Kemarau, Produksi Petani Kopi di Kabupaten Bandung Menurun
Musim kemarau berdampak pada penurunan produksi pertanian kopi di Kabupaten Bandung. Angin kencang merontokkan bunga kopi yang tengah berkembang.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH,Bandung- Musim kemarau berdampak pada penurunan produksi pertanian kopi di Kabupaten Bandung. Angin kencang merontokkan bunga kopi yang tengah berkembang.
Yuli Hidayat, salah seorang petani kopi di Gunung Puntang Kecamatan Cimaung Kabupaten Bandung mengaku produksi kopi pada 2019 mengalami penurunan 15 persen dibandingkan tahun kemarin. Penurunan produksi terjadi pada luas area tanam kopi sebanyak 4 hektar.
"Tahun ini mengalami penurunan sekitar 15 persen dibandingkan tahun lalu. Penyebabnya angin kencang, pas kopi berbunga. Bunganya rontok," kata Yuli, Senin (23/9/2019).
Yuli menjelaskan,' produksi kopi yang menurun berdampak kepada tingkat penjualan kopi yang dikelolanya. Karena produksi menurun, ia tak bisa memenuhi pesanan konsumennya secara maksimal.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Tisna Umaran mengatakan musim kemarau yang berlangsung di Kabupaten Bandung berdampak kepada panen raya yang hanya sekali. Sedangkan di wilayah Sumatera Utara panen raya bisa dua kali.
"Dampak kemarau ke kita jadi sekali panen Raya (Juli-Agustus," katanya.
Menurut Tisna, pada 2018, produksi kopi dari luas tanam 11.029 hektar lebih mencapai 6600 ton. Sedangkan pada 2019 hanya mencapai 34.29.9 ton.
Produksi kopi mengalami penurunan. Musim kemarau berdampak kepada proses produksi yang terhambat. Sehingga produksi akan mengalami kekurangan dan tidak akan sama dengan tahun sebelumnya. Kelompok tani kopi mencapai 206 kelompok dengan jumlah petani mencapai 15 ribu orang.
"Tahun kemarin kemaraunnya tidak terlalu ekstrim. Kalau sekarang relatif ekstrim," ujarnya.(rd dani r nugraha).
Editor : Bsafaat

