Menanti Perbedaan di Helaran HJB 537

Pada 3 Juni tahun ini, Kota Bogor menginjak usia 537 tahun. Seperti biasa, puncak peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) selalu digelar melalui festival seni dan budaya atau dikenal dengan sebutan Helaran.

Menanti Perbedaan di Helaran HJB 537
Foto: Net

INILAH, Bogor – Pada 3 Juni tahun ini, Kota Bogor menginjak usia 537 tahun. Seperti biasa, puncak peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) selalu digelar melalui festival seni dan budaya atau dikenal dengan sebutan Helaran.

Helaran tidak bisa dilaksanakan bertepatan pada HJB karena saat itu sedang masuk bulan Ramadan. Pemkot Bogor pun menggeser helaran ke 30 Juni 2019. Tema yang diusung tahun ini adalah “Melalui Seni Budaya, Bogor Guyub dan Damai”.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Bogor Shahlan Rasyidi mengatakan, rute Helaran HJB ke-537 berbeda dengan tahun sebelumnya. Apabila tahun sebelumnya memulai pawai dari Air Mancur dan berakhir di Taman Kencana, tahun ini titik awal dari Balai Kota Bogor dan rangkaian selesai di GOR Pajajaran.

“Tahun ini start dari Balaikota sekitar pukul 07.45 WIB. Lalu pawai menuju Jalan Jend Sudirman. Iring-iringan diawali pesilat, lalu pasukan Kujang Pengarak Pajajaran, Tari Rampak Kendang Wanoja. Ini menggambarkan iringan Raja Pajajaran ketika peralihan dari Galuh ke Pakuan,” Syahlan didampingi Kasi Pengembangan Seni dan Kelembagaan Disparbud Kota Bogor Sanusi kepada INILAH, Kamis (27/6/2019).

Menurut Syahlan, barisan berikutnya ada Wali Kota Bogor Bima Arya, Wakil Wali Kota Bogor Dedie Rachim, dan unsur Muspida Kota Bogor, yang menjadi pasukan penunggang kuda. Kemudian disusul para istri Muspida Kota Bogor, tamu undangan, yang menggunakan kereta kencana, yakni 2 delman roda 4 dan 8 delman biasa.

“Selanjutnya ada iring-iringan SKPD memakai kostum nusantara, komunitas lintas agama, komunitas sepeda ontel, liong, barongsai, reog ponorogo. Disusuk pawai 6 kecamatan yang mengangkat kearifan lokal masing-masing dengan jampana, misalnya Bogor Selatan ada duren rancamaya, Bogor Utara ada asinan cabe. Kecamatan harus mengekspose potensinya ke masyarakat,” jelasnya.

Syahlan menuturkan, terakhir ada atraksi dari 6 sanggar dari luar Kota Bogor, yaitu egrang Karawang, genye Purwakaŕta, badingkut Kabupaten Bandung Barat (KBB), ondel-ondel boboko Ciamis, pewayangan Kabupaten Bogor, serta sisingaan Subang.

“Pembeda tahun ini, panggung utama melintas Jalan Sudirman. Jadi tamu sudah bisa menyaksikan iring-iringan yang melalui Jalan Sudirman dari bekokan Istana Bogor. Ini juga menjadi petanda iring-iringan peserta helaran selesai ketika mengolongi panggung utama,” ujarnya.

Syahlan mengatakan, helaran HJB merupakan salah satu kegiatan yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat. Diharapkan kegiatan tahunan ini pun sebagai fasilitatis seniman dalam menampilkan keahliannya.

“Semua unsur beperan melestarikan seni budaya. Ini juga menjadi ajang silaturahmi komunitas dan masyarakat, serta ruang ekspresi pelaku seni. Ditambah promosi produk seni budaya Kota Bogor kepada wisatawan, selain Cap Go Meh. Makanya targetnya bisa meningkatkan kunjungan wisatawan,” pungkasnya. (Dery Fitriadi Ginanjar)


Editor : DeryFG