Mengenal Tren Diet Zero Calorie Asal Korea: Berat Badan Turun, Aman untuk Kesehatan?

Tren di Korea Selatan selalu jadi topik dan banyak diikuti netizen di Indonesia, salah satunya diet Zero Calorie

Mengenal Tren Diet Zero Calorie Asal Korea: Berat Badan Turun, Aman untuk Kesehatan?
ilustrasi diet Zero Calorie

INILAHKORAN. ID - tren media sosial kerap membius anak muda untuk mencoba beragam gaya hidup baru, mulai dari dance challenge, gaya busana, kuliner kekinian, hingga tren Diet ekstrem. 

Salah satu yang belakangan ini populer di Korea Selatan dan mulai merambah Indonesia adalah tren diet Zero Calorie atau mengonsumsi makanan berlabel bebas kalori.

Banyak orang mengira produk berlabel 'zero sugar' atau 'zero calorie' adalah solusi instan untuk menurunkan berat badan tanpa merasa bersalah. Namun, di balik kepopulerannya, tren diet ini menyimpan sejumlah mitos serta fakta kesehatan yang perlu dipahami secara mendalam.

Mitos vs Fakta di Balik Label 'Zero'

Praktik diet bebas kalori kerap kali memicu salah kaprah di masyarakat. Berikut adalah fakta medis di balik label produk olahan yang sering dijumpai:

Bebas Gula Belum Tentu Bebas Kalori

Label zero sugar (bebas gula) tidak serta-merta membuat suatu produk menjadi zero calorie (bebas kalori). Produk tersebut sering kali tetap mengandung kalori dari zat gizi lain seperti lemak atau protein.

Peran Pemanis Buatan

Untuk menjaga cita rasa manis tanpa menggunakan gula pasir biasa, produsen umumnya mengganti bahan manis dengan pemanis buatan atau alkohol gula, seperti erythritol, allulose, maupun ekstrak stevia.

Tetap Makanan Olahan Pabrik (Heavily Processed)

Meskipun rendah kalori, produk-produk ini tetap tergolong ultra-processed food yang umumnya mengandung bahan pengawet, pengemulsi (emulsifier), serta kadar natrium (garam) yang tinggi.

Eksperimen Seharian Konsumsi Produk "Zero": Antara Rasa dan Efek Samping
Pengalaman menguji coba diet ini secara penuh selama seharian memberikan gambaran langsung mengenai dampak negatifnya bagi tubuh.

Dari segi variasi dan rasa, beberapa produk olahan inovatif memang berhasil memanjakan lidah. Misalnya, gimbap konjac rasa iga yang memiliki rasa gurih lezat hingga mampu menyamarkan tekstur asli konjac. Namun, tak semua produk berhasil memuaskan rasa. Produk lain seperti mi janchiguksu bebas gluten justru terasa kaku dan memiliki tekstur kenyal yang menyerupai plastik.

Tantangan utama dari diet ini terletak pada efek samping fisik. Ketika asupan kalori dipangkas secara drastis hingga hanya mencapai sekitar 890 kalori dalam sehari, tubuh merespons dengan memicu rasa lapar yang sangat hebat pada sore hari.

Selain itu, konsumsi pemanis buatan (sugar alcohol) dalam jumlah banyak memicu gangguan pencernaan, mulai dari perut kembung hingga timbulnya rasa tidak nyaman dan ganjal pada perut di akhir hari.

Mampukah Diet Ini Menolong Menurunkan Berat Badan?

Secara angka di atas timbangan, eksperimen mengonsumsi produk bebas kalori selama seharian memang mencatatkan penurunan berat badan sebanyak 0,5 kg. Namun, penurunan instan tersebut dibayar mahal dengan kondisi tubuh yang terasa lemas, tidak puas, serta munculnya masalah pada saluran cerna.

Para ahli gizi menekankan bahwa produk berlabel "zero" pada dasarnya sangat bagus dimanfaatkan sebagai makanan pendamping, camilan, atau pengganti sebagian porsi makan bagi masyarakat yang ingin membatasi asupan gula dan kalori harian.

Kendati demikian, produk olahan berlabel zero tidak pernah dirancang untuk menggantikan makanan utama (real food) secara utuh. Tubuh manusia tetap memerlukan nutrisi alami yang utuh, seperti serat alami, vitamin, mineral, serta zat gizi makro yang tidak dapat digantikan oleh makanan sintetis buatan pabrik.

Sebelum mengikuti tren yang viral di media sosial, ada baiknya masyarakat lebih bijak mengenali kebutuhan tubuh masing-masing agar kesehatan tidak menjadi taruhannya.

Sumber:https://www.koreajoongangdaily.com/lifestyle/is-zero-the-hero-living-off-the-latest-food-craze-for-a-day/12779608

 


Editor : Ahmad Sayuti