Kisah Warga Desa Cipada KBB Bangkit dari Hantaman Pandemi dengan Inovasi dari Bambu

Warga Desa Cipada KBB mampu bangkit dari terpaan pandemi Covid-19 dengan berinovasi menggunakan bambu.

Kisah Warga Desa Cipada KBB Bangkit dari Hantaman Pandemi dengan Inovasi dari Bambu
Warga Desa Cipada KBB, Arifin mampu bangkit dari pandemi Covid-19 melalui inovasi dari bambu.

INILAHKORAN, Bandung- Patut ditiru dan diapresiasi apa yang dilakukan warga Desa Cipada, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang berhasil bangkit dari terpaan pandemi Covid-19.

Warga Desa Cipada KBB, itu mampu membuat inovasi dari bambu untuk menyokong kehidupan ekonomi mereka di tengah keterpurukan akibat pandemi Covid-19.

Salah satu warga Desa Cipada KBB, Arifin (38) menceritakan perjuangannya mengolah bambu menjadi sebuah inovasi berharga yang membuatnya bangkit dari keterpurukan ekonomi.

Arifin mengaku telah mencoba berkreasi membuat berbagai produk yang unik dengan berbahan dasar bambu di galeri mininya yang disebut Paries Land 89.

Baca Juga: Profil Abdul Fatah Hasan Ketua Persatuan Dukun Nusantara yang Gelar Ritual untuk Timnas Indonesia

"Semenjak adanya corona, profesi saya sebagai seorang seniman dan pemusik sempat terhenti total," katanya, Kamis 30 Desember 2021.

"Akhirnya saya berfikir untuk membuka usaha baru, yaitu membuat kerajinan dari bambu," sambungnya.

Ia menuturkan, melihat peluang tersebut dari banyaknya limbah bambu di sekitar.

Bahkan, dirinya makin bersemangat lantaran di desanya masih banyak kebun bambu yang bisa dimanfaatkan.

"Dari bambu saya bisa membuat lampu petromak, tas, tempat korek gas, asbak, lampion, pancuran untuk kolam renang, cangkir, gantungan kunci, tempat alat tulis hingga miniatur lokomotif kereta api," tuturnya.

Baca Juga: Persatuan Dukun Nusantara Jadi Bulan-bulanan Netizen Usai Timnas Indonesia Dibantai Thailand 0-4, Lho?

Ia mengaku, dampak pandemi ini dijadikan pemicu bagi dirinya agar lebih inovatif dan kreatif.

Harga kerajinan yang dibuatnya pun cukup bervariatif, untuk satu buah kerajinan petromak dihargai sebesar Rp 250 ribu, tas berkisar diharga Rp 100 ribu hingga Rp 250 ribu.

"Untuk harga tempat penyimpanan BBM dijual seharga Rp 5.000 hingga Rp 10.000, asbak dikisaran Rp 15.000 hingga Rp 25.000," sebutnya.

Menurutnya, kerajinan yang paling unik dan diminati biasanya lampu petromak dan miniatur lokomotif kereta api.

Baca Juga: 15 Contoh Ucapan Happy New Year 2022, Cocok untuk Dijadikan Status di Media Sosial

"Untuk proses pembuatannya tergantung tingkat kesulitan, jika sulit saya hanya bisa bikin satu kerajinan dalam kurun waktu satu minggu," bebernya.

Kendati masih tahap awal, lanjut dia, ke depan dirinya ingin membuka workshop sekaligus home industri dengan memberdayakan masyarakat sekitar.

"Saya ingin mengangkat dan membantu perekonomian masyarakat sekitar," ujarnya.

Ia berharap, seluruh pihak terutama Pemerintah Daerah Bandung Barat bisa membantu memperhatikan usaha yang dirintisnya dengan memberikan bantuan ataupun pemasaran.

Baca Juga: Catat! Lokasi Layanan SIM Keliling Tangerang Selatan Hari Ini Kamis 30 Desember 2021

"Saya ingin maju dan sukses bersama masyarakat," tandasnya.***(agus satia negara)


Editor : inilahkoran