Luar Biasa, Petani di Nagreg Hibahkan Lima Hektar Lahan Miliknya
Untuk mempercepat cita-cita Kabupaten Bandung sebagai sentra jagung terbesar di Jawa Barat, petani jagung di Kecamatan Nagreg menghibahkan lahannya seluas lima hektar.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH,Bandung- Untuk mempercepat cita-cita Kabupaten Bandung sebagai sentra jagung terbesar di Jawa Barat, petani jagung di Kecamatan Nagreg menghibahkan lahannya seluas lima hektar.
Ketua Gapoktan Rido Manah Kecamatan Nagreg, Endang Saeful Rohman mengatakan, selama ini Nagreg memang dikenal sebagai daerah penghasil jagung di Kabupaten Bandung. Selain di Nagreg, sentra pertanian jagung ini terdapat juga dibeberapa kecamatan lainnya.
Melihat potensi yang besar ini, sudah Kabupaten Bandung khususnya wilayah Nagreg menjadi sentra jagung di Jawa Barat.
"Saya sudah menyiapkan lahan untuk dihibahkan ke pemerintah. Lahan itu untuk pengeringan dan pengolahan. Supaya sentra jagung di Nagreg itu levelnya Jabar," kata Endang disela silaturahmi bersama para petani jagung dengan Wakil Bupati Bandung Gun Gun Gunawan, di Desa Ciaro Kecamatan Nagreg, Kamis (23/5/2019).
Dikatakan Endang, lahan untuk tempat pengeringan ini adalah sarana untuk penanganan pasca panen. Karena proses pengeringan yang baik, menentukan kualitas hasil panen guna menjaga agar harga tidak anjlok.
Kata dia, saat ini Pemkab Bandung memang sudah memberikan bantuan alat pengeringan. Namun alat tersebut tidak memberikan dampak yang signifikan, karena selain kualitas jagungnya tak sebaik dikeringkan lewat penjemuran alami dengan sinar matahari, biaya operasional alat tersebut juga sangat besar.
Jika dikeringkan dengan dijemur di bawah terik sinar matahari, kata Endang, jagung pipil tidak akan gosong dan kandungan gizinya tetap terjaga. Dijemur dibawah sinar matahari juga tidak memerlukan biaya. Berbeda dengan alat pengering yang membutuhkan biaya untuk bahan bakar. Jika telah beroperasi, tempat penjemuran itu, bisa dipakai untuk menjemur jagung sebanyak 150 ton perhari. Ia berharap, hibah lahan tersebut bisa membuat Pemkab Bandung memberi dukungan penuh terkait perizinan.
"Mudah-mudahan dengan hibah lahan tersebut, proses perizinan bisa dipercepat. Sehingga bisa segera dimanfaatkan oleh petani yang selama ini punya lahan tanam tetapi tak punya tempat untuk menjemur," ujarnya.
Wakil Bupati Bandung Gun Gun Gunawan berjanji akan mendorong percepatan perizinan lahan penjemuran tersebut. Karena memang sangat penting untuk penanganan jagung pasca panen.
"Pertanian jagung di Kabupaten Bandung potensinya sangat besar. Tapi harus diakui kita cepat mengklaim sebagai salah satu sentra jagung terbesar dari Gorontalo," katanya.
Selain potensi lahan, kata Gun Gun, Kabupaten Bandung pun saat ini memiliki sarana pendukung berupa silo (gudang) yang masuk kategori terbaik nasional di Nagreg. Terlebih silo tersebut berlokasi di perbatasan Kabupaten Bandung dan Garut dengan akses yang strategis.
Saat ini, lokasi silo jagung Nagreg telah didukung tol Padalarang-Cileunyi (Padaleunyi). Ke depan aksesibilitasnya akan semakin tinggi setelah rampungnya tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu).
Di tempat yang sama, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Tisna Umaran mengatakan, saat ini luas lahan jagung di Kabupaten bandung mencapai 10.000-15.000 hektar per tahun.
"Produktivitasnya mencapai rata-rata tujuh ton per hektar, sehingga produksi per tahun bisa mencapai 70.000-105.000 ton," katanya.
Tahun ini, Tisna melanjutkan, pihaknya akan menyalurkan bantuan bibit untuk luas tanam sekitar 10.000 hektar. Dengan kebutuhan rata-rata 15 kilogram per hektar, maka bantuan bibit yang disalurkan diperkirakan mencapai 150 ton. (Rd Dani R Nugraha).
Editor : Bsafaat

