Kemenhaj Jabar Larang Seremoni, Jemaah Haji Terancam Gagal Berangkat Akibat Kelelahan

Praktik seremonial pelepasan jemaah haji yang berlarut-larut disorot Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Jabar.

Kemenhaj Jabar Larang Seremoni, Jemaah Haji Terancam Gagal Berangkat Akibat Kelelahan
Alih-alih memperkuat kesiapan spiritual, seremoni panjang yang digelar di daerah hingga ke embarkasi dinilai memicu kelelahan yang berdampak langsung pada kesehatan jemaah. (ilustrasi/dok)

INILAHKORAN.ID - Praktik seremonial pelepasan jemaah haji yang berlarut-larut disorot Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Jabar.

Kanwil Kemenhaj Jabar menilai, tradisi tersebut justru berpotensi menggerus kondisi fisik jemaah haji sejak sebelum keberangkatan.

Alih-alih memperkuat kesiapan spiritual, seremoni panjang yang digelar di daerah hingga ke embarkasi dinilai memicu kelelahan yang berdampak langsung pada kesehatan jemaah. Sebab itu, Kemenhaj Jabar mengambil langkah tegas dengan membatasi kegiatan pelepasan dan melarang seremoni di asrama haji.

Kepala Kanwil Kemenhaj Jabar Boy Hari Novian memastikan, kebijakan itu telah disampaikan kepada seluruh Kemenhaj kabupaten/kota serta pemerintah daerah.

“Kami imbau ke Kemenhaj kabupaten/kota, pejabat bupati, wali kota bahwa di embarkasi Bekasi maupun Indramayu tidak ada lagi seremonial serah terima jemaah haji. Jadi pelepasan jemaah cukup di daerah saja. Kalau di embarkasi, kami tidak menerima hal itu,” tegas Boy, Minggu (19/4/2026).

Dia menegaskan, setibanya di asrama, jemaah akan langsung difokuskan pada tahapan teknis keberangkatan tanpa tambahan acara seremonial.

“Jadi tidak ada sambutan dan serah terima Jemaah lagi. Tujuannya apa? karena jemaah harus cukup istirahat,” ucapnya.

Menurut Boy, pola lama yang mengharuskan jemaah berkumpul sejak dini hari untuk mengikuti seremoni, kemudian melanjutkan perjalanan panjang ke asrama, terbukti memicu kelelahan massal setiap musim haji.

“Jadi pelepasan jemaah itu sudah jadi kebiasaan ya. Misal jemaah sejak pukul 04.00 (WIB) kumpul hanya untuk pelepasan, lalu perjalanan ke asrama dan akhirnya mereka kelahan. Ini kejadian tiap tahun. Kelelahan ini membuat Hb darah turun, parahnya lagi kalau turun, bisa sampai transfusi darah dan pada akhirnya tertinggal kloter,” ujarnya.

Dampaknya tak sepele, jemaah yang mengalami penurunan kondisi kesehatan berisiko gagal berangkat bersama kelompoknya dan harus menunggu peluang di kloter berikutnya.

“Kalau tertinggal harus menyusul bergabung dengan kloter selanjutnya. Itu pun kalua ada seat kosong, kalau begitu kejadiannya kan kasian ke jemaahnya juga pada akhirnya,” ucapnya.

Dia mengingatkan, ibadah haji menuntut kesiapan fisik yang optimal. Karena itu, menjaga stamina sejak sebelum masuk asrama menjadi kunci utama.

“Makanya jemaah harus banyak istirahat biar fit. Hb rendah ya tidak layak terbang dan ini terjadi tiap tahun. Jemaah kelalahan, sebelum ke asrama mereka di rumah banyak terima tamu, ditambah lagi ada seremonial yang memakan waktu, lalu malamnya tidak bisa tidur,” katanya.

Sebagai langkah solutif, Boy menyarankan agar seremoni pelepasan tetap dilakukan di daerah, namun dijadwalkan jauh sebelum hari keberangkatan agar tidak mengganggu waktu istirahat jemaah.

Sisi lain, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Pemprov Jabar Asep Sukmana menekankan pentingnya kerja kolektif dalam penyelenggaraan haji melalui Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH). Dia menilai seluruh unsur harus bergerak sebagai satu sistem untuk memastikan layanan optimal.


Editor : Doni Ramdhani