Menanti Pertemuan Trump dengan Xi

Dunia menanti pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di sela-sela G20 Summit di Osaka, Jepang. Dan, tentu berharap hasilnya positif. Jika sebaliknya?

Menanti Pertemuan Trump dengan Xi
Foto: Net

INILAH, Jakarta – Dunia menanti pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di sela-sela G20 Summit di Osaka, Jepang. Dan, tentu berharap hasilnya positif. Jika sebaliknya?

Pertemuan Group of Twenty, atau Kelompok Dua Puluh (G20) di Osaka, Jepang pada 28-29 Juni 2019 kali ini menjadi amat penting. Bukan karena 20 pemimpin negara ekonomi maju dan berkembang utama ini akan berupaya mengatasi tantangan ekonomi global, tapi lebih dari itu ada yang menarik: pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di sela-sela G20 Summit.

Menarik dan penting, karena dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia ini selama 18 bulan saling mengenakan bea masuk impor terhadap berbagai produk senilai ratusan miliar dolar AS.

Perang dagang AS-China tak hanya merugikan kedua negara, tapi juga berdampak buruk terhadap negara-negara berkembang, tak terkecuali Indonesia. Neraca perdagangan Indonesia terancam lebih lebar, karena selama ini AS dan China merupakan pasar produk ekspor terbesar Indonesia. Risiko di depan mata adalah ini: ekspor Indonesia ke China melemah jika pertumbuhan ekonomi Negeri Tirai Bambu ini melambat. Selain itu, ada pengalihan beberapa barang ekspor dari China yang tadinya ke AS menjadi ke Indonesia, seperti baja dan aluminium.

Di sisi lain, pemerintahan Presiden Donald Trump saat ini sedang mengevaluasi fasilitas generalized system of preference (GSP) yang diberikan kepada Indonesia. GSP adalah perlakuan khusus impor yang diberikan kepada sejumlah negara berkembang.

Ada 124 produk Indonesia, termasuk kayu plywood, cotton, produk-produk pertanian, udang dan kepiting yang masuk ke AS lewat fasilitas GSP. Jika GSP dicabut, Indonesia mau tidak mau harus membayar sebesar US$ 1,7 miliar atau sekitar Rp 25 triliun per tahun jika 124 produk itu ingin tetap masuk ke AS.

Itulah kenapa, pertemuan Trump dan Xi pada hari Sabtu (29/6/2019) di Osaka, Jepang sangat dinantikan oleh negara-negara di dunia. Sebab, hasilnya sangat memengaruhi ekonomi dan pasar keuangan global.

Pertemuan Trump dan Xi menjadi sangat penting, apalagi para pemimpin negara G20 akan menyatakan dukungan pada perdagangan bebas guna mencapai pertumbuhan ekonomi global yang kuat.

Dua pertemuan itu akan sangat menentukan arah pasar keuangan kemana sepanjang enam bulan ke depan, termasuk langkah apa yang akan diambil oleh Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed) dan bank sentral lainnya. Hari Kamis, 20 Juni 2019 Bank Indonesia masih tetap mempertahankan suku bunga acuan, atau BI-7 Days Reverse Repo Rate (BI-7DRRR) di level 6%.

Banyak kalangan memperkirakan, untuk sementara Trump dan Xi akan menahan pengenaan bea impor baru, lalu melanjutkan ke meja perundingan.

Jika perkiraan ini menjadi kenyataan, pasar keuangan akan menyambut positif.

Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin terlihat optimis bahwa kedua negara akan mencapai titik temu untuk menyudahi perang dagang. "Kami telah merampungkan sekitar 90% (perjanjian) dan saya rasa ada jalan untuk menyelesaikan ini," ujarnya kepada CNBC International.

Ketegangan antara kedua negara meningkat bulan lalu setelah AS dan China kembali saling menaikkan bea impor terhadap berbagai produk setelah perundingan mereka menemui jalan buntu.

Bagaimana jika sebaliknya? Bagaimana jika tensi perang dagang kedua negara tidak turun? Arend Kapteyn, Kepala Riset Ekonomi Global UBS menulis, pertumbuhan ekonomi global bakal anjlok. "Harga minyak anjlok seperti pada pertengahan 1980-an dan krisis 'Tequila' (krisis ekonomi Meksiko yang merembet ke negara-negara Amerika Latin) di tahun 1990-an," tulis Kapteyn.

Mudah-mudahan saja Trump dan Xi tidak saling emosi, tapi lebih berkepala dingin. (INILAHCOM)


Editor : DeryFG