KBB Dorong Pembudidaya Ikan Beralih ke Mini RAS, Keramba Waduk Melampaui Kapasitas

Dispernakan KBB mendorong pembudidaya ikan di Waduk Cirata dan Saguling beralih ke Mini RAS untuk mengatasi tekanan lingkungan dan meningkatkan efisiensi budida

KBB Dorong Pembudidaya Ikan Beralih ke Mini RAS, Keramba Waduk Melampaui Kapasitas
Kelompok Jaring Apung atau KJA di kawasan Waduk Saguling.

INILAHKORAN.ID - Tekanan ekologis dan keterbatasan ruang di dua waduk strategis Kabupaten Bandung Barat (KBB) memaksa perubahan besar dalam sektor perikanan budidaya. 

Oleh karena itu, Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB mendorong para pembudidaya ikan di keramba jaring apung (KJA) Waduk Cirata dan Waduk Saguling untuk mulai beralih ke sistem budidaya kolam darat. 

"Upaya ini diambil karena keberadaan ribuan petak keramba di kedua waduk tersebut telah melampaui daya dukung lingkungan yang ditetapkan," kata Wiwin, Senin (26/10/2026).

Berdasarkan data resmi Dispernakan KBB, jumlah keramba di Waduk Cirata, Kecamatan Cipeundeuy, tercatat mencapai 27.794 petak pada tahun 2026. Sementara itu, di Waduk Saguling tercatat sebanyak 45.464 petak hingga akhir tahun 2025. 

"Angka-angka tersebut sudah melebihi kapasitas yang diizinkan, sehingga transisi menuju sistem yang lebih berkelanjutan menjadi keharusan yang tidak bisa ditunda lagi," sebutnya.

Wiwing mengungkapkan, salah satu teknologi yang ditawarkan sebagai solusi pengganti adalah sistem Mini Recirculating Aquaculture System (RAS). 

Ia menjelaskan, teknologi ini merupakan metode budidaya ikan skala kecil yang mengandalkan sistem sirkulasi dan penyaringan air berkelanjutan, sehingga air kolam dapat digunakan kembali secara efisien tanpa harus diganti seluruhnya. 

"Sistem ini dilengkapi dengan pompa, filter mekanis, filter biologis, serta alat aerasi yang bekerja menjaga kualitas air dan kesehatan ikan secara optimal," katanya.

"Keunggulan utamanya terletak pada kemampuan beroperasi di lahan yang terbatas, penghematan air yang signifikan, serta kontrol kualitas lingkungan budidaya yang jauh lebih baik dibandingkan sistem konvensional," jelasnya.

Kendati Mini RAS memerlukan investasi awal untuk peralatan, pasokan listrik yang andal, serta pemeliharaan rutin pada sistem filtrasi dan pemantauan kualitas air, terang Wiwin, teknologi ini menawarkan keuntungan jangka panjang yang nyata. 

Selain efisiensi air dan lahan, sistem ini memungkinkan penjadwalan produksi dan panen yang lebih terencana sesuai permintaan pasar, serta kepadatan tebar ikan yang lebih tinggi dengan tingkat keberhasilan yang lebih terukur. 

"Teknologi ini memungkinkan budidaya dilakukan pada lahan terbatas, dengan penggunaan air yang lebih efisien dan pengelolaan produksi yang lebih terkendali," paparnya.

Lebih lanjut Wiwin menuturkan, tekanan untuk melakukan transisi ini diperkuat oleh data penurunan produksi ikan yang cukup signifikan tahun ini. Sepanjang periode Januari–Agustus 2026, total produksi ikan di Kabupaten Bandung Barat tercatat 28.748 ton, angka ini berada di bawah target yang ditetapkan sebesar 29.648 ton dan mengalami penurunan tajam dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 38.296 ton. 

Penurunan sebesar hampir 25 persen ini diduga kuat dipicu oleh panjangnya musim kemarau yang menyebabkan debit air menyusut drastis di kedua waduk maupun sumber air tawar di daratan. 

"Kalau ketersediaan air terus menurun, otomatis ruang untuk kegiatan budidaya juga terbatas. Kondisi ini pada akhirnya berpengaruh terhadap produktivitas pembudidaya," imbuhnya.

Meski begitu pihaknya tetap optimistis produksi bakal kembali membaik seiring perubahan musim. Wiwin juga memproyeksikan pemulihan produksi ikan akan mulai terlihat pada akhir tahun 2026, khususnya pada rentang bulan November hingga Desember saat curah hujan meningkat dan debit air kembali normal. 

"Kami berharap, transisi menuju sistem Mini RAS dapat berjalan beriringan dengan pemulihan kondisi lingkungan waduk, sehingga mata pencaharian ribuan keluarga pembudidaya ikan tetap terjamin tanpa terus membebani ekosistem perairan yang sudah jenuh," pungkasnya.


Editor : Ahmad Sayuti