Keren, Puskesmas Ini Terapkan Terapi Gangguan Jiwa Model 'Ndeso'
Keterbatasan-keterbatasan mendorong Puskesmas Gitik di Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, berinovasi untuk menangani warga dengan gangguan jiwa.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Banyuwangi- Keterbatasan-keterbatasan mendorong Puskesmas Gitik di Kecamatan Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, berinovasi untuk menangani warga dengan gangguan jiwa.
Kepala Puskesmas Gitik Didik Rusdiono mengatakan bahwa tahun 2017 jumlah orang dengan gangguan jiwa di wilayah kerja puskesmasnya tercatat 54 orang dan tujuh di antaranya mengalami pemasungan.
Puskesmas dalam setahun berhasil menurunkan angka pemasungan menjadi nol dan menurunkan jumlah orang dengan gangguan jiwa menjadi 37 orang, antara lain berkat penanganan gangguan jiwa yang dinamai Teropong Jiwa, Terapi Okupasi dan Pemberdayaan Orang Dengan Gangguan Jiwa.
Dalam upaya menangani masalah gangguan jiwa di wilayah kerjanya, Puskesmas Gitik sejak 2017 menjalankan upaya untuk menemukan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan orang dengan gangguan jiwa yang mengalami pemasungan. Tugas itu dijalankan oleh kader puskesmas yang dinamai Gardu Jiwa.
Kader Gardu Jiwa mencari dan melapor ke puskesmas saat menemukan ODGJ atau orang yang mengalami pemasungan. Puskesmas akan menindaklanjuti laporan dengan menurunkan tenaga medis, yang dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh warga dan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakay (Bhabinkamtibmas).
Puskesmas Gitik mengirimkan tenaga medis yang telah dilatih menangani masalah kejiwaan untuk merawat orang dengan gangguan jiwa di rumah mereka dengan bantuan keluarga selama kurun waktu tertentu, sesuai dengan kondisi kejiwaan pasien.
Petugas puskesmas akan melakukan rawat jalan kalau pasien gangguan jiwa dirasa sudah cukup stabil, tidak gaduh gelisah, tidak berkeliaran tanpa arah, dan bisa merawat diri dalam keseharian.
Selama rawat jalan, anggota keluarga atau warga sekitar akan mengantar pasien gangguan jiwa tersebut menjalani perawatan lanjutkan ke puskesmas.
Kepala Program Kesehatan Jiwa Puskesmas Gitik Eko Budi Cahyono mengatakan puskesmas juga mengadakan kelas terapi setiap satu bulan sekali.
Dalam kelas terapi tersebut, orang-orang yang mengalami gangguan jiwa diajak membuat barang kerajinan seperti menganyam dan merangkai bunga atau bermain musik.
Namun, yang menjadi andalan puskesmas adalah terapi kerja dalam program keluarga asuh dan pengusaha asuh yang memungkinkan ODGJ bekerja di unit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dalam program itu, pengusaha kue kering rumahan UD Aulia Royana Andi Ainur Rohman mempekerjakan empat ODGJ yang ditugasi membantu membuat kue kering, termasuk di antaranya Sumartin, yang sudah bekerja membuat kue kering sejak 2017.
"Dulu masih kurang stabil, lewat depan rumahnya saja saya takut. Lalu tim puskesmas menangani, tahun 2017 membuat Teropong Jiwa. Adik saya yang dulu takut sekarang Alhamdulillah santai, masuk rumahnya berani, bahkan guyon," kata Andi tentang Sumartin.
Pada Senin (30/9), Sumartin tampak sangat terampil mencetak kue satu, kue khas Banyuwangi, di dapur UD Aulia Royana yang berada di Desa Lemahbang Dewo, Kecamatan Rogojampi.
Saat berbincang, perempuan berusia 50 tahun itu tidak terlihat seperti orang yang mengalami gangguan jiwa.
Editor : Bsafaat

