TPA Sarimukti Kritis, Pemprov Jabar Siap Gerakan 25.000 Mahasiswa dan Gravity Wall
TPA Sarimukti terancam penuh Desember 2026. Pemprov Jabar mengerahkan 25 ribu mahasiswa untuk mengurangi sampah Bandung Raya hingga menyiapkan RDF.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyiapkan langkah darurat dan strategi jangka panjang untuk mencegah krisis sampah di Bandung Raya menyusul ancaman penuh sesaknya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat, pada akhir 2026.
Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suryatman mengatakan, kapasitas TPA Sarimukti berada dalam kondisi kritis. Jika tidak dilakukan intervensi, tempat pembuangan utama sampah Bandung Raya tersebut diperkirakan mencapai kapasitas maksimal pada Desember 2026.
"Terkait dengan Sarimukti, kalau biasa-biasa, Desember itu kita udah penuh. Makanya satu, kemarin saya ke lapangan langsung. Saya konsolidasi dengan semua kepala OPD termasuk Dinas LH-nya, bagaimana kami melakukan treatment tiga bulan ke depan sampai dengan Desember, ya ruang Sarimukti bisa kita tambah, ya salah satunya dengan compacting," kata Herman di Kota Bandung, Kamis (25/9/2026).
Menurut Herman, metode compacting atau pemadatan sampah dilakukan untuk membuka ruang baru sehingga kapasitas tampung Sarimukti dapat ditambah dalam waktu singkat.
Pemprov Jabar juga menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk mencari solusi teknis yang dapat memperpanjang usia operasional TPA Sarimukti.
25 Ribu Mahasiswa Dikerahkan
Selain penanganan di TPA, Pemprov Jabar akan fokus mengurangi timbulan sampah dari sumbernya. Sebanyak 98 perguruan tinggi dilibatkan untuk mengerahkan sekitar 25.000 mahasiswa ke tengah masyarakat.
"Kami konsolidasi dengan perguruan tinggi, 98 perguruan tinggi akan menurunkan 25.000 mahasiswa untuk bahu-membahu dengan 50 camat dan ratusan kepala desa/lurah untuk melakukan edukasi ya penanganan sampah di tingkat rumah tangga," ujarnya.
Program yang dimulai pada awal Oktober tersebut menyasar rumah tangga di wilayah Bandung Raya. Mahasiswa bersama perangkat desa dan kelurahan akan melakukan edukasi mengenai pengurangan, pemilahan, dan pemanfaatan sampah.
Sebagai bentuk dukungan, perguruan tinggi akan memberikan konversi 10 satuan kredit semester (SKS) kepada mahasiswa yang terlibat dalam program tersebut.
Herman menargetkan gerakan edukasi massal itu mampu menekan timbulan sampah Bandung Raya hingga 20 persen. Ia menyebut hampir separuh sampah yang masuk ke Sarimukti setiap hari merupakan sampah makanan yang masih dapat dikurangi dari tingkat rumah tangga.
"Karena yang 1.500 per hari ke Sarimukti, setengahnya sampah makanan. Artinya bisa diikhtiarkan dong di hulu. Udahlah jangan setengahnya, 20 persen aja. Bayangkan produksi sampah Bandung Raya 5.000 ton per hari, kalau kurang 20 persen berarti berapa? 1.000 ton!" katanya.
Menurut Herman, pengurangan sekitar 1.000 ton sampah per hari melalui perubahan perilaku masyarakat dapat memberikan dampak besar tanpa harus sepenuhnya mengandalkan pembangunan fasilitas pengolahan sampah berkapasitas besar.
Ia mengatakan optimisme tersebut didasarkan pada uji coba di Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung. Program tersebut disebut mampu menurunkan volume sampah hingga 20 persen sekaligus meningkatkan aktivitas pemilahan sampah.
Siapkan Gravity Wall hingga RDF
Untuk memperpanjang usia Sarimukti, Pemprov Jabar juga menyiapkan langkah teknis melalui pembangunan dua gravity wall pada 2027.
"Nah Januari, kita akan mulai bangun namanya gravity wall. Ada dua gravity wall di sebelah selatan dan sebelah timur, ya akan dibangun gravity wall sehingga kita bisa memitigasi ancaman longsor," ucapnya.
Di sektor hilir, Pemprov Jabar mempercepat pengembangan teknologi pengolahan sampah melalui kerja sama produksi Refuse Derived Fuel (RDF) dengan industri semen, termasuk Indocement.
Sampah lama yang menumpuk di Sarimukti akan diolah menjadi bahan bakar alternatif untuk kebutuhan industri.
Pemerintah juga tengah menjajaki kerja sama dengan TNI Angkatan Darat untuk menghadirkan fasilitas pengolahan sampah berkapasitas sekitar 1.000 ton per hari di kawasan Sarimukti.
Dengan berbagai langkah tersebut, Herman optimistis usia operasional TPA Sarimukti dapat diperpanjang hingga akhir 2029 sambil menunggu proyek waste to energy di TPPAS Legok Nangka, Kabupaten Bandung, yang ditargetkan selesai pada 2030.
"Jangan hanya mengandalkan teknologi, sehebat apa pun teknologi, jauh yang lebih hebat adalah partisipasi masyarakat. Kalau dua-duanya dihajar, partisipasi masyarakat sejak dari rumah tangga dengan mengurangi sampah, memanfaatkan sampah, dan mendaur ulang sampah, adu manis dengan teknologi, keren," tegas Herman.
Ia menilai persoalan sampah membutuhkan kombinasi antara investasi teknologi dan perubahan perilaku masyarakat secara masif serta berkelanjutan.
Editor : Ahmad Sayuti

