Masalah Sampah di Kota Bandung, RDF dan Kerja Sama Insinerator Jadi Alternatif
Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus mencari solusi mengatasi masalah pengelolaan sampah, terutama terkait pemanfaatan refuse derived fuel (RDF) sebelum teknologi baru tersedia.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung terus mencari solusi mengatasi masalah pengelolaan sampah, terutama terkait pemanfaatan refuse derived fuel (RDF) sebelum teknologi baru tersedia.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Darto mengatakan, bahwa penerapan RDF sudah dimulai sesuai anjuran Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
"Saat ini, RDF sudah mulai diterapkan di Kota Bandung. Namun, kendalanya adalah standar produksi RDF belum sepenuhnya memenuhi spesifikasi teknis industri semen sehingga pengiriman RDF belum bisa dilakukan secara maksimal," kata Darto, Selasa 20 Januari 2026.
Kota Bandung memiliki enam instalasi RDF, namun kapasitas produksi masih terbatas hanya mencapai 20-30 ton per hari. Jumlah tersebut, jauh di bawah kebutuhan harian pabrik semen yang mencapai 150 ton.
"Selain itu, biaya produksi RDF relatif tinggi dari teknologi lainnya," ucapnya.
Ia menuturkan, apabila kapasitas Insinerator di Kota Bandung tidak mencukupi. Pemerintah kota siap bekerja sama dengan daerah lain untuk memanfaatkan fasilitas yang memenuhi standar.
"Kita juga akan bekerja sama dengan daerah lain, misalnya Cimahi untuk memanfaatkan insinerator yang memenuhi syarat," ujar dia.
Langkah tersebut, ditambahkan Darto dianggap sebagai solusi sementara sambil menunggu teknologi pengelolaan sampah yang lebih efisien dapat diterapkan.
"Kami berharap, upaya ini dapat membantu menekan volume sampah di Kota Bandung sekaligus mendukung penggunaan energi alternatif dari RDF," tandasnya.***
Editor : JakaPermana
