Keperluan MBG Dongkrak Harga di Pasar, Warung Kopi Imah Babaturan Merugi

Beroperasinya dapur sejumlah satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) memberikan dampak negatif terhadap keberlangsungan warung makan tradisional.

Keperluan MBG Dongkrak Harga di Pasar, Warung Kopi Imah Babaturan Merugi
Seorang pekerja mengambil menu yang dimasak di dapur Warung Kopi Imah Babaturan. Tahun ini, usaha warung tradisional menu rumahan itu berjalan selama 11 tahun. (doni ramdhani)

INILAHKORAN.ID - Beroperasinya dapur sejumlah satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) memberikan dampak negatif terhadap keberlangsungan warung makan tradisional.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan Mohammad Nurul Hudha mengaku dampak itu terasa saat program makan bergizi gratis (MBG) digulirkan pemerintah.

Pasalnya, harga sejumlah komoditas di pasar tradisional yang menjadi bahan baku warung kin menjadi mahal. Seperti daging ayam, dia mengaku saat ini harus membeli dengan harga sebesar Rp48 ribu per kg.

"Sebelum ada program MBG, harga daging ayam paling sekitar Rp35-38 ribu per kg. Sekarang, harganya bisa Rp48 ribu per kg," kata Nurul saat ditemui di warung miliknya, Selasa (13/10/2026).

Tingginya harga bahan baku itu memaksa dia untuk merugi. Sebab, untuk mengurangi kualitas dan porsi sebuah menu itu relatif riskan dilakukan pelaku bisnis F&B.

"Ya, mau gimana lagi. Margin semakin menipis. Kapaksa kita merugi dalam setiap porsi menu ayam yang disajikan," tambahnya seraya mengeluhkan kini pun daya beli masyarakat terus menurun.

Meski demikian, Nurul bersama istri Anggia Bonyta tetap menjalankan usaha makanan dan minuman rumahan yang berada di kawasan Jalan Tamansari, Kota Bandung.

Mereka berdua memilih untuk terus memutar roda usaha yang kini memiliki sebanyak 80 orang pekerja di dua cabang berbeda. Tanggung jawab sosial menjadi alasan mereka tetap beroperasi hingga saat ini menginjak tahun ke-11.

Terkait menurunnya daya beli masyarakat, Nurul mengaku hal itu jelas terlihat dari anjloknya jumlah pesanan. 

"Kalau dulu menu cumi sambel ijo bisa keluar hingga 30 pax per hari, sekarang turun jadi 20 pax," ujarnya.

Selain itu, tekanan pun datang dari aspek pembiayan. Nurul mengaku sebelumnya untuk mendapatkan pinjaman dengan agunan ke bank itu hanya dibebani bunga sebesar 9-10 persen.

"Sekarang, in this economy, untuk mendapat pinjaman itu kita dibebani bunga hingga 12-14 persen," tambahnya seraya mengharapkan pemerintah memberikan kepastian yang sangat dibutuhkan para pelaku usaha menjalankan bisnisnya.


Editor : Doni Ramdhani