Kurangi Sampah Organik, DLH Kota Bogor Budidaya Magot
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor mulai melakukan budidaya magot melalui pembenahan Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce, dan Recycle (TPS3R) di kantor DLH Jalan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah. Budidaya magot ini dilakukan sebagai strategi untuk mengurangi sampah organik yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bogor - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor mulai melakukan budidaya magot melalui pembenahan Tempat Pengelolaan Sampah Reuse, Reduce, dan Recycle (TPS3R) di kantor DLH Jalan Paledang, Kecamatan Bogor Tengah. Budidaya magot ini dilakukan sebagai strategi untuk mengurangi sampah organik yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS).
Diketahui, budidaya magot ini dengan memanfaatkan lokasi halaman belakang kantor dinas TPS3R DLH Kota Bogor, medianya menggunakan baskom sebagai tempat pembesaran magot. Dibelakang halaman itu juga terdapat rak bertingkat untuk meletakan baskom yang berisi ribuan magot. Setiap hari ribuan magot diberikan pakan sekitar tiga kilogram sampah organik dalam satu baskom.
Kepala DLH Kota Bogor Denni Wismanto mengatakan, budidaya magot dilakukan baru tahap penjajakan.
"Budidaya magot di kantor kami baru tahap penjajakan, tapi dalam beberapa minggu ini sudah dimulai kabid persampahan. Kami berharap nanti sampah organik bisa diolah disini," kata Denni kepada wartawan, Rabu (22/7/2020).
Sementara itu, Kepala Bidang Persampahan DLH Kota Bogor Dimas Tiko mengatakan bahwa inisiasi awal mula budidaya magot ketika melihat keberhasilan budidaya magot di TPS3R MBR dan Ciparigi 1 yang bisa mengurangi sampah sekitar 400 kilogram dalam satu hari dengan melakukan budidaya magot.
"Berbeda dengan TPS3R yang ada dimasyarakat dengan dikelola oleh Kelompok Swadaya Masyarakat, TPS3R DLH berbasis Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menjadi motor penggerak dan aktif turun langsung," terangnya.
Dimas menjelaskan, nantinya dari mulai pakan magot yang bersumber dari sampah organik akan didapat dari sampah organik karyawan DLH yang sudah dipilah dari rumah masing-masing dan dibawa ke kantor untuk diberikan pakan kepada magot. Alur tersebut dilakukan sebagai simulasi untuk nantinya bisa diaikasikan di lingkup terkecil seperti tingkat RT atau komplek sebagai strategi pengurangan sampah.
"Salah satu teknologi ataupun strategi sampah organik bukan hanya melalui pengolahan sampah menjadi pupuk tapi juga ada potensi lain yaitu magot," jelasnya.
Dia membeberkan, proses budidayanya pun cukup dengan menggunakan wadah baskom, tak kayu dan menyiapkan sampah organik sebagai pakan. Dimas juga mengatakan, budidaya magot di DLH dengan menggunakan pakan sampah organik dimulai dengan penebaran bibit di atas baskom yang sudah disiapkan sampah organik. (Rizki Mauludi)
Editor : Doni Ramdhani

