Konsisten Berbagi, Adam-Adrian Bagikan Ratusan Seragam dan Pengobatan Gratis untuk Disabilitas dan Yatim Piatu
Bersedekah tidak akan membuat miskin, itulah ungkapan yang disampaikan Petrus Adam Sentosa dan dr. Adrian Suhendra dalam setiap momen bakti sosial bersama ratusan anak-anak penyandang disabilitas dan fakir miskin dari seluruh wilayah di Bandung Raya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Cimahi - Bersedekah tidak akan membuat miskin, itulah ungkapan yang disampaikan Petrus Adam Sentosa dan dr. Adrian Suhendra dalam setiap momen bakti sosial bersama ratusan anak-anak penyandang disabilitas dan fakir miskin dari seluruh wilayah di Bandung Raya.
Dikemas dalam kegiatan Bakti Sosial Adam-Adrian, keduanya membagikan seragam dan pelayanan kesehatan gratis bagi mereka yang membutuhkan.
Sedikitnya, sebanyak 300 peserta siswa penyandang disabilitas dan pendampingnya hadir dalam kegiatan yang dilaksanakan di Rumah Bhineka di Jalan Hercules, Sukawarna Kota Bandung.
"Ini adalah program Adam-Adrian untuk pemberian pengobatan gratis dan peralatan sekolah. Targetnya khusus yatim piatu dan difabel, termasuk keluarga mereka karena mereka datang dengan keluarganya," kata inisiator kegiatan bakti sosial, Petrus Adam Susanto, Minggu 19 Januari 2024.
Tak cuma itu, sebut Adam, kegiatan baksos ini juga bakal dilaksanakan pada bulan suci Ramadhan 1446 H seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Pengobatan gratis dilakukan siang hari hingga menjelang berbuka puasa. Jadi nanti kegiatan diakhiri dengan kegiatan buka bersama. Yang pasti untuk tahun 2025 ini kita mulai kegiatan baksos 2 bulan sekali," sebutnya.
Lebih lanjut Adam menuturkan, kegiatan baksos ini sudah berjalan sejak 2018. Namun, sempat terhenti pada 2020-2024 lantaran covid-19.
"Ini kita baru mulai lagi di awal tahun 2024 dan akan dilaksanakan setiap bulan ganjil," ucapnya.
Sementara itu, sambung Adam, untuk bantuan yang diberikan sesuai dengan permintaan dan kebutuhan mereka (difabel dan yatim piatu).
"Jadi, dari saat mereka mendaftar para penerima manfaat ini ditanya mereka membutuhkan apa. Dan keinginan mereka itu seragam dan pada saat musim hujan mereka membutuhkan lebih dari 1 setel seragam dan kita mengerti itu. Tapi kita juga tampung semua apa yang menjadi keinginan mereka sampai keinginan unik mereka," tuturnya.
Dari sisi kesehatan, terang Adam, pihaknya ingin menjembatani kalangan difabel agar mendapatkan pelayanan kesehatan yang wajar.
"Perkiraan kami bakal meluas terus dan kemungkinan mereka (difabel) yang harus mengantre di fasilitas kesehatan bisa kita arahkan ke Rumah Bhineka agar mendapat pelayanan yang wajar," terangnya.
Untuk memastikan pemberian bakti sosial ini tepat sasaran, pihaknya sudah membuat database sendiri yang di dalamnya terdapat nama, alamat, foto saat mendaftar dan video saat diberikan bantuan.
"Jadi kita pastikan saat diberikan bantuan orangnya itu dan kita juga pastikan mereka nyaman dengan seragam yang diberikan karena tukang seragamnya yang langsung kita panggil ke sini. Itu semua bisa kita pantau melalui website ibadahjavaretro.id. Kegiatan bakti sosial ini tidak dibantu donatur, hanya dirinya (Adam dan dr. Adrian)," tandasnya.
dr. Adrian mengatakan, untuk pengobatan gratis ini pihaknya menyesuaikan dengan tren penyakit yang terjadi di masyarakat. "Jadi kalau misalnya sedang musim hujan, kita menyiapkan obat yang kaitannya dengan kondisi, seperti batuk, pilek dan vitamin untuk daya tahan tubuh mereka," kata Adrian yang juga Sekretaris Jenderal Perhimpunan Alumni Dokter Maranatha atau PADMA ini.
Selain itu, ungkap dr. Adrian, pihaknya pun sempat memberikan obata-obatan bagi mereka yang mengidap penyakit kronis pada kegiatan baksos pertama kali.
Menurutnya, apabila kondisi pasien masih bisa ditangani, maka pihaknya sendiri yang bakal melakukan penanganan.
"Kalau ada obat rutin yang harus dikonsumsi selama satu bulan kita juga pasti memberikan," tuturnya.
Dalam kegiatan baksos ini, sebut dr. Adrian, pihaknya melibatkan 8 orang dokter dan sekitar 25 mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Universitas Maranatha Bandung.
Di tempat yang sama, Koordinator Baksos Adam-Adrian, Restu mengatakan, kegiatan ini diikuti oleh teman-teman difabel dan yatim piatu dengan total penerima manfaat sebanyak 300 orang.
"Mereka berasal dari Kota Cimahi, Kota Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Bandung. Jadi orang-orangnya ada yang sama namun mendapatkan manfaat yang berbeda," kata Restu yang juga penyandang disabilitas tunanetra ini.
Rencananya, ungkap Restu, di awal tahun 2025 pihaknya bakal fokus menyiapkan berbagai kebutuhan alat sekolah dan juga mencari orang-orang yang benar-benar membutuhkan..
"Skema yang kita lakukan dimulai dengan mencari siswa-siswi yang membutuhkan dari berbagai sekolah dan mencari penerima manfaat secara acak ke setiap daerah," ungkapnya.
Restu menilai, animo teman-teman difabel dan yatim piatu ini sangat tinggi. Bahkan, ada penambahan penerima manfaat setiap bulannya, namun pihaknya lebih memprioritaskan yang lebih membutuhkan terlebih dahulu.
"Jadi kita selesaikan kebutuhan perlengkapan sekolahnya ataupun obat-obatannya," ujarnya yang juga salah satu pengajar SLB di Kota Cimahi ini.
Dalam prosesnya, Restu tak memungkiri ada kendala yang dihadapi pihaknya lantaran sasaran yang dicari kerap kali tidak terjangkau oleh pihak-pihak lain.
"Apalagi bagi difabel yang belum memiliki smartphone atau tidak bisa menggunakannya, mereka tidak bisa mengirimkan voice note," tandas Restu. ***
Editor : Ahmad Sayuti

