Pernyataan Menteri Kelautan dan Perikanan Bikin Gaduh, Pembudidaya Ikan KJA di Waduk Cirata Minta Pemerintah Berikan Solusi Konkret
Para pembudidaya ikan Keramba Jaring Apung (KJA) di Waduk Cirata, Kecamatan Cipeundeuy yang dihadapkan pada persoalan usai Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyebut ikan Waduk Cirata tak laik konsumsi karena kandungan merkuri.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Seolah tak pernah habis, warga Kabupaten Bandung Barat (KBB) terus didera beragam persoalan, terutama kalangan bawah.
Teranyar, para pembudidaya ikan Keramba Jaring Apung (KJA) di Waduk Cirata, Kecamatan Cipeundeuy yang dihadapkan pada persoalan usai Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menyebut ikan Waduk Cirata tak laik konsumsi karena kandungan merkuri.
Tak cuma itu, mereka juga dihadapkan pada masalah eceng gondok dan harga pakan mahal. Namun, dibalik pernyataan itu, tidak ada solusi konkret pemerintah yang dirasakan para pembudidaya KJA di Waduk Cirata.
"Kami minta ada perhatian dari pemerintah karena yang dihadapi pembudidaya KJA ini banyak sekali," kata salah seorang pembudidaya KJA Waduk Cirata, Asep Sulaeman (53) baru-baru ini.
"Kami minta ada solusi buat ikan yang disebut mengandung merkuri, kemudian masalah eceng gondok, dan harga ikan murah," sambungnya.
Pria paruh baya ini menuturkan, keberadaan eceng gondok memang menjadi salah satu musuh para pembudidaya ikan KJA.
Menurutnya, keberadaan tanaman berwarna hijau yang mengambang di permukaan waduk itu tak berdampak positif pada ikan-ikan yang dibudidaya, justru sebaliknya.
"Eceng gondok itu menyerap oksigen di air, akhirnya mengganggu kondisi air dan ikan," tuturnya.
"Akibatnya, pertumbuhan ikan jadi lebih lambat, karena mereka enggak mau makan. Akhirnya kan berdampak lagi ke kualitas ikan," jelasnya.
Tak cuma itu, sebut Asep, keberadaan eceng gondok juga kerap mengganggu lalu lintas perahu yang mengangkut hasil panen ikan.
Pasalnya, perahu tidak akan bergerak dan merusak mesin karena tersangkut pada tanaman tersebut.
"Jadi banyak masalahnya dari eceng gondok ini. Selama ini, aksi dari Citarum Harum juga kurang efektif, harus ada pengangkutan besar-besaran," sebutnya.
Selain itu, ungkap Asep, para pembudidaya KJA juga dihadapkan pada persoalan harga ikan yang terus menurun sementara harga pakan terus melambung tinggi.
Oleh karena itu, pihaknya meminta ada solusi untuk menstabilkan harga ikan di pasaran.
"Harga ikan sekarang turun, ikan mas itu sekarang Rp23 ribu, normalnya Rp30 ribuan, kemudian nila itu Rp23 ribu, normalnya Rp25 ribu. Sementara harga pakannya mahal. Katanya kan bahannya impor," paparnya.
Kemudian, pernyataan Menteri Kelautan dan Perikanan terkait ikan Waduk Cirata tak laik konsumsi gegara mengandung merkuri, dipastikan berdampak pada penjualan ikan dari waduk tersebut.
"Tentunya khawatir menurun, nanti orang-orang enggak mau beli ikan dari sini. Berdampak ke usaha pembudidaya akhirnya. Kami minta solusi konkret juga terkait pernyataan tersebut," tandasnya.
Editor : Doni Ramdhani


