La Roja dan Seni Gerilya Sepak Bola

NYARIS tanpa drama, Spanyol tiba-tiba selangkah lagi juara Piala Dunia 2026. Mereka telah melaju ke final untuk mengulang kejayaan para legenda 16 tahun silam.

La Roja dan Seni Gerilya Sepak Bola
Selebrasi bek Spanyol Pedro Porro usai mencetak gol ke gawang Prancis dalam semifinal Piala Dunia 2026. (herald tribune)

NYARIS tanpa drama, Spanyol tiba-tiba selangkah lagi juara Piala Dunia 2026. Mereka telah melaju ke final untuk mengulang kejayaan para legenda 16 tahun silam.

Spanyol bukan unggulan teratas. Tak juga dianggap punya skuat semewah Prancis, lawan yang mereka hadapi di semifinal. Tetapi La Furia Roja telah memberi bukti nyata melalui identitas permainan sepak bola mahabahaya!

Skuat besutan Luis de La Fuente itu menghadapi Prancis di Stadion Dallas, Rabu (15/7) dini hari WIB. Mereka tak diunggulkan. Wajar, Prancis dihuni sederet penyerang terbaik dunia yang dianggap sedang menancapkan kejayaannya. 

Sebut saja Kylian Mbappe, Michael Olise serta sang pemenang Ballon d'Or Ousmane Dembele. Semuanya berada di usia emas 24-29 tahun. 

Spanyol menampilkan wajah berbeda. Lamine Yamal dianggap masih terlalu 'hijau' lantaran usianya belum menginjak 20 tahun. Dani Olmo, Mikel Oyarzabal, Pedro Porro ataupun Mikel Merino, bukanlah nama-nama yang berada di jajaran top pesepak bola terbaik dunia saat ini.

Tapi Spanyol telah  memainkan 'seni gelap' tentang bagaimana taktik geriliya diterjemahkan secara efektif dalam permainan sepak bola. Mereka menghempaskan Prancis yang sedang terbang tinggi ke langit untuk kembali menginjak bumi.

Media-media Eropa melabeli apa yang dipertontonkan Spanyol saat menyiksa Prancis sebagai 'manipulasi psikologis'. Para pemain bertahan Tim Matador membuat Kylian Mbappe mati kutu dalam rasa frustrasi mendalam. Mereka benar-benar mematikan striker Real Madrid yang datang ke laga ini dengan catatan gemilang, 8 gol dari 7 laga.

Para 'pelayan' Mbappe pun seperti tenggelam.  Michael Olise terdiam dan meninggalkan lapangan lebih awal. Dembele menunduk seolah tak percaya apa yang telah terjadi pada timnya. Seluruh penggawa Prancis pada akhirnya sadar, permainan mereka tidak terorganisir dan tersingkir dengan cara yang tidak terduga.

Kesalahan individu Lucas Digne yang berujung pada penalti di awal pertandingan menjadi titik balik. Namun yang patut diperhatikan adalah bagaimana Spanyol memanfaatkan peluang mereka (seperti Mikel Oyarzabal yang berhasil mengkonversi kelima penalti sebelumnya) dan tidak memberi lawan mereka kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. 

Prancis melepaskan 10 tembakan sepanjang pertandingan, sama seperti lawan mereka, dengan 3 tembakan tepat sasaran, tetapi tidak satu pun dari tembakan tersebut merupakan peluang besar.

Kemudian saat Prancis masih berjuang, Spanyol memberikan pukulan lain yang agak mengecewakan. Itu benar-benar taktik gerilya, dengan bek kanan Pedro Porro menyelinap di belakang pertahanan dan menyelesaikan dengan presisi seolah-olah dia bermain sebagai seorang striker.

Skor 2-0 membuat Spanyol tak lantas pongah. Mereka memainkan strategi bertahan dengan sangat berkelas. Prancis berkali-kali mencoba mengkreasi peluang, namun berkali-kali pula semuanya berantakan karena sistem pertahanan yang begitu gemilang.

Itu pula yang mereka lakukan saat menyingkirkan dua tim besar sebelumnya, Prancis dan Belgia. Mereka memainkan taktik geriliya dengan memanfaatkan senjata tak terduga bernama Mikel Merino di waktu yang sangat tepat.

Kini Spanyol pun maju ke final, mendekati pencapaian para legenda dalam skuat generasi emas di tahun 2010 lalu. Hebatnya Tim Matador saat ini, mereka tak hanya efektif dalam mencetak gol tetapi begitu mumpuni dari sisi bertahan. Mereka melaju ke final dengan rekor impresif, hanya kebobolan satu gol.

"Di ruang ganti tadi, kami mengatakan bahwa kami menghadapi salah satu tim terbaik di dunia, yang memiliki pemain-pemain terbaik di dunia. Namun, mereka menghadapi tim terbaik di dunia. Tim kami membuat hal yang sulit terlihat mudah," cetus sang pelatih Luis De la Fuente.

Siluet Para Legenda

Spanyol akan menghadapi pemenang Inggris vs Argentina di partai puncak. Mereka pun memberi kesan 'mengerikan' untuk sang calon lawan. Mereka tampak biasa-biasa saja, tanpa euforia berlebihan, lebih tampak seperti sekumpulan prajurit yang masih haus darah lawan.

Spanyol tidak merayakan kemenangan melawan Prancis secara eksplosif bahkan sekilas seperti tidak bersemangat. 

Lamine Yamal dan kawan-kawan rupanya sadar, mereka masih belum menyamai pencapaian legendaris era keemasan Spanyol belasan tahun lalu. Ketika itu, nama-nama macam Andres Iniesta, Xavi Hernandez, Fernando Torres, Charles Puyol ataupun Sergio Ramos, sukses merajai Piala Dunia 2010 yang berlangsung di Afrika Selatan. 

Spanyol saat ini masih dalam bayang-bayang kesuksesan para legenda. Maka, tak ada cara selain diam dan fokus mempersiapkan diri untuk laga final ketimbang bicara sesumbar.

Namun, ada kemiripan antara Spanyol sekarang dan La Furia Roja dahulu. Kedua generasi itu sama-sama memulai kompetisi dengan sangat tidak meyakinkan.

Spanyol membuka kiprah di Afrika Selatan pada tahun 2010 dengan mengalami kekalahan mengejutkan 0-1 dari Swiss meskipun mendominasi sepenuhnya selama 90 menit, mengontrol 73% penguasaan bola dan melepaskan 25 tembakan. 

Skuad super kuat dari generasi emas itu sama sekali tidak efektif, dan pelatih Vicente del Bosque tidak berdaya: "Kami mencoba setiap taktik yang kami miliki, tetapi kami tidak bisa mencetak gol."

Setelah itu, Spanyol bermain dengan soliditas dan pragmatisme yang mengejutkan. Mereka menjaga gawang tetap bersih sepanjang sisa turnamen, memenangkan keempat pertandingan dengan skor 1-0, termasuk final.

Enam belas tahun kemudian, "La Roja" mengulangi pola yang sama. 27 tembakan yang meleset di pertandingan pembuka mereka melawan Tanjung Verde merupakan kejutan besar. Terlepas dari hasil imbang 0-0, penguasaan bola 74%, dan perkiraan gol 2,1, semuanya bermuara pada kekecewaan. 

Di sisi lain, kiper Vozinha menerima rating 9,7, menyelamatkan ketujuh tembakan tepat sasaran "La Roja" dan menjadi sensasi global.

Namun sejak saat itu, Spanyol tak pernah menoleh ke belakang. Sekejam para pendahulunya, mereka menghancurkan Arab Saudi, mengalahkan Uruguay dan Austria; menyapu bersih generasi emas Portugal dan Belgia, dan kini dengan meyakinkan mengalahkan Prancis

Jelas, mereka tidak selalu mendominasi, tetapi mereka sering kali meredam inspirasi lawan – seperti bagaimana Rodri mengendalikan lini tengah Portugal yang terkenal, dan meskipun hanya menerima rating 7,5 melawan Prancis, mereka dipuji di seluruh dunia atas dominasi luar biasa mereka di lapangan.

"La Roja" baru kebobolan satu gol sejauh ini, yaitu saat Charles De Ketelaere menyamakan kedudukan di perempat final. Setelah pertandingan itu, Rodri sendiri menyatakan: "Kami membuat mereka kelelahan dan menciptakan peluang. Memang benar kami tidak memiliki banyak peluang, tetapi kami menemukan ruang dan sekali lagi Mikel bersinar di momen krusial."

Pemain baru Real Madrid, Marc Cucurella, pernah mengatakan bahwa ia bersedia bekerja keras dan kotor agar tim bisa menang. Ia menekankan pentingnya pertahanan. Baginya, tim dengan pertahanan mumpuni punya peluang lebih besar untuk memenangi sebuah turnamen.

 "Tim-tim hebat dan juara biasanya memiliki pertahanan terbaik. Itulah yang kami perjuangkan. Seluruh tim berusaha untuk menekan, mencegat umpan, dan terus berkomunikasi satu sama lain. Ketika kami menjaga gawang tetap bersih, kami selalu lebih dekat dengan kemenangan," bebernya.

ROAD TO FINAL

Grup H
15/06/26: Spanyol 0-0 Tanjung Verde
21/06/26: Spanyol 4-0 Arab Saudi
27/06/26: Uruguay 0-1 Spanyol

Babak 32 Besar
03/07/26: Spanyol 3-0 AUstria

Babak 16 Besar
07/07/26: Portugal 0-1 Spanyol

Perempatfinal
11/07/26: Spanyol 2-1 Belgia

Semifinal
15/07/26: Prancis 0-2 Spanyol

STATISTIK

Laga: 7
Menang: 6
Imbang: 1
Kalah: -
Memasukkan: 13
Kemasukan: 1
Clean Sheets: 6
Umpan: 4592
Umpan Sukses: 4156
Kartu Kuning: 6
Kartu Merah: -


Editor : Doni Ramdhani