Kian Tergerus Teknologi, Paguyuban Paku Sunda Berkomitmen Lestarikan Seni dan Budaya yang ada di Cimahi
Kian tergerusnya tradisi dan budaya oleh digitalisasi teknologi menuai keprihatinan pelbagai pihak terutama dari seniman dan budayawan yang ada di Kota Cimahi.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - Kian tergerusnya tradisi dan budaya oleh digitalisasi teknologi menuai keprihatinan pelbagai pihak terutama dari seniman dan budayawan yang ada di Kota Cimahi.Betapa tidak, pelestarian seni budaya yang menjadi warisan leluhur yang ada di Kota Cimahi kini semakin terancam punah akibat sulitnya regenerasi.
Kondisi tersebut menjadi catatan khusus Paguyuban Paku SUnda yang memiliki misi untuk melestarikan seni dan budaya tradisional yang ada di Kota Cimahi.
Berlokasi di Jl. Sentral No 166, Cimahi Utara, Paguyuban Paku Sunda ini aktif menjaga warisan leluhur melalui berbagai kegiatan seni tradisi, termasuk tari, musik, dan pencak silat.
"Meski regenerasi seni dan budaya menjadi tantangan besar untuk bisa dilestarikan, namun kami terus berupaya untuk memajukan dan mengembangan warisan para leluhur," kata Ketua Paguyuban Paku Sunda, Gani Abdul Rahman Minggu 29 September 2024.
Menurutnya, perkembangan tersebut tidak terlepas dari kolaborasi dengan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudparpora) serta Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (DKKC).
"Kesadaran budaya di Cimahi mulai meningkat, lebih banyak acara kesenian lokal yang dilaksanakan," kata Gani.
Gani pun tak memungkiri di tengah pesatnya gempuran teknologi dan digitalisasi generasi muda cenderung menghabiskan waktu dengan gawainya. Alhasil mereka lupa dengan seni dan tradisi yang menjadi jati dirinya.
"Banyak anak muda yang lebih tertarik pada media sosial, dan ini menjadi tantangan tersendiri bagi kami karena mereka terpapar budaya asing dengan cepat dan mudah melalui platform seperti YouTube," ucapnya.
Menyikapi persoalan tersebut, kata Gani, Paguyuban Paku Sunda punya cara tersendiri untuk menarik minat generasi muda agar peduli terhadap seni dan budayanya, yakni dengan mengedepankan pendidikan karakter berbasis budaya.
Pihaknya aktif membuka sanggar dan padepokan untuk memberi ruang bagi anak muda mengasah bakat mereka dalam seni tradisional.
"Kami berharap pemerintah daerah dapat lebih banyak berperan, khususnya melalui program-program pendukung untuk seni tari, musik, dan pencak silat," paparnya.
Selain fokus pada pelatihan seni, paguyuban ini juga berupaya menghidupkan kembali tradisi warisan seperti Jamasan, Ngabungbang, dan Hajat Lembur yang semakin langka di Cimahi.
Mirinya, saat diadakan kegiatan bersama anak-anak muda, Gani mendapatkan fakta yang kian membuatnya prihatin di mana banyak dari mereka tidak mengenal alat musik tradisional yang terbuat dari bambu.
"Dalam sebuah sesi latihan, banyak yang tidak mengenal angklung atau suling, ini sangat memprihatinkan," ungkapnya.
Gani pun berkomitmen untuk mendedikasikan diri melestarikan dan memperkenalkan seni dan budaya yang ada di Cimahi, termasuk mengenalkan beragam alat musik tradisional dan kesenian lainnya kepada generasi muda.
Di lain pihak, Gani pun mengakui adanya dukungan dari pemerintah yang sudah mulai terlihat melalui berbagai event seni seperti Cimahi Menari, namun ia berharap agar ke depannya lebih banyak seniman lokal yang dilibatkan.
"Ada banyak komunitas seni di Cimahi, dari musik bambu hingga etnik. Jangan sampai hanya segelintir seniman yang mendapatkan pengakuan," pungkasnya.***
Editor : Ahmad Sayuti
