Kemendikbudristek Dorong Sekolah Gunakan QR Code untuk Deteksi Penyebaran Covid 19
Kemendikbudristek mendorong sekolah segera menggunakan QR Code untuk meminimalisir penyebaran dan deteksi dini Covid 19
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN,Jakarta,- Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) mendorong penggunaan teknologi seperti Quick Response Code (QR Code) untuk deteksi penyebaran Covid 19 di sekolah.
Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek, Suharti menyebutkan, dengan menggunakan QR Code di sekolah, maka diharapkan dapat melakukan antisipasi dini dan mencegah penyebaran Covid 19 di klaster pendidikan.
Terkait kebutuhan penggunaan QR Code tersebut, Suharti menyebutkan Kemendikbudristek mendorong sekolah dapat berkoordinasi dan menghubungi dinas pendidikan di daerahnya masing-masing.
Baca Juga: Fuji Ramai Dijodohkan dengan Pria Lain, Tak Disangka Ini yang Dikatakan Thariq Halilintar
"Kami mendorong penggunaan teknologi untuk memantau perkembangan pandemi di masing-masing satuan pendidikan. Sebagai contoh kita sudah punya Quick Response Code (QR Code) di masing-masing sekolah,” ujar Suharti seperti dikutip inilahkoran.id dari Antara Senin, 3 Januari 2022
Menurut Suharti, jika sekolah belum memiliki QR Code, pihaknya meminta masing-masing sekolah untuk menghubungi dinas pendidikan. Kemendikbudristek sudah menyiapkan masing-masing sekolah memiliki QR Code.
Dengan demikian, maka sekolah akan tahu jika ada warga sekolah yang sudah divaksinasi dan yang belum mendapatkan vaksinasi.
Baca Juga: 20 Warga Jabar Terpapar Omicron, Ridwan Kamil Sebut Belum Ada Penularan Lokal
Bahkan jika misalnya ada yang terinfeksi Covid 19, maka akan diberikan notifikasi ke sekolah dan pada dinas supaya dilakukan pemantauan lebih lanjut.
"Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa mereka yang terinfeksi atau mereka yang memiliki kontak erat bisa mendapatkan perawatan dari satuan kesehatan terdekat,” terang Suharti.
Dia berharap dengan perubahan tersebut, dapat memastikan bahwa siswa, guru maupun tenaga kependidikan bahkan keluarga dapat terlindungi lebih baik lagi.
Baca Juga: Ridwan Kamil Ungkap 180 Vaksin Nyaris Kedaluwarsa
Pembelajaran tatap muka yang dilakukan secara terbatas, semata-mata dilakukan demi kebaikan warga sekolah.
Pelaksanaan pendidikan jarak jauh yang sebelumnya diselenggarakan, lanjut dia, telah memberikan tekanan yang cukup besar tidak hanya pada siswa tetapi juga orang tua dan guru.
Bahkan studi yang dilakukan oleh Bank Dunia juga menunjukkan bahwa terjadi penurunan kemampuan siswa selama periode kemarin mencapai 0,8 tahun hingga 1,3 tahun pembelajaran.
Baca Juga: Disdik Kota Bandung: PTM 100 Persen, Keselamatan dan Kesehatan Warga Sekolah Harus Jadi Prioritas
Ini sangat besar sekali, dengan pandemi yang belum juga dua tahun tapi penurunan kemampuan siswa lebih dari satu tahun.
Selain itu juga, terjadi kesenjangan pembelajaran antara anak-anak dari kelompok keluarga kaya dengan keluarga miskin yang semakin terlihat kesenjangannya.
Bagi anak dari keluarga mampu, pembelajaran di rumah mungkin dilakukan karena dapat mengakses sumber daya dengan baik dan orang tuanya rata-rata berpendidikan serta mampu melakukan bimbingan pada anak.
Baca Juga: Jelang PTM 100 Persen, Netty: Penerapan Prokes di Sekolah Harus Diawasi
Sementara bagi keluarga yang tidak mampu, memiliki keterbatasan dalam mengakses sumber daya dan juga umumnya orang tuanya tidak cukup memiliki pendidikan, sehingga tidak bisa memberikan bimbingan yang baik pada anak-anaknya.***
Editor : inilahkoran


