Menengok Pariwisata Berbasis Budaya di Kulon Progo

Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan mengembangkan pariwisata di kawasan Bukit Menoreh berbasis budaya dan alam, supaya tidak lekang oleh perubahan zaman.

Menengok Pariwisata Berbasis Budaya di Kulon Progo
Bukit Menoreh, Kulon Progo, DIY. (Antara Foto)

INILAH, Kulon Progo - Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, akan mengembangkan pariwisata di kawasan Bukit Menoreh berbasis budaya dan alam, supaya tidak lekang oleh perubahan zaman.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kulon Progo Agus Langgeng Basuki di Kulon Progo, Jumat (28/6/2019), mengatakan pariwisata yang hanya mengandalkan panorama keindahan alam, kurang kompetitif.

Artinya pada saat tertentu akan terkena imbas oleh waktu dan bersaing dengan daerah lain yang mengembangkan hal yang sama.

"Pariwisata yang berkelanjutan dan ke depan bisa menjadi andalan kita, yakni pariwisata yang berbasis budaya," kata Langgeng.

Menurut dia, pariwisata yang berbasis budaya ini akan menarik karena tidak lekang oleh waktu. Orang dan generasi yang mendatang akan tertarik, begitu juga wisatawan mancanegara. Mereka akan lebih tertarik wisata berbasis budaya, kalau disuruh memilih antara wisata yang berbasis murni panorama dengan wisata yang berbasis budaya.

"Kalau wisata murni mengandalkan panorama alam, semua orang bisa menciptakan, supaya wisata Kulon Progo tidak hanya kompetitif, maka harus berbasis budaya supaya memiliki nilai lebih," katanya.

Langgeng mencontohkan pengembangan wisata berbasis budaya, yakni objek wisata Gua Kiskendo dipadukan potensi budaya lokal dengan memunculkan tarian Sugriwo Subali. Demikian juga daerah lain. "Budaya ini sangat luas, tidak hanya seni tari, tapi juga bisa lagu," katanya.

Kepala Bidang Pemasaran dan Promosi Wisata Dinas Pariwisata Kulon Progo Yudono mengatakan saat ini, Kulon Progo sedang mengembangkan pariwisata berbasis budaya, tetapi tidak menutup kemungkinan mengembangkan wisata kuliner.

"Kami sedang promosikan wisata kuliner supaya menjadi tujuan wisata baru di Kulon Progo," kata Yudono.

Dia mengatakan salah satu wisata kuliner yang mulai dirintis, yakni wisata kuliner cokelat dan pegagan di Kalibawang dan wisata kopi di Samigaluh. Dispar sudah mempromosikan wisata kuliner tersebut ke berbagai instansi dan agen wisata. "Wisata kuliner sudah kami promosikan," katanya.

Menurut dia, wisata kuliner ini belum banyak dilirik oleh masyarakat dan investor. Hal ini memang menjadi pekerjaan rumah bagi Dispar untuk menggiatkan promosi potensi wisata kuliner di Kulon Progo. "Promosi sudah kami gencarkan, namun memang belum ada tanggapan," katanya. (Antara)


Editor : suroprapanca