Kogar, Kopinya Orang Garut Ancang-ancang Produksi Massal

Empat tahun mengadu nasib di Korea Selatan sebagai purna Pekerja Migran Indonesia (PMI), Ujang Suryana tidak ingin tabungannya habis sia-sia. Kembali pada 2014 lalu, pria asal Garut ini punya ide membuat sebuah produk dengan bahan baku yang cukup melimpah di kampung halamannya.

Kogar, Kopinya Orang Garut Ancang-ancang Produksi Massal
(Foto: Rianto Nurdiansyah)

INILAH, Bandung- Empat tahun mengadu nasib di Korea Selatan sebagai purna Pekerja Migran Indonesia (PMI), Ujang Suryana tidak ingin tabungannya habis sia-sia. Kembali pada 2014 lalu, pria asal Garut ini punya ide membuat sebuah produk dengan bahan baku yang cukup melimpah di kampung halamannya.

Komunitas Keluarga Buruh Migran (KKBM) Kabupaten Garut menjadi wadah purna PMI termasuk Ujang untuk berekplorasi mewujudkan produknya itu. Ujang menamakannya Kogar.

Kogar ini menjadi salah satu produk yang dipajang dalam Gelar Produk PMI Purna 2019 di Kantor Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Bandung, Kota Bandung, Senin (16/12/2019).

"Kogar itu ada artinya, yaitu Kopi Orang Garut," ujar Ujang.

Ujang mengatakan, sebagai pelaku usaha yang mengandaklan kopi sebagai bahan baku memang harus bersaing dengan produk-produk sejenis. Terlebih produsen lain sudah menggeluti produk kopi lebih dulu dan memiliki modal yang cukup besar. 

Ujang tidak ingin kalah sekalipun dia mengaku diawali dengan modal minim. Salah satu caranya yaitu dengan mengedepankan produk turunan dari kopi. 

"Karena yang bermain di kopi sudah banyak, jadi kita lari ke produk turunan seperti parfum kopi, minuman dari kulit kopi atau cascara, selain itu juga ada ektrak herbal seperti bahan baku untuk parfum, sabun dan lain-lain," paparnya. 

Khusus cascara, Ujang mengolah kulit biji kopi tersebut menjadi teh yang dapat diseduh. Itu diawali setelah dia melihat banyaknya kulit biji kopi yang dibuang ketika proses produksi.

"Itu kan sayang sekali kalau dibuang. Karena itu kita manfaatkan untuk diseduh seperti teh," ucapnya.

Sejauh ini, dia mengatakan, mengandalkan dua jenis kopi yaitu Arabika dan robusta untuk produknya. Di mana produk yang dijual dibanderol dengan range Rp5 ribu hingga Rp25 ribu. Harga tertinggi adalah parfum aroma kopi ukuran 60 mili. 

"Kita benar-benar murni tanpa essense atau kimia, tapi 100 persen wanginya dari kopi asli. Nah kalau parfum ini saya menggunakan jenis robusta," katanya.

Sejauh ini  terdapat tiga lokasi di Kabupaten Garut yang kerap Ujang datangi untuk mendapatkan bahan baku kopi, yaitu di Wanaraja, Cikajang dan Bayongbong. Kendati demikian, dia belum dapat memproduksi seluruh produknya ini secara masal. 

"Menjualnya juga baru lewat bazzar-bazzar atau kegiatan yang seperti sekarang. Kita belum menjual online karena belum produksi masal," katanya.

Kendati demikian, dia menambahkan, tahun depan pihaknya akan memulai produksi parfum kopi secara masal. Dengan begitu, pihaknya lebih percaya diri untuk memasarkan hingga skala besar. 

"Rencananya tahun depan, parfum ini akan kita produksi masal," pungkas Ujang. (Riantonurdiansyah)


Editor : Bsafaat