INILAH, Manchester - Bos Manchester United, Ed Woodward kini pusing karena ulahnya sendiri. Semua karena keputusannya menunjuk Ole Gunnar Solskjaer sebagai pelatih sementara Setan Merah. Kok bisa?
Tengoklah peristiwa Minggu lalu di tribun kehormatan Old Trafford, saat menjamu Bournemouth. Dia terpaksa bertahan beberapa menit setelah wasit meniup peluit panjang.
Saat Sir Alex Ferguson membubuhkan tanda tangan untuk penggemarnya, Edward tampak risau karena memberi kesempatan untuk Ole Gunnar Solskjaer dan para pemainnya.
Dia tampak seolah-olah memikirkan kesalahannya secara tiba-tiba, baik dari sisi taktik, pembelian pemain, hingga kurangnya pemain muda lokal yang melesat ke klub utama.
Adalah Woodward yang meminta keluarga Glazer melepaskan sejumlah pemain muda di tengah kepergian Alex Ferguson. Saat itu, Manchester United memetik manfaat luar biasa dengan skuat yang tak membutuhkan anggaran membengkak untuk memperkuat pasukan. Rata-rata bintang Manchester United adalah hasil binaan sendiri.
Kini, setelah lima tahun di Manchester United, keputusan berat harus diambilnya. Mungkin yang terberat sepanjang kepemimpinannya di Old Trafford.
Solskjaer, figur yang semula dianggap sebelah mata, kini melakukan start cemerlang bersama Manchester United. Simpanlah dulu fakta bahwa lawan-lawan mereka kurang seimbang, tapi Solskjaer sudah bisa mengembalikan senyum pemain di lapangan.
Jika Manchester United terus main seperti ini, dan kemudian menembus empat besar, bahkan juga mungkin empat besar Liga Champions, apa yang akan dilakukan Woodward?
Banyak desakan pelatih asal Norwegia itu bertahan. Dia pun kelihatan ingin melanjutkan kariernya di Old Trafford tak hanya hingga akhir musim ini. Tiga pelatih Manchester United lain sebelum rezimnya, tak mampu memunculkan Manchester United sesungguhnya.
Masihkah Manchester United membutuhkan Mauricio Pochettino untuk melakukan perubahan? Pelatih Argentina yang kini menukangi Tottenham Hotspur itu kini bahkan berada dalam tekanan untuk mewujudkan hasil yang stabil bagi timnya.
Bagaimana dengan Zinedine Zidane? Adakah dia paham cara United? Atau, Laurent Blanc? Atau, Pelatih Red Bull Leipzig Marco Rose?
Tak hanya itu. Fans Manchester United pun sepertinya sehati dengan cara Solskjaer. Mereka ingin setiap pemain Setan Merah lahir dari akademinya.
Solskjaer memang belum teruji sepenuhnya. Laga lawan Hotspur, Paris St Germain, Manchester City, atau Liverpool, akan membawa jawaban yang lebih terang.
Tapi, apa yang dilakukan Solskajer adalah yang diinginkan Manchester United. Bersama Solskjaer, kini mereka menemukan kembali etos di era Ferguson. Seperti dikatakan Solskjaer, DNA Manchester United adalah dinding antara Carrington dan Old Trafford. Jika tak mampu membangun dindingnya, maka siapapun pelatihnya hanyalah pelatih klub lainnya. Setiap klub bisa berganti pelatih, memburu kejayaan, tapi berakhir dengan kegagalan. Itulah yang dialami Manchester United pada lima tahun terakhir.
Ada juga yang bilang, efekt yang ditinggalkan Ferguson harusnya tak dianggap enteng saat memasuki era David Moyes, Louis van Gaal, dan Jose Mourinho. Jika mereka melakukan apa yang diperbuat Ferguson, maka mereka sejatinya bukanlah pelatih istimewa.
Solskjaer membawa cara Ferguson. Dia punya pengalaman, memanfaatkannya, dan memiliki Mike Phelan sebagai bagian dari timnya. Itu artinya, jika ini bisa berjalan dalam jangka panjang, mungkin saja Solskjaer adalah pelatih yang paling cocok bagi Manchester United.
Lalu, bagaimana dengan Pochettino? Bagaimana dengan Zidane? Laurent Blanc? Marco Rose? Biarkanlah Ed Woodward yang pusing memikirkannya. (*)