TPA Sarimukti Nyaris Kolaps, Daya Tampung Tambahan Hanya Bertahan Beberapa Minggu

Krisis daya tampung TPA Sarimukti di KBB kian mengkhawatirkan. Fasilitas pembuangan sampah utama Bandung Raya tersebut diperkirakan tak lagi mampu menampung.

TPA Sarimukti Nyaris Kolaps, Daya Tampung Tambahan Hanya Bertahan Beberapa Minggu
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jabar mengakui, kapasitas TPA Sarimukti sudah hampir habis. Sejumlah rekayasa teknis kini disiapkan untuk mempertahankan operasionalnya. (dok)

INILAHKORAN.ID - Krisis daya tampung TPA Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat (KBB) kian mengkhawatirkan. Fasilitas pembuangan sampah utama Bandung Raya tersebut diperkirakan tak lagi mampu menampung kiriman sampah pada November 2026.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jabar mengakui, kapasitas TPA Sarimukti sudah hampir habis. Sejumlah rekayasa teknis kini disiapkan untuk mempertahankan operasionalnya. Namun, langkah darurat tersebut belum menjamin keberlangsungan penampungan sampah dalam jangka panjang.

Kepala DLH Jabar Ai Saadiyah Dwidaningsih mengatakan, penambahan kapasitas menjadi pilihan yang harus ditempuh lantaran hingga kini belum tersedia fasilitas alternatif untuk menampung sampah dari wilayah Bandung Raya.

"Iya jadi memang betul, sampai saat ini pun kami sedang melakukan beberapa rekayasa teknis di TPA Sarimukti. Karena memang betul-betul sudah full ya, tetapi karena kita belum memiliki alternatif yang lain, jadi sesuai dengan arahan pimpinan, kami melakukan beberapa rekayasa," ujar Ai, Kamis (5/11/2026).

Salah satu upaya yang tengah dilakukan, menambah lapisan atau layer di Zona 5. Langkah ini telah melalui kajian bersama tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan dinyatakan masih memungkinkan secara teknis.

Meski demikian, tambahan ruang penampungan dari rekayasa tersebut diperkirakan hanya mampu bertahan beberapa minggu sebelum kembali penuh.

"Pertama peningkatan, penambahan layer di area Zona 5. Tapi ini juga kami tidak serta-merta, karena kami juga didampingi oleh tim dari ITB. Dan itu menyatakan masih memungkinkan untuk penambahan layer. Tapi itu pun tidak berlangsung lama, itu paling hanya beberapa minggu itu akan full," ucapnya.

DLH Jabar juga mempertimbangkan mengaktifkan kembali Zona 4 untuk menambah ruang pembuangan. Namun, opsi ini menghadapi persoalan konstruksi yang berpotensi membahayakan kestabilan area.

Ai menjelaskan, bagian hilir Zona 4 yang mengarah ke kolam stabilisasi belum dilengkapi konstruksi. Jika kembali dibebani sampah, kondisi tersebut dikhawatirkan memicu pergeseran struktur.

"Kami juga mencoba untuk melakukan reaktivasi di Zona 4. Memang ini berisiko ya, tapi karena sebenarnya Zona 4 itu di bagian hilirnya yang menuju kolam stabilisasi itu belum dilakukan konstruksi, jadi kalau ada penambahan beban, ini nanti akan berpotensi untuk menggeser," katanya.

Karena itu, DLH Jabar masih menghitung batas volume sampah yang memungkinkan untuk ditampung apabila Zona 4 kembali dioperasikan.

"Maka kami juga berhitung kira-kira volume berapa yang bisa kita lakukan di pembukaan atau reaktivasi Zona 4," tuturnya.

Guna mengantisipasi krisis yang lebih panjang, DLH Jabar menyiapkan optimalisasi area Zona 5 pada 2027. Sejumlah bagian yang belum dimanfaatkan akan dikembangkan setelah kebutuhan anggarannya diusulkan.

Ai menegaskan, rencana tersebut tidak diarahkan pada perluasan lahan baru. Pemprov Jabar memilih memaksimalkan area yang sudah tersedia, termasuk kemungkinan membangun konstruksi pendukung agar Zona 4 dan Zona 5 dapat dimanfaatkan secara lebih optimal.

"Kita berupaya untuk tidak menambah luasan ya. Jadi kita mengoptimalkan yang ada saja. Jadi kayak misalnya nanti Zona 5 dan Zona 4 pun kalau misalnya memungkinkan untuk direaktivasi secara masif, ini tentunya nanti konstruksinya itu yang harus dibangun terlebih dahulu," ucapnya.

Selain mengandalkan penambahan kapasitas, DLH Jabar tengah menjajaki kerja sama pengolahan 1.000 ton sampah menggunakan metode landfill mining. Teknologi ini ditujukan untuk mengolah timbunan sampah lama yang selama ini menumpuk di Sarimukti, sehingga volume material di lokasi tersebut dapat dikurangi.

Ai menilai, skema tersebut berpotensi memberikan dampak pengurangan timbunan yang lebih besar dibandingkan sekadar menambah ruang penampungan.

"Kemudian kami juga tetap dalam penjajakan kerja sama untuk bisa mengolah 1.000 ton landfill mining. Dan saya kira itu yang paling signifikan yang bisa mengurangi volume sampah di Sarimukti selain tadi penambahan kapasitas yang memang sifatnya masih sangat terbatas," paparnya.

Legok Nangka Diharapkan Jadi Solusi Jangka Panjang

Di tengah keterbatasan Sarimukti, pembangunan fasilitas pengolahan sampah regional Legok Nangka menjadi tumpuan penyelesaian persoalan sampah Bandung Raya dalam jangka panjang.

DLH Jabar menargetkan pembangunan fisik fasilitas tersebut mulai berjalan pada 2027. Saat ini, sejumlah tahapan persiapan menuju financial close masih berlangsung, termasuk penyediaan lahan untuk jalur transmisi listrik dan jaringan air baku.

Ai menyatakan optimistis, tahapan proyek Legok Nangka berjalan sesuai jadwal, sehingga konstruksi dapat dimulai tahun depan.

"Sekarang juga kita lagi pendahuluan ya untuk financial close. Kita sedang proses terus untuk penyiapan lahan transmisi, baik listrik maupun air baku, itu sekarang lagi kita berproses," katanya.

Pemprov Jabar berharap, Legok Nangka segera memasuki tahap pembangunan fisik agar dapat menjadi alternatif pengolahan sampah regional dan mengurangi ketergantungan Bandung Raya terhadap TPA Sarimukti.

"Insya Allah tahun depan itu betul-betul kita akan mulai konstruksi. Udah jalan kok, on track insyaallah," pungkasnya. 


Editor : Doni Ramdhani