang harus terjadi secara bersamaan,” jelas AI, yang juga menguraikan probabilitas yang menguntungkan Boca Juniors di setiap pertandingan.
“Boca Juniors memiliki peluang 90% untuk mengalahkan Auckland City, yang kemungkinan besar mempertimbangkan tingkat performa yang ditunjukkan oleh tim Selandia Baru, yang kebobolan 16 gol dalam dua pertandingan,” sebutnya.
“Namun, angka-angka tersebut menurun drastis dengan faktor kedua: besarnya kemenangan,” tambahnya.
“Peluang Boca menang dengan tujuh gol atau lebih adalah 15%. Itu hasil yang tidak biasa dalam sepak bola profesional,” tegasnya.
Satu yang sedikit luput dari instrumen AI, khususnya dalam pertandingan Boca Juniors vs Auckland City, adalah idiom “bola itu bundar”. Dia bisa menggelinding kemana saja, mengejutkan para penonton, bahkan pemain.
Betul, AI sedikit membuka peluang kejutan dengan pernyataan: “Meskipun Auckland City adalah tim yang cenderung mengejutkan, mendominasi di Oseania dan memiliki beberapa pengalaman dalam jenis turnamen ini”.
Tapi, prediksi kemenangan 5-0 dengan menyebut kemungkinan daftar pencetak golnya, adalah kekonyolan. Sok tahu.
Khusus soal bola, AI tampaknya harus banyak belajar dari pengamat, pundit, pemrediksi sepak bola –dengan tetap membuka peluang hadirnya kejutan dan tak suka-suka memperkirakan si A, B, atau C mencetak gol.
Sebab apa? Bola itu bundar, bisa menggelinding kemana saja, bisa masuk ke gawang klub manapun. Intuisi itu rupanya yang tak dimiliki AI. Tapi, ah, AI kan memang dilahirkan bukan untuk masalah-masalah intuitif seperti itu ya. Jadi, kalaupun analisanya kacau, ya tetap saja takkan merasa dipermalukan. (*)
Editor : Zulfirman

