Menangani Sampah dengan Mesin Uzur, DLH Kabupaten Cirebon Terus Menanti Bantuan Beko Baru
DLH Kabupaten Cirebon masih menggunakan peralatan berat yang usainya sudah uzur dan sudah tidak memungkinkan untuk membersihkan sampah di TPA
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Di balik tumpukan sampah yang menggunung di dua TPA milik Pemkab Cirebon, ada persoalan klasik yang tak kunjung terpecahkan yaitu keterbatasan alat berat. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon hingga kini masih berjibaku menangani sampah dengan peralatan yang jauh dari kata ideal.
Sekretaris DLH Kabupaten Cirebon, Fitroh mengungkapkan, upaya mendapatkan bantuan alat berat berupa beko sudah dilakukan sejak hampir satu dekade terakhir.
Sejak tahun 2016 hingga 2025, DLH secara rutin mengajukan permohonan bantuan, baik ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat maupun pemerintah pusat. Namun, seluruh pengajuan tersebut belum pernah berbuah hasil.
“Setiap tahun kami mengajukan pengadaan beko baru. Baik ke provinsi maupun pusat. Tapi sampai sekarang belum ada satu pun yang di-acc,” ujarnya, Selasa 13 Januari 2026.
Kondisi ini memaksa DLH mengandalkan alat berat bekas yang kini sering mengalami kerusakan. Saat ini, DLH Kabupaten Cirebon memiliki empat unit alat berat bekas dengan kondisi sedang. Ironisnya alat alat berat tersebut sering bermasalah secara teknis.
"Kami punya satu unit beko ukuran PC 130, dua unit PC 200, serta dua unit PC 45. Untuk penempatan, satu unit PC 45 siaga di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kubang Deleg, sementara satu unit lainnya berkeliling desa," aku Fitroh.
Beko tersebut akunya, kerap diminta bantuan oleh pemerintah desa untuk menangani persoalan sampah di wilayah masing-masing. Adapun beko PC 130 dan PC 200 difokuskan di TPA Gunung Santri.
Namun Fitroh mengaku, masalah utama dari penggunaan alat berat bekas adalah tingginya biaya perawatan. Saat ini, beko-beko lama tersebut sering rusak dan membutuhkan perbaikan berulang. Biaya perawatan pun membengkak setiap tahun dan imbasnya menggerus anggaran operasional dinas.
“Kalau alat beratnya baru, itu beda cerita. Dengan empat alat berat baru, biaya perawatan dalam setahun tidak sampai Rp50 juta. Tapi karena yang kita pakai ini bekas, kerusakannya sering dan biayanya jadi besar,” akunya.
Ironisnya papar Fitroh, saat ini DLH hanya memiliki satu unit beko PC 200 yang tergolong relatif baru, yakni keluaran tahun 2020. Sementara sisanya merupakan keluaran tahun 2019 ke bawah. Padahal, harga satu unit beko PC 200 baru saat ini berkisar di angka Rp2 miliar.
"Ini angka yang sulit dijangkau jika hanya mengandalkan APBD Kabupaten Cirebon. Fokus anggaran kan banyak ke infrastruktur jalan. Jadi mau bagaimana lagi," ucap Fitroh
Menurut perhitungan internal, Fitroh menyebut idealnya DLH Kabupaten Cirebon memiliki sedikitnya 8 unit alat berat baru. Ini supaya penanganan sampah dapat dilakukan lebih cepat dan efektif. Baik di TPA maupun di wilayah desa-desa.
Alhasil, di tengah meningkatnya volume sampah dan tuntutan pelayanan publik yang semakin tinggi, DLH Kabupaten Cirebon masih harus bersabar. Harapan akan hadirnya beko baru terus digantungkan pada kebijakan pemerintah, entah itu provinsi maupun pusat. Alhasil, saat ini DLH tetap bekerja dengan alat seadanya demi menjaga Cirebon tetap bersih.
Editor : Ahmad Sayuti
