Korban Keracunan MBG di Cirebon Capai 395 Orang, 218 Masih Dirawat Inap

Dinkes Kota Cirebon mencatat 395 orang mengalami gejala setelah mengonsumsi MBG di Kalijaga. Sebanyak 218 orang masih dirawat inap, penyebabnya menunggu hasil l

Korban Keracunan MBG di Cirebon Capai 395 Orang, 218 Masih Dirawat Inap
Situasi di RS Siloam Putera Bahagia Kota Cirebon, selasa lalu saat dipadati keluarga dan pasien menyusul dugaan keracunan MBG yang menyebabkan ratusan orang mendapat penanganan medis.

INILAHKORAN.ID – Jumlah warga yang mengalami gejala dugaan keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di wilayah Kalijaga, Kota Cirebon, terus bertambah. Hingga Kamis (22/10/2026) pukul 15.00 WIB, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cirebon mencatat sebanyak 395 orang mengalami gejala klinis.

Dari jumlah tersebut, 218 orang masih menjalani rawat inap. Sementara 177 orang lainnya menjalani rawat jalan atau telah diperbolehkan pulang.

Kepala Dinkes Kota Cirebon, Siti Maria Listiawaty, mengatakan kondisi pasien yang menjalani perawatan relatif stabil. Hingga Kamis siang, belum ada pasien yang membutuhkan penanganan di ruang perawatan intensif atau ICU.

“Saat ini tercatat ada 395 orang. Sebanyak 218 orang menjalani rawat inap, sedangkan 177 orang sisanya menjalani rawat jalan atau sudah dipulangkan,” kata Siti Maria.

Dia menjelaskan, keluhan yang dialami korban didominasi diare. Anak-anak usia taman kanak-kanak (TK) juga tercatat sebagai kelompok dengan proporsi kasus cukup tinggi. Dari sekitar 700 orang yang mengonsumsi makanan MBG tersebut, sebanyak 395 orang dilaporkan mengalami gejala klinis.

Di tengah bertambahnya jumlah korban, proses pengolahan makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Harjamukti Kalijaga 5 turut menjadi sorotan DPRD Kota Cirebon.

Ketua DPRD Kota Cirebon Andre Sulistyo bersama sejumlah anggota Komisi III sebelumnya mendatangi dapur SPPG untuk melihat langsung proses produksi makanan, mulai dari penerimaan bahan baku hingga pengolahan.

Dari hasil peninjauan tersebut, DPRD meminta standar operasional prosedur (SOP) pengolahan makanan dievaluasi dan diperketat. Salah satu hal yang menjadi perhatian adalah adanya bahan makanan yang diproses di luar dapur SPPG.

Ketua Komisi III DPRD Kota Cirebon, Umar S. Klau, mengatakan berdasarkan keterangan Kepala SPPG, terdapat bahan makanan yang disiapkan dan dimasak di luar dapur, salah satunya telur puyuh.

“Secara SOP, seluruh menu makanan program bergizi seharusnya disiapkan dan dimasak sepenuhnya di dalam dapur SPPG,” ujar Umar.

Selain mengevaluasi SOP, DPRD meminta kapasitas produksi disesuaikan dengan kemampuan dapur. Pengelola diingatkan agar tidak memaksakan jumlah porsi apabila fasilitas dan kemampuan operasional belum memadai.

Kepala SPPG Harjamukti Kalijaga 5, Andi, mengakui telur puyuh yang digunakan dalam menu MBG saat itu sempat dimasak di luar dapur. Setelah dibawa ke SPPG, telur tersebut kembali menjalani proses pemasakan.

“Sebelumnya ada yang dimasak di luar, terus dimasak lagi di sini, siap dimasak sampai benar-benar matang di sini,” kata Andi.

Meski demikian, belum dapat dipastikan apakah proses pengolahan tersebut berkaitan dengan munculnya gejala pada ratusan penerima MBG. DPRD dan Dinkes meminta masyarakat tidak berspekulasi serta menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

Andi juga telah menyampaikan permohonan maaf kepada para korban dan keluarga. Dia menyatakan Yayasan Tri Bhakti Bhakti siap bertanggung jawab atas biaya yang timbul akibat kejadian tersebut hingga para korban pulih.

Berdasarkan pantauan di lapangan, operasional dapur SPPG Harjamukti Kalijaga 5 saat ini dihentikan sementara. Pengelola masih menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan oleh Dinkes.

Dampak kejadian tersebut turut dirasakan SD Taman Kalijaga Permai. Aktivitas pembelajaran di sekolah sempat ditiadakan setelah lebih dari 100 siswanya dilaporkan mengalami gejala. Para siswa pun diminta mengikuti pembelajaran dari rumah.

Dinkes Kota Cirebon terus melakukan penelusuran epidemiologis, termasuk berkonsultasi dengan dokter spesialis mikrobiologi klinik untuk memetakan kemungkinan penyebab serta masa inkubasi penyakit.

Hingga Kamis sore, penyebab pasti dugaan keracunan massal tersebut belum diumumkan. Pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk mengidentifikasi sumber yang diduga menyebabkan ratusan penerima MBG mengalami gangguan kesehatan.


Editor : Ahmad Sayuti