Mengenal Lebih Dekat Kralawi Sita Peneliti Perempuan di PPTK Gambung
Pemberdayaan perempuan menjadi salah salah satu pekerjaan yang menyenangkan bagi Kralawi Sita, salah seorang peneliti di bidang sosial ekonomi di Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung di Desa Mekarsari Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pemberdayaan perempuan menjadi salah salah satu pekerjaan yang menyenangkan bagi Kralawi Sita, salah seorang peneliti di bidang sosial ekonomi di Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) Gambung di Desa Mekarsari Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung.
Perempuan asli Bantul Yogyakarta ini telah sembilan tahun mengabdikan diri sebagai peneliti di PPTK Gambung. Salah satu hasil penelitiannya adalah pemberdayaan perempuan dibidang pembuatan kain batik dengan motif Kina dan Teh.
“Saya memang orangnya suka sekali dalam pekerjaan-pekerjaan sosial. Makanya ketika ditimpatkan di Gambung ini saya betah, apalagi dalam keseharian kami bergaul dan berinteraksi dengan semua masyarakat disana," kata Kralawi Sita yang merupakan lulusan Univesitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta itu kepada INILAHKORAN.ID di Gambung, Senin 22 Desember 2025.
Kecintaannya terhadap pekerjaan sosial inilah yang membuat ia berpikir untuk memberdayakan masyarakat sekitar, terutama kaum perempuannya, agar kehidupan keluarga mereka lebih sejahtera. Kata dia, terobosan yang dibuat oleh PPTK Gambung dalam hal pemberdayaan perempuan dibidang pembuatan kain batik ini juga untuk menjaga ekosistem alam sekitarnya. Agar mereka memililiki penghidupan atau mata pencaharian dengan tidak hanya mengandalkan hasil dari bekerja di perkebunan teh.
“Kami ingin membangun ekosistem agar masyarakat ini memiliki penghidupan atau mata pencaharian yang lain, tanpa meninggalkan perkebunannya. Jadi kami mencoba menghadirkan mata pencaharian lain tanpa meninggalkan pekerjaan utamanya juga. Pekerjaan ini dilakukan oleh para istri-istri yang dirumah,bahkan ada juga anak-anak muda dan penyandang disabilitas,” ujar Sita yang mengaku betah tinggal di Gambung yang berudara sejuk dengan pemandangan alam yang masih asri itu.
Dimulai sejak 2023 lalu, lanjut Sita, PPTK Gambung bersama salah satu mitranya, memberikan pelatihan dan pembinaan kepada kaum perempuan yang ada dikawasan itu, mereka diajarkan cara membuat keterampilan membatik. Dari mulai batik tulis dengan menggunakan canting hingga batik cap. Motif dasar yang kembangkan oleh kaum perempuan di komunitas ini adalah Teh dan Kina, yang merupakan identitas yang kuat bagi masyarakat Kabupaten Bandung.
“Awalnya mereka kesulitan, tapi berkat kegigihan dalam belajar akhirnya mereka bisa membuat batik yang bagus-bagus. Ada yang bagus dengan kemampuan batik tulis, ada juga yang bagus atau lebih senang membatik dengan cap, dan ada juga yang senang mengerjakan bagian-bagian lainnya, tapi intinya mereka sangat antusias dan semangat,” kata Sita yang mengaku betah tinggal di Gambung itu.
Saat ini, lanjut Sita, terdapat 15 orang perempuan yang tergabung dalam komunitas pembuatan batik binaan dari PPTK Gambung ini. Mereka adalah istri-istri pegawai, masyarakat sekitar, ada juga perempuan yang telah lanjut usia dan ada juga penyandang disabilitas.
Dalam pembinaan kaum perempuan Gambung dalam membatik ini, PPTK juga menggandeng salah satu mitranya, yakni Ziaraya. Mitranya inilah yang melakukan pengembangan usaha serta inovasi-inovasi produk. Alhasil, beragam motif batik dengan dasar motif Teh dan Kina bisa dipersembahkan dihadapan konsumen.
“Pewarna kain yang kami gunakan juga sangat alami. Yakni terbuat dari tanaman kina dan tanaman-tanaman lainnya yang memiliki warna. Karena memang tanaman kina ini sangat unik serta banyak manfaatnya, bukan sekedar untuk obat-obatan saja, tapi warnanya juga bagus sekali. Jadi memang tidak salah kalau Kabupaten Bandung itu punya logo daun Kina, karena di Indonesia hanya ada di Bandung loh tanaman Kina ini,” katanya.
Disinggung mengenai tempat bekerja dan tempat tinggalnya yang jauh dari keramaian kota, Sita justru merasa bersyukur ia dan keluarganya bisa berada dialam yang benar-benar sehat.
“Bersyukur kita memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Ini menurut saya adalah hidup yang sehat," katanya.
Sebagai seorang peneliti, Sita tentu mempunyai harapan. Terutama dukungan dan fasilitas untuk mendukung pekerjaannya sebagai peneliti bidang sosial ekonomi.
Agar lebih mutual dan memberikan keuntungan yang terkait dengan komoditas teh dan kina. Apalagi, kina adalah tanaman yang hanya ada di Bandung. Sehingga, tanaman kina ini harus benar-benar diteliti dan dikembangkan, jangan sampai punah di Bandung ini.
Editor : Doni Ramdhani


